Minggu, 14 Desember 2014

Bisnis Animasi Tumbuh dalam Keterbatasan


Pengusaha Animasi


Jadi pengusaha itu tentang apa yang kita kuasai dan cintai. Ini kisah seorang wanita kelahiran 20 Maret 1980 pecinta game dan animasi, namanya Marlin Sugama. Dia merupakan sedikit dari orang yang sukses berjuang di bisnis non- mainstream. Dia mengaku hanya menjalani hidupnya sebagai seorang hobi bermain game dan pecinta buku fantasi akut. Tapi, ia mengaku tidak begitu suka buku komik.

"Hobi saya adalah alasan terbesar untuk memasuki industri game, animasi dan komik. Hingga sekarang saya masih seorang avid gamer, moviegoer, dan suka baca buku apa pun, termasuk komik," ujarnya.

Hobi bermain game merupakan alasan terbesar dirinya masuk ke dunia game, komik, dan animasi. Dia memulai semuanya di tahun 2003 silam. Waktu itu, Marlin bersama beberapa teman mengikuti sebuah lomba game. Mereka bersama mengerjakan sebuah game untuk diikut sertakan dalam lomba tersebut, itu adalah sebuah lomba game tingkat nasional yang diadakan sebuah majalah game. Singkat cerita mereka menang. Dan, berkat usaha mereka banyak investor berdatangan.

"Sejak kecil saya ingin menjadi storyteller dan walaupun latar belakang pendidikan tidak sesuai dengan profesi saya sekarang, saya tetap menjadi storyteller melalui produk animasi dan komik yang saya tulis," Marlin melanjutkan.

Tahun 2003, Marlin bertemu seseorang yang punya kegemaran yang sama. Mereka saling bertukar pikiran tentang apa yang akan mereka lakukan. Dia lah Andi Martin, sosok yang kemudian menjadi suaminya kelak. Mereka berencana membangun studio game sendiri. Mereka bersama seorang teman bernama Ardiansyah akhirnya membuka satu studio sendiri.

Usaha mereka diberi nama Altermyth. Hanya bertahan tiga tahun saja, dan akhirnya kolaps. Meski gagal, ini tidak membuat mereka berhenti. Mereka membuka usaha lagi serupa yang diberi nama Main Studio. Apa yang menjadi modal ialah pengalaman buruk mereka. Mereka belajar banyak dari kegagalan bisnis milik Altermyth. Usaha ini bukan usaha mudah loh. Mereka mengucurkan dana 100 juta sebagai modal awal.

Bicara soal pasar, pada jamannya, dunia game dan animasi belum terlalu berkembang. Mereka tak mudah untuk menemukan konsumen. Modal untuk promosi jadi paling banyak. Di saat yang sama ada kesempatan untuk mereka. Sebuah lomba INA ICT Award di tahun 2007. Marlin membidik acara itu dengan berharap mereka bisa membantu portfolio bisnisnya. Disini lahirlah tokoh Si Hebring yang memenangkan award bergensi tersebut.

"Jadi, Si Hebring ini,  konsepnya universal  agar  bisa diterima  seluruh  lapisan masyarakat," kata Marlin menjelaskan. Lebih lanjut, Si Hebring hanyalah super hero yang baru memiliki kekuatan dari luar. Dia tak tau cara untuk mempergunakannya.

Kisah tokoh Si Hebring jadi sebuah batu loncatan bagi Main Studio. Berbagai usaha dijalankan berdasarkan brand ini. Dari berbisnis game, aksesoris, film animasi, semua usaha komersial telah dilakoni. Melalui tokoh tersebut Main Studio dilirik banyak pihak dari luar negeri. Kebanyakan konsumen dari negara Amerika Serikat, Inggris dan india.

Nama- nama perusahaan besar semacam Nokia, Miniclip.com, Games2 Win dan sebagainya, tercatat menjadi pelanggan tetap jasa animasi dan game dari Main Studio. Usaha Marlin akhirnya tercatat sukses membukukan 500 juta per- bulan. Tak berhenti disitu. Marlin juga tercatat menulis beberapa buku.

Profil pengusaha


Marlin mengaku sudah menyukai dunia anak- anak ini sejak kecil. Sejak balita bahkan, tambahnya, bahwa dia selalu menikmati acara kartun anak- anak. Itulah mengapa dia memiliki imajinasi tinggi tentang animasi dan buku fiksi. Sedangkan untuk game dia baru menyadari di tahun 1988 ketika ia dibelikan console game pertama berupa console Atari. Dia menyukai game yang punya alur cerita sebagai medianya bermain game tersebut.

"Saya suka games yang memakai "alur cerita" sebagai medium koneksi dengan pemainnya dan games "problem solving". Sejauh ini games favorit saya adalah Final Fantasy 7, Heavy Rain, Diablo 3, Sim City dan Roler Coaster Tycoon," ujar Marlin.

Sebagai seorang ibu yang punya anak, ia masih lah sama. Marlin masih hidup di dunia game. Kecintaan sang suami, dirinya, dan anak- anak akhirnya menjadi kelucuan. Ketika mereka berebut untuk bermain game satu sama lain. "Setiap hari kami rebutan games, tapi akhirnya kami bagi-bagi untuk menyiasatinya, iPad, iPhone dan console serta TV-nya jadi milik anak-anak. Saya dan suami main di PC dan laptop," ujar Marlin sambil tertawa ringan.

Awalnya karena prihatin melihat televisi yang isinya animasi luar yang tak cocok dengan budaya sendiri. Dia bersama sang suami mulai membuat tokoh Hebring. Apalagi lagu cinta- cintaan yang sangat masif di televisi membuatnya semakin membuatnya bersemangat. Di pertengahan 2000 -an tidak adanya super hero lokal lah yang menjadi pasar mereka. Mereka pun mencoba dari sebuah animasi pendek di You Tube.

Di Main Studio lah tokoh- tokoh seperti Hebring lahir. Banyak usaha coba diraih studio animasi ini. Tidak hanya berhenti pada film animasi atau game. Ada produk mainan yang menjadi sasaran juga. Disini, Merlin bekerja sebagai penulis naskah. Sedangkan sang suami akan memvisualkan tulisan menjadi karakter 3D. Ia merasa apa yang dilakukannya merupakan panggilan hidupnya.

Marlin memilih strategi yang berbeda- beda pada setiap produk. Ada cara berupa web-comic yang bisa dibaca gratis. Dimana, Hebring di distribusikan sebagai konten salah satu provider internet, komik cetak Hebring di distribusikan oleh Gramedia, dan animasi didistribusikan indie di Youtube. Hingga saat ini, Marlin mengaku tengah mencari investor yang tepat untuk mengangkat Hebring menjadi serial cerita animasi TV.

Untuk masa depan bisnisnya, Marlin berharap Main Studio yang dibangunnya akan menjadi seperti halnya Disneyland atau Ghibli Museum.

Artikel Terbaru Kami