Senin, 29 Desember 2014

CEO Termuda Intel Kisah Printer Braille


Rasa ingin tau Shubham Banerjee


Shubham Banerjee, CEO 13 tahun, pendiri perusahaan Braigo Labs, pembuat printer untuk Braille pertama. Seorang ahli mesin yang mampu membuat sesuatu yang tidak dia pahami. Dia normal. Banerjee bahkan tidak tau arti kata Braille hingga tahun lalu.Semuanya ada karena rasa ingin tahu. Rasa ingin tau bagaimana untuk menyelesaikan suatu permasalahan. 

Kala itu, ia berpikir bagaimana penyandang tunanetra bisa membaca. Jadi, seperti anak- anak SMP lainnya, ia langsung bertanya kepada orang tuanya.

Respon ayahnya: "Google it!"

Banerjee mulai mencari- cari di dunia maya. Dan, Ia menamukan fakta miris, betapa mahalnya harga printer untuk Braille. Biasanya satu printer dijual $2.000. Dari perasaan tak nyaman akan kenyataan. Ia malah jadi semakin penasaran tentang huruf Braille. Bagaimana buku- buku untuk mereka yang berkebutuhan khusus ini begitu mahalnya.

Huruf Braille memang beda dengan menulis biasa. Apalagi cara mencetaknya dalam kertas. Dibutuhkan satu produksi khusus membuat sistem penulisan taktil yang distandarisasi untuk tunanetra.

"Ketika saya menemukan biaya printer Braille, saya sangat terkejut," kata Banerjee untuk Business Insider. 

"Aku hanya ingin membantu tunanetra. Aku punya kit Lego Robotics, jadi aku bertanya, 'Mengapa tidak hanya mencobanya?' " begitulah kiranya ia memulai.

Dibuat dari dasaran Lego untuk Braille, yaitu Lego Mindstroms EV3, dan beberapa lagi lainnya dari supermarket Home Depot. Jadilah Braigo printer diambil dari nama Braille dan Lego. Braigo Lab begitulah nama perusahaanya yang sama namanya dengan nama produknya. Printernya berjalan baik. Bahkan, ia sukses mendapatkan banyak penghargaan.

Banerjee tercatat sabagi wirausahawan inovatif dibidang teknologi. Mendapatkan penghargaan Tech Award 2014 dan White House Maker Faire, even untuk wirausahawan dan inovator. Mengagumkan.


Yang paling penting, Banerjee sukses memecahkan masalah selama puluhan tahun yang telah menahan begitu banyak orang tunanetra di seluruh dunia: tingginya biaya printer Braille.

Banerjee mengatakan printer-nya secara signifikan dapat mengurangi harga printer Braille untuk kurang dari $ 500. Menurut website-nya, ada 285 juta orang tunanetra di seluruh dunia, dan 90% dari mereka tinggal di negara-negara berkembang. Ini tidak mudah bagi mereka di negara berkembang, yang miskin pastilah suksar untuk sekedar printer, bahkan untuk standar negara maju harga standarnya sudah mahal.

"Saya ingin mengatakan (produsen perusahaan besar) untuk berhenti mengambil keuntungan dari orang-orang buta," katanya.

Terkesan dengan produk dan visinya, Intel pun datang memanggilnya di September lalu. Mereka mengatakan berminat untuk berinvestasi di perusahaannya kecilnya. Investasi itu pun resmi dibuat di Intel Capital Global Summit. Ketika itu Braigo Labs disebut-sebut sebagai salah satu dari 16 startups teknologi investasi Intel di tahun ini. Meskipun jumlah tepatnya nilai dari investasi itu tidak mau diungkapkan, dilaporkan ada beberapa ratus ribu dolar. 

Printernya membuat Banerjee pengusaha teknologi termuda yang pernah didanai oleh perusahaan VC.

"Saya tidak berpikir seperti perusahaan besar akan pernah berinvestasi di perusahaan saya. Itu sangat menakjubkan, " kata Banerjee.

 
Dengan dana Intel, Braigo Labs berencana untuk membangun prototipe baru yang lebih menyerupai printer biasa, dan membawanya ke pasar tahun depan. Banerjee mengatakan ia tidak memiliki rencana berlebihan untuk memperluas ke kategori produk lain pada saat ini. Namun, printer Braille tampaknya hanya bagian dari mimpi besar yang ada dalam pikirannya, pasti akan ada produk baru dari bocah 10 tahun ini.

"Saya ingin melakukan rekayasa di bidang medis ketika saya tumbuh," katanya lagi. "Dan saya ingin menyelesaikan kuliah."

Artikel Terbaru Kami