Senin, 24 November 2014

Waralaba Bubur Terkenal Bubur Qu Berikut Kisahnya


Profil Muhamad Suci Mardiko

 
Muhamad Suci Mardiko punya visi jelas mengenai usahanya. Dari Kota Pasuruan, lantas melesat cepat, dimana gerai usahanya yang satu menjadi 70 gerai di penjuru Indonesia. Menjadi pengusaha nampaknya sudah  jadi obsesi berat bagi pria satu ini sejak dulu. Demi menggeluti passion bisnis, lelaki kelahiran Gresik, bahkan rela untuk meninggalkan statusnya sebagai manajer di sebuah perusahaan asing yang cukup bonafid di Pasuruan, Jatim. 

"Saya pengin mencoba menggunakan otak kanan saya dengan menjadi entrepreneur," katanya.

Usaha MS Mardiko telah dimulai sejak 2006 -an, seperti apa sih kisahnya, seperti apa prospek yang akan ditawarkan oleh Koko, begitu pria ini akrab disapa.

Juragan serba bubur



Gila, memilih keluar dari perusahaan bonafit hanya untuk jadi wiraswasta, apa hal yang membuatnya begitu nekat. Tak ada yang khusus hanya mencari pengalaman baru saja. Walau pada awalnya sempat terasa ngos- ngosan dengan modal pas- pasan, toh, keberaniannya untuk melepaskan jabatan telah terbayar. Justru dengan pengalaman selama menjadi manajer membuatnya lebih kreatif dan pandai. Dia kini dikenal sebagai juragan bubur.

Juragan bubur? Ya, julukan baginya dari bisnis bubur, Bubur' Qu. Sebagai catatan Koko merupakan pelopor usaha berfokus pada bubur ini. Selanjutnya muncul- muncul usaha sejenis dari bubur bayi atau pun bubur organik. Dia adalah pelopor bisnis bubur berbasis waralaba. Melalui sistem kemitraan membangun puluhan gerai, ia kini sanggup memberikan lowongan pekerjaan yang luas. 

Ditangan Koko, bubur jadi usaha modern yang cepat tumbuh pesat. Bapak dua anak ini kehidupannya telah berubah drastis. Bukan cuma tentang pendapatan tapi ketenangan hidup. Ia terhindar dari rutinitas monoton yang dirasakan dipekerjaanya sebagai karyawan saja. Makanan dari bubur ini ternyata layak disandingkan dengan berbagai makanan siap saji. Konsepnya Koko menjual aneka macam bubur, ada empat varian rasa yang akan disajikan Bubur’Qu.

Masing- masing ialah Bubur Jakarta, Bubur Manado, Bubur Sukabumi dan yang khusus, bubur Champion. Untuk menjaga kualitas waralabanya, perlu dicatat, Koko memastikan bahwa tiap gerai dapat bumbu yang sama. Ada standarisasi pada bumbu untuk memastikan rasa dari gerai di Jakarta akan sama dengan gerai di daerah lain.

"Mereka yang merasakan bubur saya di Kalimantan haruslah merasakan rasa yang sama dengan mereka di Sumatera dan Jakarta," ujar Koko kepada VIVAnews.

Pria lulusan Institut Teknologi Sepuluh Nopember ini tau betul bahwa bubur merupakan jenis kuliner yang cepat basi jika didistribusikan secara langsung. Oleh karena itu, ia mengajarkan kepada pewaralabanya bagaimana cara membuat buburnya sendiri dan bumbunya akan dikirim nanti.

"Jadi, buburnya diproduksi secara lokal. Kami hanya beri bumbu racikan dan bagaimana caranya, mereka yang mempraktikkan," ujarnya.

Pihaknya akan rutin mengirimkan bumbu untuk bubur, topping, dan bumbu kuah kepada pewaralabanya. Hal itu yang membuat standar semua outlet sama. "Mungkin hanya beras yang berbeda, untuk topping, mereka tinggal mengukusnya," ujarnya.

Franchise bubur


Sejak awal niatnya membuka usaha memang untuk franchise. Konsep waralaba yang membuatnya membara semenjak dia mengikuti program besutan pendiri Primagama. Sudah sangat berkobar- kobar didadanya begitu Koko mengistilahkan dirinya pertama kali. Semenjak mengikuti program Entrepreneur University (EU) besutan Purdi E Chandra, ia telah bertekat. "EU memang banyak mengubah mental saya dalam menjalankan bisnis," imbuhnya.

Dengan sistem franchise, gerai Bubur’Qu bisa ditemukan di berbagai kota di Indonesia dan kini masih akan terus tumbuh. Perkembangan gerai Bubur’Qu, bisa dibilang cepat. Sejak kehadirannya di akhir tahun 2006 -an, kini gerainya telah mencapai di atas angka 30 cabang dan yang terakhir mencapai 70 gerai, dimana yang miliknya sendiri hanya ada dua. "Dalam waktu dekat kami akan segera membuka di Jakarta dan Jawa Barat," ungkapnya.

Ia tercatat memiliki 70 outlet Bubur'Qu di seluruh pulau besar di Indonesia, kecuali Papua. Koko yang kini mantap bermukin di Pasuruan, Jatim ini menyatakan, banyak pemilik modal yang ingin menjalankan bisnis Bubur’Qu, lebih karena minimnya investasi dan kemudahan menjalankan bisnisnya itu. Jelasnya lagi ada dua cara menjadi mitra yaitu sistem pengelolaan pribadi atau sistem waralaba autopilot. 

Sistem waralaba dengan pengelolaan pribadi, menurut Koko, berarti kamu akan mengelola sendiri gerainya dan keuntungannya sepenuhnya dimiliki pewaralaba. Sedangkan sistem waralaba autopilot adalah sistem investasi murni, di mana pewaralaba mempercayakan gerainya kepada manajemen dan tiap bulannya keuntungan akan dibagi dua, selesai. 

"Dengan sistem investasi murni, kami perkirakan akan balik modal pada bulan kedelapan. Paling lama mungkin 12 bulan untuk modalnya kembali," ujarnya.

Untuk memastikan gerainya berjalan dengan baik, Koko mewajibkan pewaralaba mendatangkan trainer yang telah disiapkan. Hal ini dilakukan agar sajian buburnya bisa memiliki standar yang sama. Untuk memulai bisnis ini siapkan dana berkisar 20 jutaan sebut Koko lagi. Bermodal itu, kamu akan diberikan seperangkat peralatan produksi lengkap, mulai dari gerobak, kompor hingga peralatan saji. Selain itu, sudah termasuk jasa franchise fee selama lima tahun. 

"Jadi selama lima tahun, mereka tidak usah memikirkan royalti kepada kami," kata Koko lagi. Dia juga rajin melakukan inovasi yang tentu akan dibagikan ke para mitranya. Tujuannya agar bisnis ini selalu disukai oleh semua orang. Dia bahkan punya target 100 gerai lagi tahun ini.

Bila dikelola dengan baik, berdasarkan perhitungan yang matang, maka tingkat pengembalian modal dari waralab Bubur’Qu terbilang cepat. Berdasarkan pengalaman yang sudah terjadi, tingkat ROI (Return of investment) hanya pada hitungan bulan, tidak sampai tahunan lah. Saat ini, rata- rata ada pada angka 6- 8 juta perbulan. Ini sungguh tawaran yang menggiurkan tapi tetap itu ada di diri kita masing- masing, jelasnya lagi "Perhitungan ini, sudah termasuk semua biaya operasional."

Cara berjualannya ada beberapa pilihan pula. Ada model tenda tapi bisa pula dibuka dengan model resto yang bisa dijalankan di mall atau ruko. Semua tergantung kepada mitra saja begitu jelasnya. "

"Dibuka dengan tenda maupun di ruko oke-oke saja," papar Koko lebih lanjut. Selama ini Bubur’Qu memang sengaja menyasar kalangan menengah bawah. Dengan harga kisaran rata-rata Rp 5-6 ribu, pasti akan terjangkau oleh mereka yang memang memiliki kegemaran makan bubur. Harga ini tentu relatif masih murah meriah. Apalagi untuk ukuran kota besar seperti Surabaya, Jakarta atau Denpasar.

Mental pengusaha


Ternyata darah wirausahawan ada didalam dirinya. Tak haren pilihan keluar dari perusahaan merupakan satu tanda gejolak darahnya. Ketika masih kuliah di ITS, pernah bersama rekan- rekannya ia sempat mendirikan lembaga bimbingan belajar. Ia memang memiliki obsesi untuk menyaingi Primagama awalnya, takdir telah menjadi bubur. Untuk mendirikan bimbel itu ia bahkan meminta dimodali orang tuanya. Meski begitu, gagal, dan berhenti di tengah jalan; Koko tak kapok.

Hal itu terjadi, karena beberapa kawan harus mundur tanpa pamit karena meneruskan profesi lain. "Bimbel sebenarnya bagus, tapi karena kawan-kawan tidak serius ya akhirnya layu sebelum berkembang," ujar Koko bergurau.

Yang menarik pertama kali membuka gerai bubur, Koko langsung membuka dua gerai. Pertama, ia sengaja memilih lokasi di kawasan Industri PIER Pasuruan. Ia sengaja menyasar konsumen, para karyawan pabrik di mana dia pernah bekerja dulu. Hal ini sengaja dia lakukan untuk menguji mentalitasnya. "Ternyata saya tidak merasa malu, dari seorang manajer pindah pekerjaan sebagai penjual bubur," kata pria kelahiran Gresik tigapuluh lima tahun silam ini.

Di luar dugaan buburnya menarik banyak perhatian. Awalnya yang banyak membeli memang kawan- kawan di bekas perusahaannya dulu. Tapi seiring dengan perjalanan waktu, kian banyak konsumen dari perusahaan lain di kawasan industri tersebut. "Saya menangani langsung, dari proses produksi sampai menjual," katanya. Dan dari sana pula ada orang yang tertarik untuk ikut menjajal bisnis buburnya. Ada orang yang minta ijin untuk ikut membuka gerai Bubur’Qu.

Koko lantas menangkap kesempatan itu, mulai mengembangkan sayapnya melalui cara waralaba. Dan, dalam tempo enam bulan, ia telah memiliki enam gerai di beberapa kota di sekitar Jawa Timur. Setelah itu Bubur' Qu mulai mengikuti beberapa kali pameran, bisnis Bubur’Qu terus berkembang. Makin banyak orang yang berminat untuk ikut membuka gerai. Rendahnya investasi dan gampangnya mengelola bisnis ini agaknya menjadi daya tarik tersendiri.

Koko mengaku untuk resepnya ada perjuangan sendiri. Ia harus bekeliling Jawa untuk mendapatkan resep di setiap buburnya, "saya mendapatkan resep dari pemiliknya langsung," ungkapnya.

Artikel Terbaru Kami