Kamis, 27 November 2014

Usaha Kubah Masjid Bisnis Sambil Beramal


Kerja Profesional Suyanto


Apa yang digeluti seorang wirausahawan terkadang berbeda akar. Banyak yang melenceng dari bidang ilmu yang didalaminya. Akhirnya hanya pengalaman yang menjadi modal. Guru terbaik bagi kehidupan seorang pengusaha. Suyanto jadi salah satu pengusaha yang mengalami hal itu, seorang sarjana perikanan yang jadi pengusaha. Bukannya pengusaha dibidang perikanan, malah pengusaha kubah masjid terus untunga hingga punya banyak rumah kos- kosan.

Cerita awalnya hanya untuk amal, eh, usahanya mendapatkan banyak pesanan.

Pengusaha beramal


Dibesarkan oleh keluarga sederhana asal Demak, selepas sekolah menengah atas, Suyanto harus kehilangan sang ayah. Sang kepala keluarga meninggalkan ibu dan lima adik untuk dihidupi. Sebagai anak laki- laki  tertua, ia memang tidak berpangku tangan begitu saja. Tahun 1995, Suyanto hijrah ke Jakarta mencari- cari penghidupan. Sambil bekerja tak lupa ia pun melanjutkan sekolahnya, cari- cari beasiswa. Dia akhirnya diterima di Sekolah Tinggi Ilmu Perikanan. 

Di Jakarta, sambil terus berkuliah, ia tak lupa membantu ibu dan adik- adiknya. Ia lantas memilih menjadi kuli panggul di Pasar Kramat Jati. Rutinitas itu dijalani Suyanto hingga tahun 1999 -an seiring dengan kelulusannya. "Adik saya banyak, gaji pegawai negeri tentu tidak cukup. Saya ke Brunei supaya dapat uang banyak," jelasnya.

Selama setahun di Brunei, sarjana perikanan ini bekerja sebagai sopir. Pada tahun 2000, Suyanto akhirnya melamar ke sebuah perusahaan dan berhasil menjadi kapten kapal perikanan bergaji besar. Dia menghasilkan Rp 7 juta per- bulan. Namun, ia hanya bertahan dua tahun bekerja di kapal. Dia pulang karena mendengar adik- adiknya tidak mau sekolah. "Untuk apa saya bergaji besar kalau adik saya cuma jadi kernet. 

"Tahun 2002, saya pulang dan mencoba mendampingi adik-adik," jelas pria kelahiran 19 Desember 1977 ini.

Jadi pegawai pengusaha


Di tahun yang sama, Suyanto memilih merantau kembali setelah menemui keluarganya di kampung. Kali ini, ia ingin bekerja di Banjarmasin. "Saya pikir, kerja di Kalimantan enak. Saya lihat, ada tetangga yang pulang dari Kalimantan dan sukses," katanya. Hidup di Banjarmasin ternyata tidak semudah yang dibayangkan olehnya. Ia sempat menjadi tukang ojek dengan motor sewaan. Kemudian dia beralih profesi menjadi sopir untuk selanjutnya.

Disaat menjadi sopir itulah Suyanto sering melihat proses pembuatan masjid. Secara iseng, ia menawarkan diri untuk memasok kubah masjid. Pertengahan tahun 2005, ia bekerja sambilan sebagai tenaga pemasar di sebuah bank pemerintah. "Sambil mencari nasabah, kadang saya berjualan sayuran sambil cari masjid yang membutuhkan kubah,"€ ujarnya. Ia yang melihat kubah yang dipakai jelek. "Saya akan mencarikan kubah yang bagus dari Jawa," tutur Suyanto. 

Kebetulan memang ia mempunyai teman di daerah Pati yang menjadi perajin kubah. Tindakannya bukan soal uang jelasnya lebih lanjut. Waktu itu niatnya cuma membantu, soal untung tidaklah penting. Buktinya meski ia sudah bisa mensuplai kubah; ia memilih untuk tetap bekerja. Sayangnya, Tuhan bekerhendak lain, makin banyak saja orang meminta kubah darinya. 

"Ternyata, tidak mudah untuk mendapatkan proyek itu. Saya harus mempunyai dokumen-dokumen, surat izin usaha perdagangan (SIUP), dan surat-surat lain,"€ kenangnya lagi. Dari peristiwa inilah, pada 2005, ia memutuskan mendirikan bahan usaha berbentuk CV. Modal untuk usahanya juga tak besar. Suyanto memilih menggunakan uang muka pengurusan masjid.

"Saya sudah mendapat kepercayaan, proyek itu memang saya dapatkan tapi harus dilengkapi surat-surat," jelasnya.

Sambil bekerja di CV miliknya Suyanto masih tercatat sebagai pegawai bank milik negara itu. Dia bahkan berhasil menjadi salah satu pemasar terbaik. Pada tahun 2007, dia direkrut bank swasta dan menduduki posisi unit manajer. Peruntungan Suyanto pun terus datang, usaha maju sejalan dengan kariernya bersinar. "€œSaya ditarik menjadi pegawai PT Permodalan Madani Nasional," kata dia yang kini menjabat Wakil Kepala Cabang PNM Banjarmasin. Untuk CV miliknya, Suyanto juga tak lepaskan, justru makin bersinar saja.

Jika sebelumnya hanya sebagai pemasok kubah yang didatangkan dari Jawa. Suyanto mulai berani membuat kubah masjid sendiri yakni berbahan stainless steel, aluminium, dan galvalum ataupun baja ringan. Ia juga mengembangkan usaha dengan membangun fondasi dan finishing bangunan masjid (pemasangan gipsum, kaca hias, pengecatan), hingga perencanaan pembuatan kubah masjid dalam berbagai bentuk. Tak cukup sampai di situ, saat ini, Suyanto juga mengembangkan usaha rental mobil dan kos-kosan.

Saat ini, dia memiliki 100 kamar kos- kosan.

"Persaingan usaha makin ketat dan usaha semacam ini bisa saja mati. Sebab, sekarang banyak pengelola dan kontraktor masjid yang langsung membeli kubah ke Jawa," dalihnya. Suyanto juga sedang berupaya membangun sebuah bank perkreditan rakyat (BPR) bersama dua rekannya. "Saya ingin membantu orang yang butuh modal," tutupnya.

Artikel Terbaru Kami