Senin, 29 Desember 2014

Efek Samping Terlalu Lama di Sosmed


Kenapa sosial media berbahaya (Ilmiah)

 
Hal yang perlu anda ketahui bahwa 1/3 manusi di bumi adalah mereka penggemar sosial media. Sangat jelas sosial media menjadi kultur baru dimana setiap orang di bumi bisa melakukannya. Sudah pernah dengar berita bahwa Ratu Inggris kini punya akun Twitter, bahkan Paus pun tak lepas dari Twitter. Para terroris juga tak lepas dari segala dampak sosial media, sebut saja ISIS, menggunakan sosial media sebagai salah satu sanjata dalam usaha perekrutan. Ih serem.

Sebelum sosial media benar- benar merusak hidup kamu. Sebelum Facebook akhirnya ikut merusak rumah tangga kamu. Maka kami menyuguhkan berbagai efek dari sosial media. Pertama, efek- negatif dari sosial media menurut versi majalah online, Provoke.

1. Otak bisa ketagihan

Apakah anda orang- orang ini: 

- Pertama kali buka browser pasti cek Facebook
- Lagi ngerjain tugas, dikit- dikit buka Facebook
- Lagi naik ojek, eh, Twitter notif loe bunyi
- Ijab kabul, sahnya ya di status Path
- Lagi buka Facebook, Path, Twitter, dkk. Nggak bisa lepas!

Internet Addiction Disorder (IAD) adalah jenis penyakit mental yang baru- baru ini mulai menggila. Alasanya banyak, tapi menurut Provoke, satu hal yang membuat ialah perasaan akan penghargaan, perhatian, serta komentar yang mudah. Kamu cukup menggunggah sesuatu yang "cantik", maka puluhan orang akan ngantri memberi komentar. Kamu bayangin aja dunia nyata. Itu gak semudah itu.

Penelitian juga membuktikan kalau 5-10 persen pengguna internet di dunia ini merasa kesulitan lepas dari media sosial. Menekan tombol Log Out jadi tombol 'danger' bahkan kebanyakan enggan me- log out, jadilah beberapa orang kena batunya karena ulah usil. Sekali-kalinya log out juga ya untuk pindah akun, bukan malah duduk dirumah pegang buku.

2. Konsentrasi mudah pecah karena multi- tasking

- Sambil ngeliat Facebook di PC, kita ngescroll feed Instagram di ponsel,
- Sambil peluk pacar, sambil ngatur tongsis buat selfie
- Sambil nyetir motor kopling, kita bikin kultwit soal safety riding
- Sambil nonton tv, kita cek email di tablet.

Terlalu banyak memaki gadget buat sosial media, aplikasi- aplikasi ini pasti akan mengisi waktu senggang anda. Bahkan tak ada waktu lagi buat berkedip. Apalagi semuanya menawarkan kemudahan akses. Dari satu gadget pindah gadget lain, dari satu aplikasi ke aplikasi lain, dan dari sekedar bikin status sampai juga upload foto selfi. Kita seolah punya banyak tangan buat itu semua.

Perlu diketahui! Kegiatan multi- tasking ternyata bisa memberikan efek buruk. Terutama bagi kalian cowok, kita adalah mahluk yang perlu fokus. Pernah dengar bahwa seorang cowok maen game lupa mengangkat telephon pacarnya. Nah, bagi kalian yang punya kebiasaan multi- tasking dengan berbagai gadget, baik cowok ataupun cewek akan rentan akan distaraksi. Sesuatu yang mengejutkan bisa merusak konsentrai yang sudah bercabang- cabang.

3. Otak seolah peka dengan notifikasi

- Ada bunyi "tik tok", langsung ngecek hape. Padahal itu bunyi bel rumah
- Ada geter-geter, langsung ngecek hape. padahal itu gempa bumi.
- Ada yang nyolek-nyolek kantong, langsung ngecek hape. padahal itu copet. 

Media sosial selalu memberikan notifikasi tiap kali ada update ternyata berdampak negatif pada sistem syaraf kita. Karena terbiasa melihat ponsel tiap kali tanda notifikasi masuk, kita jadi kerap mengira tanda apa pun (bunyi, getaran, dll) yang mengena ke indera, kita kira sebagai notifikasi dari media sosial yang harus segera kita tanggapi. Gejala inilah yang disebut sebagai phantom vibration syndrome. Dalam penelitian lanjut yang dilakukan oleh Michelee Drouin, 89% dari 290 sampel penelitiannya pernah mengalami sindrom ini.

4. Bikin hati senang

Menurut data TollFreeForwarding, twitteran dalam waktu 10 menit bisa memicu keluarnya hormon oksitosin sebanyak 13%. Hormon oksitosin ini dikenal sebagai hormon yang bikin kita hepi. Penelitian lain juga bilang kalau bersosmed- ria emang bikin kita senang dan puas karena bersosmed itu 80% melibatkan diri kita berinteraksi dengan orang banyak.

Hal ini menyebabkan kita gemar mengekspresikan diri dan terobsesi pada diri kita sendiri. Gejala tersebut bisa merangsang tubuh untuk mengeluarkan hormone dopamine, sebuah hormon yang keluar kita sangat merasa senang, puas dan orgasme.

Artikel Terbaru Kami