Selasa, 23 Desember 2014

Biografi Mark Zuckerberg Penemu Facebook


Sejarah Facebook


Mark Zuckerberg lahir 14 Mei 1989, di White Plains, New York. Dia tumbuh di daerah sub- urban di New York, Dobby Ferry. Nama lengkapnya Mark Elliot Zuckerberg, kini jadi seorang pengusaha miliarder sekaligus developer. Dia terlahir dari sebuah keluarga yang nyaman, berkecukupan, dan terdidik. Ayahnya, Edward Zuckerberg, memiliki klinik gigi di rumahya. Ibunya, Karen, bekerja sebagai psikiater sebelum melahirkan empat orang anak; Mark, Randi, Donna, dan Arielle Zuckerberg.

Dia merupakan anak ke dua dari empat bersaudara. Dari semua keluarga, ia menjadi satu- satunya anak laki- laki yang sukses dalam pendidikan. Mark telah menikmati dunia komputer bahkan sejak masih duduk di sekolah dasar. Saat itu, ia yang masih 12 tahun, telah mampu menjalankan Atari BASIC, lalu menciptakan software pesan bernama Zuckcnet. Sebuah program yang menghubungkan semua komputer dalam sistem satu koneksi. Setiap komputer dalam satu rumah akan saling berbicara dan berkirim pesan seketika.

Ayahnya menggunakan program miliknya ketika sibuk di kliniknya. Dia tidak perlu mendengar resepsionis berterika kencang ketika pasien datang berkat itu. Selain membuat software serba guna, Mark juga dikenal pandai membuat membuat game. Kebanyakan game dan alat komunikasi buatanya hanyalah untuk sekedar bersenang- senang. Terkadang ia cukup mendengar ide konyol teman temannya dan jadilah. Teman Mark sangat bersenang- senang dari kejeniusan seorang anak bernama Mark Zuckerberg.

"Saya memiliki banyak teman yang juga artis", dia berkata.

"Mereka berkunjung, menggambar sesuatu, dan saya membuatnya menjadi permainan," jelas Mark.

Sang ayah sigap menyadari bahwa Mark benar- benarlah jenius. Dan, bakatnya di ilmu komputer semakin terasah ketika ayahnya mendatangkan seorang guru privat bernama David Newman. Dia ditugasi Edward mengajari anaknya yang masih jadi bocah sekolah dasar ilmu komputer kelas kuliahan. Setelah masuk ke sekolah menengah, ia telah sukses menciptakan aplikasi cerdas pemutar musik MP3, Synapse. Aplikasi yang bisa menetukan pilihan atas musik berdasarkan keadaan pengguna

Aplikasi ini benar disukai bahkan oleh perusahaan- perusahaan besar seperti Microsoft dan AOL. Mereka benar tertarik lalu menawarkan ribuan dollar. Seperti Facebook, Mark dengan gampangnya menolak permintaan tersebut enteng. Ia bahkan segera menolak ajakan perusahaan teknologi tersebut untuk memulai sebuah perusahaan bersama. Seperti itu selanjutnya, hari- hari Mark dipenuhi penolakan  atas berbagai tawaran yang datang untuknya.

Ia bahkan kesempatan untuk bekerja di sebuah perusahaan IT dunia. Memilih untuk melanjutkan kuliah, segera saja, ia masuk sekolah di Phillips Exeter Academy, sebuah sekolah persiapan masuk universitas di New Hampsire untuk masuk universitas ternama.

Dari Philips Exeter, Mark menunjukan bakat dibidang lain yaitu olah raga. Dia pernah menjadi ketua tim anggar sekolah, tetapi tidak merubah fakta; dia adalah komputer jenius. Dari sekolah ini pula, Mark mendapatkan berbagai sorotan atas karyanya dan gayanya. Ia menjadi terkanal sebagai seorang manusia komputer. Jika dipikir ulang, Mark memang menyukai sorotan, jika tidak maka Facebook tak akan pernah ada.

Perusahaan sendiri


Lulus dari Exeter di 2002, Mark melanjutkan ke univeritas paling terkenal di dunia, Harvard University. Sebagai mahasiswa baru, Mark telah dikenal dari CourseMatch, ciptaanya, ketika baru masuk ke asrama. CourseMatch sendiri adalah software membantu mahasiswa menentukan mata kuliah saat itu. Suatu hari di 2003, saat itu masih di musim panas, Mark yang menderita insomnias mulai berlaku gila. Dia berbicara tentang cintanya serta menulis ceritanya di blog pribadi. Dari ide CourseMatch, tumbuh ide iseng bernama FaceSmash sebagai tindak lanjut temuannya di masa sekolah.

Kaduanya, CourseMatch dan FaceSmash masih sama tentang menentukan yang terbaik dari beberapa pilihan. Namun, FaceSmash juga berdasarkan situs ranking bernama hotornot.com, situs yang memberikan poling prbadi tentang foto wanita. Dari polling, maka internet akan menentukan siapa yang jadi terseksi dalam foto. Ia memutuskan meretas seluruh isi kampus Harvard dari satu asrama ke asrama lain. Ia masuk ketempat dimana para mahasiswi mengupload foto untuk profil sekolah. Semuanya kemudian dijadikan satu dalam sebuah program

Ia hanya butuh beberapa menit untuk membuat program. Kemudian mulai meretas seluruh foto yang ada, dan digunakannya pada Facesmah.com. Hasilnya? Dua foto wanita dipilih secara acak akan tampil di depan komputer. Sistem akan mendeteksi dari setiap klik pengunjung, menentukan siapa paling hot. Facesmash ini dibuat secara sederhana tapi dengan judal menggoda. "Siapa yang paling hot?" sebuah tulisan siap diatas dua foto mahasiswi Harvard.

Proses ini dalam satu ayunan penuh jadi sebuah viral. Situs facesmash telah dikunjungi oleh sebagian besar siswa di Harvard. Ketika jumlah pengunjung melebihi batas, server jatuh karena overload dan mati. Mark lalu tampil di hadapan komite peretasan komputer. Tentu saja tidak ada yang mengatakan Mark Zuckerberg "Kerja bagus!" Dan ia menerima tindakan disiplin, dan telah melihat bahwa hal-hal semacam menyebabkan bunga badai dalam masyarakat.

Sebelumnya, sepuluh bulan sebelum Facesmash, Narendra telah memiliki ide tentang sosial media. Dia telah terlebih dahulu berpikir menciptakan sosial media khusus mahasiswa Harvard. Membuatnya menjadi sosial media untuk mereka yang terpilih, masuk ke sekolah paling bergengsi. Sebagai tambahan akun tersebut akan menggunakan alamat email milik Harvard. Lebih lanjut, dia bersama rekan akhirnya mampu menemukan seorang "Alien" yang bisa mengerjakan ini. Hingga Narendra menemukan dia, Mark Zuckerberg, sang jenius dari entah berantah.

Mendengar popularitas FaceSmash milik Zuckerberg, tiga orang mahasiswa tertarik untuk memulai berbisnis denganya. Mereka, Divya Narendra dan kembar Cameron dan Tyler Winklevoss, menawarkan ide Harvard Connection. Mereka mengikuti jejak Zuckerberg dari Synapse, CourseMatch dan terakhir, FaceSmash sendiri. Yang terkahir ini, memberikan kejutan mampu menembus 450 pengunjung dan 22.000 foto terlihat selama  4 jam online.

Winklevoss bersaudara hanya akan berkerja sebagai invstor, mereka adalah putra dari seorang Howard Winklevoss, salah satu konsultan sukses. Anak orang kaya yang mudah mengeluarkan uang demi apapun. Konsep yang diberikan Narendra bernama HarvardConnection, yang kini menjadi ConnectU. Inti dari sosial media ini benar- benar seperti Facebook, mahasiwa Harvard akan mengupload foto, membuat profil, dan membagi link- link menarik.

Mark yang sadar kerja kerasnya lebih berharga daripada sekedar situs kencan, dimana memang semuanya ia kerjakan sendiri. Dia ingin ciptaanya menjadi lebih besar dari sekedar menyerahkan semua ke Winklevoss. Jadilah ia mengajak teman- teman dekatnya bergabung; Dustin Moskovitz, Chris Hughes, dan Eduardo. Mereka berencana untuk menciptakan sosial media sendiri.

Ia memiliki konsep lebih luas yaitu memindahkan semua kegiatan sosial di dunia maya. Itu akan mengijinkan pengguna membuat profil, memuat foto dan bersosialisasi. Tanggal 4 Februari 2004, Mark segera mendaftar nama The Facebook. Di awal, sosial media ini hanya bekerja di wilayah kampus Harvard. Eduardo Severin menjadi pelopor untuk lebih jauh. Dia menyadari media sosial ini telah memiliki 4.000 pengguna aktif dan masih terus tumbuh. Mereka butuh lebih banyak programer lagi sebagai pendukung.

Beberapa waktu kemudian, semua orang bisa mendaftar dengan syarat tertentu. Syarat memiliki email .edu serta menggunakan foto asli jadi andalan. Beberapa bulan telah berjalan, The Facebook mengundang lebih banyak pengguna dari berbagai kampus. Jika bukan foto asli, sistem situs akan bekerja menghapus. Dari memakai email .edu, yang berarti mereka yang bersekolah, The Facebook lebih dalam masuk secara umum. Di tahun 2005, resmi sebuah perusahaan kecil lahir, bernama Facebook.Inc terus berkembang sangat pesat.

Perusahaan itu kemudian disuntik modal kapital dari sebuah firma, Accel Partners. Accel berinvestasi senilai $12, 7 juta dimana perusahaan ini juga memiliki akses ke universitas lain. Zuckerberg mendapat akses mudah dari Harvard ke Stanford dan sekolah di seluruh Amerika. Satu minggu setelah peluncuran, ternyata Winklevoss bersaudara telah mendaftarkan tuntutan. Mereka menganggap situs The Facebook mengambil ide HarvardConnection.

Jadilah meraka bersitegang hingga di 2005, Winklevoss bersaudara dan Divya Narendra mengultimatum serta mencoba menjatuhkan Facebook dengan berbagai cara, termasuk melapor ke administrasi kampus. Gagal. Mereka tetap mencoba sembari meluncurkan situs milik mereka sendiri. Apa yang membuat sukses Facebook sekarang, ada di tangan seorang Sean Parker sang penghubung. Pertengahan 2004, ia dilaporkan menjadi asisten Zuckerberg secara tak resmi.

Dia lah yang memperkenalkan seorang Peter Thiel, pendiri PayPal, yang kemudian menjadi investor paling pertama bahkan sebelum Accel. Sean pula yang memberikan saran untuk merubah nama menjadi Facebook menghilangkan The. Dan, Theil berinvestasi senilai $500.000 di Facebook. Pada 24 Oktober 2007, Microsoft membeli 1,6% saham atau $240 juta, menaikan nilai Facebook menjadi $15 triliun. Tahun 2009, perusahaan mengalami pembaikan dari sektor keuangan.

November 2010, nilai Facebook diperkirakan menjadi $41 triliun seketika itu. Nilai situs jejaring sosial bernama Facebook kini lebih besar dari eBay, dan ketiga terbesar di dunia setelah Google dan Amazon. Apakah Winklevoss bersaudara dan Nerandra berhenti menuntut Facebook? Meski gagal pada tuntutan di awal tuntutan, mereka tetap ngotot. Bahkan kejaksaan terpaksa memanggil tim forensik untuk memastikan adakah sistem Facebook yang meniru ConnectU.

Hasilnya masih tidak nyata dan jelas didepan umum. Pada tahun 2009, Mark setuju untuk membayar $ 45 juta ($ 20 juta dalam bentuk tunai, dan sisanya saham Facebook) sebagai bagian dari penyelesaian di luar pengadilan. Kasus ini ditutup. Pada saat itu situs ConnectU hanya memiliki pengguna kurang dari 100.000, sedangkan Facebook telah memiliki sekitar 150 juta pengguna.

Meski sukses, Facebook menuai kritik dan kecaman atas kebijakan. Sebagai contoh, perusahaan disebut- sebut membolehkan iklan kekerasan atas perempuan. Diikuti tuntutan dari 100 firma pengacara, menuntut dengan 57.000 tweets dan 4.900 email. Mereka menuntut perubahan atas nama permasalahan ini. Facebook setuju tetapi bukan perkara mudah mengatur situs sebesar ini. Facebook dilaporkan masih dipenuhi muatan yang sama, meski telah memiliki ribuan pekerja.

Di tahun 2011 -an, Winklevoss bersaudara masih tidak tenang dan memaksa mengajukan permohonan di Pengadilan Banding AS, tetapi mereka ditolak pengadilan ulang.

Artikel Terbaru Kami