Sabtu, 13 Desember 2014

Programer Asli Indonesia Membuat Software Miliaran


Biografi Arie Ardiansyah dan Grahadea Kusuf


Butuh modal ratusan juta untuk membangun studio musik sendiri. Minimal anda harus menyiapkan dana 500 juta rupiah. Jika tak sanggup mungkin bisa meniru kisah dua sahabat ini. Mengetahui kenyataan bahwa modal mereka cekak, cuma 50 juta.  berpikir ulang. Kemudian timbulah ilham untuk membuat satu home recording sendiri di rumah. Melalui sebuah software yang lantas mereka komersilkan.

Ditemui di kantornya, di salah satu ruang kerja PT. Kuassa Teknika yang luasnya 4x6 meter. Anda akan langsung disuguhi beberapa action figure seperti tokoh Superman, Batman, dan juga Resident Evil. Ditemui oleh tim Jawa Post keduanya, Arie dan Dea begitu panggilan akrab mereka, lantas menceritakan kisah awal mereka:

Programer musik


Arie menuturkan bagaimana scene kota Bandung yang musikal. Tumbuhnya kota sejalan dengan tumbuhnya berbagai genre musik dalam balutan band lokal. Virus- virus nge- band itulah yang dirasakannya waktu itu. Ia bersama sahabatnya sejak di bangku SMAN 20 Bandung, sudah lama bergabung dalam satu band. Musik beraliran punk menjadi pilihan grup band yang bernama Band Disconnected sejak tahun 1998.

Dari sekedar bermain musik, keduanya lantas sepakat membangun studio sendiri. Keduanya lantas sepakat patungan membangun studio di JL. Sukasenang V, Bandung, 2009. Mereka harus mengeluarkan modal berkisar Rp 60 juta untuk itu semua. Tapi setelah membangun studio musik, mereka malah tergoda studio rekaman sendiri. Sayangnya, membangun studio rekaman sendiri bukan perkara murah.

Modalnya berkisar Rp. 500 juta, dan mereka hanya mengantongi Rp.50 juta.

"Kami tidak mungkin bisa mendapatkan uang sebanyak itu dalam waktu cepat. Maka, ya sudah, kami urungkan cita-cita itu," ungkap Arie.

Arie kemudian hanya meneruskan hobinya dibidang programing. Tiga tahun sebelum ia menjalankan bisnis studio, bapak satu anak ini memang dikenal hobi bereksperimen dengan ampli gitar serta komputer miliknya. Ia senang untuk bereksplorasi dengan suara gitar dan berbagai efek suara. Melalui dunia maya, sebuah blog pribadi aradaz.blogspot.com, pria kelahiran Palembang ini membagikan karyanya.

Dia yang melihat komentar positif atas karyanya membuatnya berpikir. Bagaimana jika ia membuat sofware rekaman sendiri. Dia tengah berpikir bagaimana home recording biar jadi tren. Apalagi menurutnya bangsa kita memang sedang mengarah kesana. Dimana para musikus membuat musiknya sendiri. Sebuah semangat homerecording yang bisa bertahan lama.

Alumnus Ilmu Tanah Universitas Padjajaran Bandung itu akhirnya menemukannya. Sebuah aplikasi atau software yang untuk kebutuhan recording, mixing, dan mastering. Setelah dua tahun ia mengerjakan "mainan" barunya. Dia bersama sahabatnya Dea setuju untuk mengomersilkan produk software itu. Software yang kemudian dibawah bendera "Kuassa". Merek dagang yang katanya penambahan huruf "s" itu guna membedakan dengan brand lain.

Tambahnya, pada April 2010, Kuassa resmi meluncurkan produk softwarenya (Kuassa brand usaha, bukan nama softwarenya) yang bernama Amplifikation One. Software yang fokus pada suara gitar, namun tidaklah berdasarkan satu jenis genre saja. Arie menyebut produknya sudah dalam satu paket, all around lah. Software mereka lantas dibanderol seharga $49,95 atau sekitaran Rp 609 ribu. Sayang, sambutan pasar nampaknya tak begitu bergairah.

Arie mencatat hanya tujuh pembeli untuk Amplifikation One. Itu pun dalam jangka waktu cukup lama, April–November. Namun, Kuassa tak berhenti berusaha membangun produk- produk baru. Tepatnya pada bulan Desember 2010 Kuassa kembali meluncurkan produk kedua Amplifikation Crème. Peruntukkan software itu masih sama, yakni untuk suara gitar.

Namun, dari produknya tersebut, Arie membuat karakter suara gitar agar terdengar lebih metal. Dibanderol lebih murah daripada produk pertama, yakni 34 USD atau sekitar Rp 415 ribu. Beda dengan sebelumnya, Amplifikation Crème justru laku keras. Apalagi, oleh mereka situs- situs audio mancanegara seperti KVRaudio.com dan audiofanzine.com, produk kedua Kuassa tersebut lantas diberi mereka rating tinggi. Dilepas pada 2010 sampai 2012, sudah ada seribu pembeli tercatat menggunakan software mereka.

Terus berusaha


Dea yang mengurusi visual software sekaligus proses transaksinya, menyebut terkaget- kaget. Pria peraih gelar Master Bisnis Administrasi dari Institut Teknologi Bandung (ITB) itu mengatakan lagi, pasca kesuksesan Amplifikation Crème, penjualan produk lainnya ikut membaik dan meningkat. Setelah software Amplifikation Crème, perusahaan kecil mereka berlanjut membuat Amplifikation Vermilion, Cerberus Bass Amplifikation, Eve AtSeries Equalizer, dan Kratos Maximizer.

Software yang terakhir perlu anda tau, itu tercatat merupakan produk Kuassa yang berharga paling mahal, yakni berkisar $69,95 atau Rp 853 ribu. Berdasarkan catatan pada bulan Oktober saja sudah ada berkisar 7 juta pelanggan telah membeli. Pemasukan perusahaan meningkat tajam. Jika dulunya pertama kalinya launching produk, hanya 50 juta hasilnya kini jadi 1 miliar rupiah.

Pembelinya sih kebanyakan dari Amerika (35 persen); disusul Inggris dan Jerman, dimana masing- masing 12 persen; Prancis (7 persen); Kanada (5 persen); Australia (4 persen); dan Jepang (3 persen). Menakjubkan sekali hasilnya. Dan, yang lebih menakjubkan, diantara pembeli tersebut ada nama- nama yang beken kelas dunia. Sebut saja musisi dari Jepang, ada nama Masahiro Aoki. Aoki adalah komposer musik video game untuk perusahaan- perusahaan di Negeri Sakura. Salah satu perusahaan itu ialah game Capcom.

Sedangkan dari Amerika ada nama Dieter Hartmann, komposer musik untuk film- film berkelas Hollywood. Yang karyanya film Butterlfly Effect, Ghost Rider: The Spirit of Vengeance, End of Watch, Watchmen, dan The Guardians of The Galaxy.

"Kami nggak sangka kalau pembelinya orang-orang top. Jelas, kami bangga banget ternyata ada produk Indonesia yang disukai orang-orang profesional di Jepang dan Hollywood," ucap Dea lanjut.

Berbanding terbalik justru produk buatan mereka kurang laku di Indonesia. Hanya ada, yang tercatat, dari 7 ribu pembeli software Kuassa, hanya ada tujuh pembeli asal Indonesia! Itu juga laporan resminya. Tidak tau jika bajakannya, berapa banyak orang Indonesia yang menggunakan produk mereka. Dea menambahkan mendengar memang software Kuassa tersebar di lapak- lapak produk bajakan. "Tapi, mau bagaimana lagi, iklim bisnis di Indonesia masih seperti itu," ujar Dea.

Apa yang akan mereka bangun kembali ialah produk berbasis mobile. Mereka sangat ingin produk barunya itu bisa nangkring di Google Store dan Apple Store. "Mudah- mudahan segera terwujud. Ini target kami tahun depan," tandas Dea.

Salah satu pengguna software Kuassa, musisi Hogi Wirjono, mengaku cukup puas memakai produk mereka yang bernama Kratos Maximizer dan Eve At Series Equalizer selama dua tahun terakhir. Menurut salah satu personel band Agrikulture itu, software produksi Kuassa tersebut sangat membantu dalam proses bermusik. Utamanya ketika proses mastering dan recording. Lain lagi, musisi sekaligus produser Anang Hermansyah memberikan pujian setinggi langit atas kualitas software karya anak-anak Bandung itu.

Anang mengatakan, secara kualitas, software Kuassa tidak kalah bersaing dengan software musik Barat yang berstatus major label. "Aku pakai DAW (Digital Audio Workstation), tapi juga aku mixing pakai Kuassa di studio rekaman aku. Kualitasnya tidak kalah dengan produk luar, sangat-sangat tidak kalah," kata dia, suami artis cantik Ashanty itu.

Sebuah perusahaan yang relatif baru di industri pengembang perangkat lunak, Kuassa membanggakan track record yang baik untuk setiap produk software -nya. Didirikan pada tahun 2009 dengan semangat dalam musik, gagasan memiliki bisnis pengembang software muncul karena mereka tahu bagaimana mahal dapat memperluas studio rekaman dan memutuskan untuk menggunakan dana mereka yang terbatas untuk membuat audio software sendiri.

Dalam sebiah talk show bertajuk "Sebuah Reputasi Baik Tak Dibangun Sahri," Dea lantas menjelaskan bahwa reputasi yang baik memang tidak dibangun dalam satu hari. Selama tahun-tahun awal, Kuassa fokus untuk terus meningkatkan kualitas produknya hingga menghasilkan feedback baik di banyak forum pengguna dan karena itu meningkatkan penjualan untuk produk Kuassa itu.

Akhirnya, produk Kuassa yang mandapatkan ulasan baik di berbagai forum internasional dan publikasi dan pada tahun 2012, mereka sukses memenangkan penghargaan dari Asia Pacific ICT Awards. Sejak itu, penjualan telah tumbuh semakin baik untuk Kuassa. Dalam sesi tanya jawab, saham Dea bahwa di dalam perusahaan ada pada aspek teknis dari perangkat lunak.

Dea sendiri sebagai CEO masuk dalam industri pengembang adalah penting untuk memiliki dukungan multi-platform di windows, macintosh, dan linux, serta mengawasi cara pembayaran yang aman dengan dukungan berbagai metode pembayaran online seperti PayPal, Visa, mastercard, dll. Memang pembayaran sangat penting dalam sistem e-commerce global. Dalam mempromosikan bisnis, adalah cara paling sederhana dan paling efektif adalah untuk memberikan sampel gratis.

Artikel Terbaru Kami