Jumat, 19 Desember 2014

Sejarah Es Cendol Elizabeth Perlu Kamu Tau

Kenapa Namanya Elizabeth?


Siapakah pengusaha dibalik sukses es cendol Elizabeth. Minuman satu ini menjadi salah satu kegemaran jika berkunjung ke Bandung. Es Cendol Elizabeth menawarkan minuman cendol biasa. Bahan cendolnya berupa cendol hijau sedikit tua, irisan nangka, santan kental, serutan es, dan tentunya gula merah. Terasa segar di tenggorokan apalagi ketika musim panas. Meski telah banyak pedagang berjualan ternyata si empunya tak merasa mewaralabakan. 

Loh, siapa pemilik aslinya? Apakah es cendol ini dimiliki seorang wanita bernama Elizabeth atau bukan.

Usut punya usut, ternyata usaha tersebut dimulai dari H. Rohman. Dia mengaku bahwa es cendol yang punya nama sama di pinggiran jalan hanya mendompleng. Itu bukanlah es cendol buatannya. Mereka itu hanyalah ikut- ikutan menempelkan nama Es Cendol Elizabeth di gerobaknya. Mereka tak mengambil cendol dari si empunya. Dan, Rahman juga tak mengakui itu buatannya.

Jika ada masalah tanggung sendiri akibatnya. Es cendol buatannya yanga asli adalah yang ada di Jalan Otista, Bandung, di depan Toko Elizabeth. Jika bulan Ramadhan jualannya akan tutup. Jadi bagi anda yang biasanya minum di bulan Ramadhan itu bukanlah miliknya. Disini di es cendol asli Elizabeth merupakan olahan milik H. Rohman. Anda bisa mendatangi tempatnya di Jl. Inhoftank No.64 Bandung. Lokasinya tidak begitu jauh dari Jalan Otista, tepatnya ada di ujung Jalan Otista.

Selain itu, ada cabangnya, yang asli ada dikawasan Otista, Cihampelas, Merdeka, Buah Batu, Setrasari, Pahlawan, Kopo, Majalaya, serta di luar Bandung berada di Tasikmalaya. Seperti bagiamana larisnya orang menggunakan nama usahany, es cendol asli memang punya kelebihan. Berbeda dengan usaha es cendol biasa dimana terletak pada bahannya. Rahman tak tanggung- tanggung memanjakan lidah pelanggan.

Es cendol ini memiliki perbedaan pada kadar gula merah dan santan yang lebih kental. Kemudian ditambah dari bahan berkualitas yang alami. Cendol Elizabeth terbuat dari sagu. Warna hijaunya terbuat dari daun suji. Sementara itu wanginya berasal dari daun pandan. Jadi produknya memang asli dari bahan alami. Rahman lantas menambahkan jika tak menemukan pewarna alami, dia lebih baik membiarkannya saja. Dia lantas akan membiarkan warnanya putih seperti sagu.

Meski tak lulus SD, Rohman sadar kualitas menjadi nomor satu. Bahan- bahan didapatkan dicarinya sendiri dari pabriknya sendiri. Untuk sagu didapatnya dari Kepulauan Riau dan gulanya dari Cilacap, Jawa Tengah. Semenara itu untuk daun suji dan pandan berasal dari kebunnya sendiri dari Ciparay dan Majalaya, Kab. Bandung. Adapun untuk kegiatan membeli bahannya dilakukan setiap dua bulan. Dia akan membeli 4 ton gula merah dan sagu sebanyak 5 ton.

Karena bahan utamanya berkualitas jadilah harganya lebih mahal. Harganya melonjak lebih mahal dari es cendol berbahan zat kimia. Pembeli harus merogoh kocek Rp.2.500 untuk segelas es cendol. Kalau anda mau yang paket jumbo, per- bungkus seberat 1,5 kg, akan dijualnya Rp.8000. Karena keunggulan itulah maka salah satu grup waralaba asal Jogja mengajaknya bekerja sama. Mereka menggandeng Es Cendol Elizabeth untuk setiap cabangnya di Yogyakarta.

Sejarah Elizabeth


Perjalanan bisnisnya tidak mudah loh. Perjalanan H. Rohman sebagai penjual es cendol panjang dan berliku. Dia telah mandiri semenjak ayahnya meninggal. Ketika itu dia masih duduk dibangku sekolah dasar kelas 2 di Cilacap. Rohman kecil haruslah putus sekolah dan mulai mencari nafkah sendiri. Menginjak remaja pada tahun 1972, ia nekat pergi ke Bandung, berjualan es cendol mengikuti jejak pamannya. Melalui bimbingan sang pamanlah es cendol Elizabeth lahir.

Dibawah bimbingan pamannya berjualan es cendol dengan gerobak. Dia berkeliling sejak tahun 1972 sampai tahun 1980.

"Saya keliling sejak tahun 1972 sampai tahun 1980, mulai dari Astanaanyar sampai Dago. Lama-kelamaan sampai di jalan Otista es cendol sudah habis sama pelanggan, jadi tidak ke Dago lagi. Akhirnya saya mangkal di Otista," kata Rohman melanjutkan.

Tiga tahunan dia belajar berbisnis es cendol dari pamannya. Ia akhirnya memutuskan untuk membuka usaha sendiri. Ketika itulah ia mulai berkreasi mencari- cari resepnya sendiri. Saat itu modalnya hanya terdiri dari satu kompor, satu tempat wadah cendol, satu gerobak, 2 kilo gula, 1 kilo sagu, dan 5 butir kelapa. Semua hanya 200 ribu untuk modal bisnis cendol. Dan karena uletnya, dua bulan kemudian modal tersebut bisa balik.

Rohman bercerita selama berjualan grobaknya kerap diamankan oleh satuan pamong praja. Tercatat sudah tiga kali gerobaknya diamankan. Kadang gerobak dan pemiliknya yang diamankan akan diturunkan jauh dari daerah perkotaan. Jika bertanya dari mana asal nama Elizabeth. Rohman melanjutkan bahwa dulu ketika ia mangkal di Jalan Otista. Dia mangkal di depan rumah milik orang China bernama Eli. Ibu Eli sendiri berbisnis tas yang bernama Elizabeth.

Rohman lah yang sering membantu membawakan barang- barang hingga ke dalam rumah. Pada 1978, ibu Eli berinisiatif untuk berjualan di depan rumah. Bu Eli berjualan didepan rumah denga menggunakan meja disamping gerobak cendolnya. Saat itu Ibu Eli menyuruh Rohman menawarkan tasnya kepada pembeli es cendolnya. Suatu hari ada yang membeli tas, namun memaksa mendapatkan cendol gratis.

"Saya bilang ga boleh. Kalau cendolnya punya saya, tasnya punya ibu. Dia tetap maksa dan akhirnya saya nurut setelah saya melapor ke Ibu Eli dan beliau bersedia membayar cendolnya" kata H. Rahman.

Kejadian seperti berulang kembali. Bahkan menyebar sebagai rumor membeli tas Elizabeth dapat segelas es cendol Elizabeth gratis. Maka seiring kesuksesan Elizabeth, terkenal pula lah es cendol Elizabeth. Akhirnya Ibu Eli menyuruh Rohman membuat kartu nama es cendol dengan nama es cendol Elizabeth. Selanjutnya menuruti permintaan dari konsumen terus meningkat, maka pada tahun 1996, ia mendirikan restoran yang khusus menjual dan melayani pembelian es cendol.

Restoran Es Cendol Elizabeth didirikan di Ll. Inhoftank no.64 Bandung. Produk buatannya juga ditambah tidak hanya es cendol, ada es goyobond, batagor, bakso tahu dan mie bakso. Kini, jika sedang libur atau setiap hari di bulan Ramadhan omzetnya bisa mencapai 10 juta hingga 15 juta. Meski omzetnya lumayan dia mengaku tidak berhenti berkreasi. Usahanya yang didirikan dengan penuh semangat kerja keras, kini, pria yang tak tamat SD ini menjadi sosok yang patut kita tiru.

Artikel Terbaru Kami