Selasa, 09 Desember 2014

DJ Angger Dimas Memulai dari Belasan Tahun


Profil Angger Dimas Otodidak Dj


Kesuksesan selalu ada cerita dibaliknya. Angger Dimas, Disc Jockey muda Indonesia, punya kisahnya juga. Dulu ketika masih kecil Angger kerap diolok- olok. Masalahnya sih sepele yaitu dia yang tidak bisa bermain gitar. Sepulang sekolah wajahnya akan muram, bocah 7 tahun itu merengek minta diajari gitar. Ayahnya pun menanggapinya serius permintaan putranya tersebut.

Setiap pulang kantor ayah Angger mengajari putranya. Melalui sesi latihan bersama sang ayah, ia jadi jatuh cinta kepada dunia musik. Rasa cintanya membuat Angger terus belajar musik. "Saya berlatih dua jam sehari. Main kunci dasar sampai ngerti cara berimprovisasi," ungkapnya.

Dia semakin mahir bermain gitar. Disisi lain ayahnya mulai memperkenalkan berbagai musik antimainstream seperti musik dari band asal Jerman Heatwave, band yang sedikit vokalnya dan lebih banyak bermain di insturmen. Sebulan sudah Angger bermain gitar dan teman- temannya mulai mengakui dirinya. Dia akhirnya semakin bersemangat.

Musik elektronik


Diusia 13 tahun, Angger menempati posisi lead guitar di band Indies bernama Tanpa Mana. Namun, band itu akhirnya bubar di tahun 2008. Berhenti dari Tanpa Mana putra pasangan Agus Riyanto dan Tri Rahayu tersebut tak berhenti bermain musik. Dia masih memiliki rasa ingin tahu mengenai beragam jenis genre musik. Hingga suatu hari, dia mengenal genre electronic dance music (EDM), aneh kenapa dia bisa menikmati musik tanpa vokal itu.

Angger berpikit musik elektronik itu universal begitu kiranya. Dengan berbekal instrumen saja orang- orang di seluruh penjuru dunia bisa menikmati. Tak perlu adanya bahasa yang membatasi musik ini. Angger pun langsung mengunduh aplikasi Fruity Loops, sebuah software pengedit musik. Tidak butuh waktu lama ia bisa menguasai alat tersebut. Angger pun menjadi disc jockey dan membuat sejumlah lagu elektronik. Lagu- lagu hasil racikannya dilirik sebuah kelab di daerah Jakarta Selatan.

Selayaknya orang yang baru di dunia yang baru, pastilah ada jatuhnya. Karena belajar secara otodidak di rumah, ia kerap diremehkan pemilik klub malam tempatnya bermain. Namun, hal seperti itu tak menyurutkan semangatnya untuk belajar. Hasilnya dia menjadi Dj favorit di tempat itu.

"Ada saatnya yang menonton pertunjukan saya nggak menikmati musik saya. Itu nusuk banget," ujarnya

Karir Angger meroket begitu cepat hingga membuat beberapa para DJ mengapresiasinya. Apresiasi yang kemudian juga datang dari luar negeri. Mereka menyukai house music racikan Angger itu. Di awal 2009 -an, dia ditawari bergabung dengan Vicious Record yang sangat tersohor di Australia. "Pertama ke luar negeri ya buat kerja. Alhamdulillah, mereka suka musik saya," papar pria kelahiran 1 Maret 1988 tersebut. Meski terlah go international, Angger tetap mengasah skill DJ-nya.

Hasilnya, album perdananya, Duck Army, telah dimainkan beberapa DJ papan atas seperti Laidback Luke, Tocadisco, dan Joachim Garraud.

Karir meroket


Di sebuah rumah empat lantai, di lantas paling atas, dijadikanya sebuah ruangan khusus. Angger menyulap satu lantai tersebut menjadi ruang meditasinya. Di tempat itulah musik karyanya diciptakan. Ada sebuah komputer berlayar lebar, gitar listrik dan akustik, serta tentu saja sebuah turn table -alat pemutar musik DJ. Alunan sebuah lagu, Bohemian Rhapsody dari Queen terdengar lembut.

Bulan September 2008, seorang DJ kenamaan bernama Amerika, Steve Aoki, mengaku Dj Angger telah menjadi idolanya. "Kaget juga, ini orang ternyata dengerin remix saya. Padahal, saat itu dia (Steve) adalah DJ yang mendekati posisi 100 di dunia," ucap Angger spontan.

Lantas Steve mengajak Angger berkolaborasi dan mengikuti tur ke Amerika Utara ketika keduanya bertemu di Jakarta. Tur saat musim dingin itu begitu membekas. Sebab, selama berkeliling di Amerika Utara, Angger mengaku tidak mandi. "Pemerintah Ottawa ternyata pelit air panas. Jadi, saya pilih nggak mandi berhari-hari karena nggak kuat dinginnya air di sana," ungkapnya. Pada 2013, Steve dan Angger mengeluarkan album remix bertajuk Phat Brams.

Angger juga bekerja sama mengerjakan beberapa single milik Steve. Dan yang paling booming adalah lagu berjudul Steve Jobs. Mereka menggandeng raper kenamaan Iggy Azalea untuk membuat lagu berjudul Beat Down. Ia pun turut ambil bagian tampil di video klipnya.

"Pas itu mengenakan topi serigala dan scarf hitam putih sambil bilang beat down terus-terusan," terang sulung dua bersaudara tersebut lantas tergelak.

"If Nasi Goreng, the mash up of rice, egg and vegetables is Indonesia’s nation food dish then DJ and Angger represents Indonesia’s national music dish with his mash up of chopped beats and pumping synths that are topped off with some Dutch inspired spicy sounds!"

Diatas adalah kalimat atau slogan andalan milik Angger di setiap akun profil miliknya di berbagai media. Melalui EDM (Electronic Dance Music), dia mencoba membawa nama Indonesia ke dunia internasional. Meski berprestasi, sarjana hukum lulusan Universitas Padjadjaran tersebut memilih tetap low profile. Angger juga menolak senioritas dalam bermusik elektronik karena tau betul bagaimana memulai dari bawah. "Karena itu, saya sangat menghargai siapa pun yang terjun ke dunia EDM," papar Angger.

Artikel Terbaru Kami