Sabtu, 13 Desember 2014

Dosen Sukses Berbisnis Rumahan Coklat Coklatku


Bisnis coklat memang semanis untungnya. Sebagai negara ketiga terbesar penghasil biji coklat, nampaknya para wirausahawan muda pantas untuk melirik prospeknya. Kami sendiri mencatat sudah ada banyak bisnis yang dibangun dari coklat. Dari Yogyakarta, Makassar, dan puncaknya di Jakarta. Berikut ini kisah unik lain tentang bisnis coklat. Yang manisnya itu bisa menggoda, benar kan?

Alasan karena suka, Lin Oktris lantas berbisnis coklat. Awalnya cuma hobi saja sih. Dia sudah lima tahun belakangan coba- coba membuat coklat di dapurnya. Caranya coklat cukup dibuat kecil- kecil, yang lucu, sehingga menarik untuk dinikmati. Ada coklat yang berbentuk siput, daun, kura- kura, bola- bola dan adapula boneka. Coklat Lin diminati terutama oleh anak- anak.

Sejak awal dosen Universitas Negeri Jakarta (UNJ) itu selalu memilih coklat berkualitas bagus. Hasilnya coklat buatannya pun sedap. Coklatnya tidak mudah lumer. Tidak membuat tenggorokan sakit atau terasa gatal. Dia menyebut coklatnya sanggup bertahan hingga 3 bulan. Lin engga mencampur coklatnya dengan bahan rum ataupun pengawet. Dia khawatir karena penggemar coklat rumahannya adalah anak- anak.

"Kasihan anak- anak kalau sampai makan bahan pengawet," ujarnya singkat.

Jujur saja, usaha coklatnya cuma hobi diantara kesibukannya. Dia memang masih bekerja, namun semangat kewirausahaan itu ada. Lin bekerja sebagai staf keuangan di sekolah terkenal di kawasan Jakarta Selatan dan juga seorang dosen di UNJ.  Awalnya cuma hobi membawa coklat manisnya kemudian dijual- jual ke orang, hingga rasa ingin berbisnis muncul. Dia ingin punya toko coklat sendiri. Dan akhrinya,  keinginan itu terwujud pada akhir Desember 2006.

Tak sendiri, dia bekerja sama dengan seorang rekan, Lin lantas membuka sebuah toko kecil coklat di JL. Margonda Raya, Depok.  Setiap hari libur, istri dari Ahmad Risa selalu sibuk di tokonya tersebut. Dia akan menyambangi tokonya bernama toko Cokelatku.

Di toko kecilnya banyak coklat warna- warni dipajang. Ada coklat dengan keju, kacang almond, mete, dan kurma. Harganya dibuat agar terjangkau. Untuk cokelat berukuran mungil akan dijual Lin masih dalam kisaran antara Rp 500 hingga Rp 1.500.  Lin juga menambahkan pesanan cokelat untuk pesta, ulang tahun atau cinderamata. Selain di Depok, Lin berencana meluaskan jaringan dengan membuka toko lagi di kawasan Jakarta Timur.

Menurut penelusuran kami, tokonya yang di Jawa Timur, tepatnya di Malang lah yang paling laris. Di lokasi barunya itu, ia membuka toko plus tenda-tenda sehingga pembeli dapat menikmati cokelat dengan nyaman. Fokusnya kini bukan hanya cokelat- cokelat mungil, ada pula disediakan pula tart, tiramisu, brownies, dan makanan lain berbau cokelat. Dia juga menawarkan produknya melalui internet, bahkan pesan- antar! Jika anda berminat kunjungilah coklat-cantik-coklatku.blogspot.com.

Perempuan asal Batu Sangkar, Sumatra Barat, 7 Oktober 1978 ini, menyebut membuat berbagai coklat itu menyenangkan. Tambahnya modalnya juga murah dan mudah. Karena memang kita tau usaha macam coklat itu selalu laris disukai berbagai umur. Kesan bahwa coklat makanan orang berduit bisa dipatahkan, anda bisa membuatnya, karena memang kita penghasil coklat terbesar ketiga dunia. Modal awal Lin, katanya sih, cuma 10 juta rupiah namun sudah disuport promosi rumahan.

Anda tak harus membangun toko dulu. Cobalah tawarkan dari orang sekitar karena usaha sukses berasal dari lingkungan terkecil dulu.

Artikel Terbaru Kami