Jumat, 26 Desember 2014

Profil Dea Valencia Pengusaha Cantik Batik Kultur


Bagi kamu yang baru lulus kuliah pasti akan merasa minder. Gadis manis satu ini sudah sukses besar meski baru berusia 19 tahun. Jika pendapatan kamu per- bulan cuma beberapa juta, dia punya miliaran rupiah yang dihasilkan. Apa rahasianya? Dea Valencia, gadis manis 19 tahun, sukses berkat ketekunannya di dunia bisnis batik. Diberi nama bisnis batik budaya, Batik Kultur, kisah batik lawas yang dipadu- padankan. Dea pun tak segan berbagi kisah bagaimana dan kapan usahanya ini berjalan.

Batik kuno


Sejak usia 16 tahun Dea sudah memiliki ketertarikan terhadapa pola batik. Namun, ketidak mampuannya membeli batik sendiri membuatnya memutar otak. Dea lantas membuka- buka kembali lemari, menemukan batik- batik lawas yang mungkin tak sesuai lagi. Batik- batik lawas yang sudah mulai rusak atau mungkin tak cukup lagi dipakai. Batik- batik itu dibentangkannya lalu dipotong- potong. Ia mulai menggunting sesuai pola yang ia sukai, dan membordirnya. Ia ciptakan pakaian dengan hiasan batik lawas berbordir tadi.

"Ini pakai batik lawas yang udah lama disimpan di lemari misalnya. Kan sering rusak, entah dimakan ngengat ataupun bolong kena banjir. Ya nggak bisa disimpan lagi kan? Makanya itu saya gunting-guntingin, misalnya bunga-bunganya. Nah dari situ saya bordir dan digabung dengan kain lain," ungkap Dea untuk situs online beritasatu.com di acara Wirausaha Muda Mandiri, Istora Senayan, Jakarta Pusat.

Ternyata dari pola- pola itu terbentuklah pakaian baru. Inilah cikal- bakal Batik Kultural. Awal produksinya, Dea hanya membuat 20 potong pakaian. Kini? Ada 800 potong Batik Kultur yang dipasarkan per bulannya. Dengan harga Rp 250.000 - 1,2 juta, nilainya setara Rp 3,5 M per tahun atau Rp 300 juta per bulan. Dia benar- benar memulai usahanya dari nol. Bahkan dia sendirilah yang menjadi model dadakan untuk Batik Kultur. Kebetulan gadis cantik dan manis ini memang cocok jika menjadi model profesional.


Dea yang membuat desain setiap produknya sendiri meski ia mengaku tak bisa menggambar. Kemudian ia bergaya di depan kamera memakai produk miliknya sendiri.

"Desainernya saya sendiri padahal nggak bisa gambar. Imajinasi. Saya ada satu orang yang diandalkan, kerja sama dengan saya. Apa yang ada di otak saya transfer ke dia untuk dijadikan gambar," kata Dea.

Prinsip yang dipegangnya sangatlah menarik dan patut dicontoh. Dia mengaku tak akan menjual produk yang dia tidak suka. "Kalau sudah jadi pasti saya bikin prototype ukuran saya sendiri. Saya coba, saya suka apa enggak? Karena saya nggak mau jual barang yang saya sendiri nggak suka. Jadi barangnya itu kalau dilihat tidak terlalu nyentrik, lebih seperti pakaian sehari-hari," imbuh gadis asli Semarang.

Tak berhenti di Batik ia mulai merambah kain tenun ikat. Meski lebih sulit, dia tak gentar bahkan rela datang ke pusatnya di Jepara, tepatnya di Desa Troso yang merupakan sentra tenun ikat. Jika dulu hanya membeli beberapa meter kain, kini sekali kulakan Dea membeli tak kurang dari 400 meter tenun ikat. Sebagai alumni program studi Sistem Informasi Universitas Multimedia Nusantara, Dea paham betul kekuatan internet untuk pemasaran. Batik Kultur 95 persen memanfaatkan jaringan internet dalam urusan marketing.

Karena tidak punya pengalaman membatik, ia mulai belajar membatik sambil jalan katanya. "Sebelumnya tidak ada background membatik ataupun keluarga yang memiliki usaha batik. Saya memilih usaha ini karena hobi dan kecintaan saya terhadap batik Indonesia, yang ditularkan dari ibu saya. Dan juga, keinginan saya untuk mengoleksi batik yang bagus-bagus, tapi enggak ada uangnya," kata Dea mengawali ceritanya.

Dari sekedar menggunakan batik lama yang didaur ulang, Dea kini punya bengkel sendiri. Sebuah bengkel yang terletak di kawasan Semarang, Jawa Tengah. Saat ini, ia tengah menyiapkan pembangunan butiknya. "Mayoritas produk (harganya) Rp 400.000-Rp 600.000," imbuhnya. Batik- batik ini kemudian dipasarkan ke luar dan dalam negeri dengan usaha sendiri atau pemerintah, tepatnya dari Kementrian Perdagangan dan Dewan Kerjinan Nasional (Dakernas).

Pelanggannya saat ini tersebar di seluruh Indonesia maupun luar negeri yang mayoritas pembelinya dari daerah Jakarta untuk Indonesia. Untuk luar negeri, jangkauannya sudah bisa sampai ke Australia, Amerika Serikat, Inggris, Norwegia, Jepang, Belanda, Jerman, dan banyak negara lainnya. Saat memulai usahanya itu, Dea hanya bermodalkan sekitar Rp 50 juta. Kini, setiap bulan ia mampu memproduksi sekira 800 potong pakaian batik. Upah karyawannya dihitung dengan sistem harian dan dibayarkan setiap bulan.

Berjualan di sosial media


Dea fokus menjalankan online marketing. Dia  menjadikan Facebook dan Instagram sebagai katalog dan media komunikasi dengan konsumennya. Dari online, referensi Batik Kultur akhirnya menyebar dari mulut ke mulut. Integrasi dunia maya dan dunia nyata menyukseskan bisnis Dea. Bukannya tanpa hambatan bisnis yang dikerjakannya. Dea pernah berhenti produksi dan depresi selama berminggu- minggu karena satu masalah hak paten.

"Hambatan... dulu pernah masalah di hak paten. Sebenarnya dulu namanya bukan Batik Kultur by Dea Valencia tapi Sinok Culture. Tapi waktu diurus nama mereknya ternyata sudah ada yang pakai merek Sinok. Saya sempat stress selama seminggu. Karena nama Sinok sangat berarti buat saya. Sinok adalah nama panggilan saya sejak kecil," tutur Dea.

Melihat segala pencapaian Dea sekarang pantaslah kita mengapresiasi. Sulit bagi kita mempercayai bahwa sukses batik ini ada ditangan seorang gadis 19 tahun yang kini telah lulus menjadi sarjana komputer. "Saya dulu nggak tahu kenapa sama ibu 22 bulan udah disekolahkan. Umur lima tahun udah masuk SD. SMP dua tahun, SMA dua tahu. Jadi itu 15 tahun masuk kuliah. Tiga setengah tahun kuliah, jadi umur 18 udah lulus," jelas Dea.

Meski masih muda dan memiliki pendapatan miliaran rupiah, Dea tak melupakan lingkungan sekitar. Menarik jika mendengar pengakuan Dea tentang beberapa karyawannya. "Saya juga mempekerjakan karyawan yang misal nggak ada kaki tapi tangannya masih bisa kerja. Penjahitnya ada enam yang tuna rungu dan tuna wicara. Pertimbangannya? Giving back to society (timbal balik kepada masyarakat)," terang Dea.

Menarik jika dilihat ternyata mayoritas yang dipekerjakan di Batik Kultur adalah mereka yang memiliki keterbatasan fisik. Bisnis yang dimulai tiga tahun silam telah memasuki semester ke 4. Hingga saat ini Dea telah mempekerjakan 36 karyawan, kebanyakan warga sekitar jebolan dari LPATR (Lembaga Pendidikan Anak Tuna Rungu) kejuruan jahit. Ada juga beberapa anggota kami yang lulusan RC Jebres, Solo, sambung Dea. Mempekerjakan tunarungu menjadi cerita sendiri bagi perjalanan usaha Dea.

Terlebih lagi, para tunarungu itu bekerja di bagian jahit dan potong, meskipun kebanyakan dari mereka telah mendapatkan pendidikan kejuruan jahit. "Memang awalnya merupakan tantangan bagi saya. Namun, dengan melakukan beberapa penyesuaian dalam proses pengerjaan, kami dapat mengatasi masalah komunikasi dengan memperbanyak komunikasi melalui media tulisan," jelasnya.

Dea lantas berkisah salah satu karyawannya bernama Ari. Kali pertama bekerja di batik Dea, waktu itu usia Ari baru 17 tahun. Jarak rumahnya yang cukup jauh dari workshop membuat Ari memilih memakai angkot atau menaiki sepeda onthel tiap kali bekerja. Sekarang, lanjut Dea, Ari sudah mampu mencicil motor sendiri. "Pertama kali lihat Ari naik motor baru yang dia sangat sayangi, ada perasaan yang tidak bisa tergambarkan," ucap Dea.

"Ada juga pengalaman dengan pegawai saya yang lain, yaitu Mbak Tumisih. Mbak Tumisih yang tangannya hingga siku saja dan kakinya hingga lutut saja memiliki semangat yang sangat saya kagumi," kata dia.

Dia menceritakan, mulai dari makan, melepas jahitan, menulis, memasukkan benang ke dalam jarum, hingga mengirim SMS, dia bisa melakukannya sendiri. Demikian juga dengan Sriwati. Gaji pertama Sriwati yang didapatnya dari Dea seluruhnya dikirimkan ke sang ibu yang berada di desa. "Selain untuk membalas budi kepada ibu, Mbak Sriwati juga ingin membuktikan apabila bisa bekerja dan menghasilkan seperti yang lainnya," ujarnya.

Terakhir, ia sangat mengapresiasi tindakan pemerintah yang telah melakukan pembinaan terhadap mereka melalui Balai Besar Rehabilitasi Sentrum Bina Daksa (BBRSBD/RC) Jebres, Solo. Beberapa pegawai saya seperti Mbak Sriwati, Mbak Tumisih, dan Mbak Nikmah diberikan pengarahan dan pendidikan untuk dapat menjadi lebih berguna bagi keluarga dan masyarakat," pungkasnya. Sampai sekarang gadis manis ini masih sibuk dengan bisnisnya yang terus melesat.

Artikel Terbaru Kami