Jumat, 14 November 2014

Usaha Batik Ceribonan Yusrianah Raharjo


Seorang ibu bernama Yusrianah Raharjo mencoba peruntungannya di bisnis batik. Tak main- main, ia yang fokus pada keindahan batik Cirebon, sudah bisa sukses menyebrang ke negeri tetangga. Wanita berusia setengah abad ini mengaku bahwa kemampuan membatiknya sudah jadi turun- temurun. Utamanya tentang pengatahuan bagaimana mewarnai dan pemasaran dari sang ibu.

"Pembeli minta warna apa, saya selalu disuruh untuk membuatkan. Jadi, dari kecil, skill-nya sudah diajari," kata dia.

Pemilik butik Yusri Batik ini telah memulai usahanya sejak 1997, dengan modal kepercayaan dan kejujuran. Dengan sedikit bantuan dari orangtua, Yusri lalu mengikuti pameran internasional di Yogyakarta. Saat itulah dimana produknya mulai dikenal orang. Ia mendapatkan bantuan modal Rp.20 juta. Setelah sekian lama dirinya berbisnis batik. Dengan uang itu dibeli lah bahan baku dan membayar ongkos para pekerja.

"Saya juga mendapat pinjaman dari Taspen sebesar Rp50 juta," ujar dia.

Yusri yang asli Cirebon sudah fasih tentang ragam batik daerah asalnya. Memang batik Cirebon dikenal akan corak batik yang digemari. Sebut saja batik bercorak Megamendung, Singa Barong, Panji Semirang, serta motif keraton Kasepuhan dan Kanoman. Bahannya pun bervariasi dari katun, sutera, dan kain tenun. Soal warna ia menjelaskan selain pewarnaan alami juga secara kimiawi.

"Yang paling susah itu batik tenun. (Permukaannya) tidak halus seperti katun. Serat-seratnya bermotif dan selalu mbrenjol (menonjol)," kata ibu rumah tangga ini.

Proseses pembuatan batiknya bervariasi. Ada yang butuh beberapa hari baru bisa jadi, khususnya untuk jenis batik cetak. Ada pula yang membutuhkan waktu sebulan penuh khusus untuk batik tulis. Setiap bulang, Yusri Batik mampu menghasilkan ribuan helai batik. Khusus untuk batik tulis ia mampu menghasilkan sekitar 100 helai, dimana setiap helainya mulai dari 2 meter hingga 2,7 meter. "Kalau itu, tergantung pesanan," kata dia.

Para pembeli pun tidak perlu merogoh koceknya dalam- dalam. Yusri membanderol produknya mulai dari Rp100 ribu hingga Rp1,5 juta. "Kalau batik cetak, harganya Rp100 ribu. Tapi, ada juga yang Rp300 ribu dan itu tidak murni cetak: kombinasi tulis dan cetak. Terus, batik tulis itu Rp1 juta. Batik sutera itu Rp1,2-1,5 juta," tutur Yusri.

Desain batik


Selain desain yang sudah ada, Yusri Batik, juga menawarkan aneka batik desain sendiri. Kalo mau ditanya seperti apa kualitas batik milik Yusri. Cukuplah kita kembali ke tahun 2013 -an. Kala itu, ia menjadi salah satu pelopor batik bermotif ondel- ondel. Dia memang bukan orang Betawi. "Ini batik koleksi terbaru, akan jadi tren 2013. Kami menyebutnya batik ondel-ondel," ujarnya. Batik khusus Jakarta fokus pada aneka trademark kota Jakarta antara lain motif ondel- ondel dan tugu monas.

Ondel- ondel tersebut terlihat cantik, karena digambar lengkap dengan pakaian dan aksesori yang kerap digunakan ondel-ondel saat pentas. Selain ondel-ondel, ada gambar lain yang ditorehkan di atas kain batik tren 2013 tersebut. Gambar tersebut tentu yang identik dengan Jakarta, yakni tugu monas dan kembang api. Sebab, biasanya jika ada pesta di Jakarta, kembang api tidak pernah terpisahkan dalam tradisi Jakarta itu sendiri.

Warna batik ondel- ondel pun cerah- cerah ebagai warna dasar misalnya, ada oranye, biru menyala, merah, hijau, dan warna-warna menyala lainnya. Sengaja dipilih warna-warna menyala agar terlihat kemeriahan dari sebuah pesta ondel- ondel itu sendiri. Selain itu, warna- warna batik Cirebonan yang identik warna-warna cerah seolah sepaham dengan kemeriahan kota Jakarta.

Kain batik ondel- ondel buatan Yusrianah sengaja dibuat dengan tangan atau biasa disebut dengan batik tulis. Berapa harganya, batik yang memakan waktu satu minggu ini dibandrol Rp.200.00 per- lembar. Ia menyebut motif batik ondel- ondel sederhana, dengan gradasi warna yang sederhana jadilah tak membutuhkan waktu berbulan- bulan.

Namanya bisnis akan selalu ada pahit manis dan Yusri tidak memungkiri hal itu. Selain persaingan yang ketat akibat bertambahnya pemain bisnis batik, dia juga mengatakan kesulitan akan sumber daya manusia (SDM). Di tempatnya ada 16 orang pegawai tetap dan yang tidak tetap ada 40 orang. Kendalanya yaitu kadang- kadang masyarakat masih tradisional.

"Gotong royong memang bagus, kalau ada acara hajatan, mereka kadang-kadang membantu. Mereka jadi tidak bisa fokus ke batik," keluhnya.

Wanita yang tinggal di Plered, Cirebon, ini mengeluhkan kekurangan pembatik senior. Jika anda ingin untuk memesan produk batik miliknya, Yusri membolehkan pemesanan untuk sepotong batik tulis saja, baik desain Yusri ataupun desain pembeli. "Tapi, nanti dikenakan ongkos kerjanya," kata dia. Ia pun tidak berkeberatan apabila pembelinya membeli batik secara satuan. Kalau untuk grosir, ada yang namanya minimal pemesanan, yaitu minimal 10 potong.

Apabila berminat, pembeli bisa berkunjung ke Yusri Batik di Jalan Syekh Datul Kahfi No. 79, Plered, Cirebon. Pembeli juga bisa mengontak emailnya yaitu melalui: litaharlianti@ymail.com.

Artikel Terbaru Kami