Kamis, 27 November 2014

Tukang Kayu Online Ini Kisah Unik Satrianov


Satrianov Tak Menyangka Bisnisnya

 
Bisnis online memang sedang tumbuh- tumbuhnya. Kami bahkan sempat berpikir apa sih yang tidak bisa dijual online. "Jual online saja tuh barang" begitu kiranya jika kita punya usaha apapun. Tak hanya fashion, media dan produk- produk lain, ada jasa yang bisa dijual. Kini ada tukang kayu yang bisa juga dijual online. Tak percaya? Tanyakan Satrianov, sejak 2012, ia telah mengembangkan bisnis tukangkayu.com.

Siapa sangka, bisnis online macam ini bisa saja bahkan terus tumbuh.Mulanya ada di tahun 2001 -an. Secara kebetulan, suatu waktu, dia yang sedang mampir di satu workshop kayu (furnitur) di Jakarta Barat, mendadak berbikir iseng. Iseng- iseng sambit mengobrol dengan si empunya waktu itu, Satrianov secara tiba- tiba terpikir: andai bisnis ini bisa dipasarkan secara online. Siapa tau bisa menghasilkan sesuatu begitulah pikirnya berlanjut.

Karena tak ingin ide itu hilang begitu saja. Dia spontan saja langsung menawarkan diri untuk menjual jasanya secara online.

Modal online



Ternyata pemilik workshop tersebut cukup antusias. Dia setuju dengan ide Satrianov, setuju untuk memberi imbalan untuk setiap proyek yang dijual. 

 "Saat itu saya benar-benar tidak tahu apa-apa tentang desain interior, furnitur, dan kayu," dia mengenang. Maka, lahirlah Tukangkayu.blogspot.com, blog gratisan yang jadi media pertamanya.

Anak muda ini tak punya pengalaman dan pengetahuan yang andal diseputaran mabel dan desain interior. Maklum lah, dia kan alumni Komunikasi Universitas Padjadjaran. Namun, minatnya pada dunia perkayuan ada dan menjadi awalan yang baik, desain interior dan pemasaran sangatlah besar baginya kala itu. "Hanya punya semangat bahwa interior design dan build itu sesuatu yang menarik dan seru bagi saya," ujarnya.

Berangkat keisengan, tak disangka, pasar menyambutnya.  Dari blog itulah dia mendapatkan order pertama, hanya membuat sebuah boks kayu. Dan sesuai perjanjian, ada fee yang dikantongi dari order yang terjual. Uang komisi kemudian diputar ulang untuk usahanya ini. Membeli domain premium dan menyewa hosting. Dari blog gratisan blogspot.com menjadi halaman ngejreng tukangkayu.com. "Jadi, modal saya memang nol rupiah," ungkapnya.

Perlahan- lahan banyak pelanggan mulai mengontaknya. Lucunya, ia sering gugup, tak bisa menjawab apa yang mereka inginkan. Para klien yang bertanya kepada orang yang awam. Otomatis Satrianov harus rajin- rajin bolak- balik bertanya kepada rekan kerjanya, si tukang kayu tersebut. Pertanyaan dari soal- soal teknis kayu dan pertukangannya. Untuk desain, dia belajar otodidak di internet.

Setelah satu tahun berjalan, jumlah klien datang stabil. Dia pun akhirnya memutuskan membuat workshop sendiri meski ala kadarnya. Kebetulan pula ada satu temannya yang tertarik bekerja sama dengan patungan modal. Rp 20 juta dia kumpulkan bersama kawannya, lalu dipakai untuk menyewa tanah, membangun workshop dan membeli mesin basic. "Perlu punya workshop sendiri untuk memudahkan kontrol," katanya.

Sejak saat itu, fokusnya adalah investasi alat- alat pertukangan dan menambah orang secara bertahap. Kini, berangkat dari iseng, Tukangkayu.com terus melaju dengan berbagai tawaran seperti menjadi kontraktor yang membuat atau memproduksi interior, disesuaikan dengan keinginan dan ruang klien. "Pada akhirnya bukan urusan kayu saja yang kami lakukan, namun juga lighting dan sipil. Tetapi, core-nya tetap di urusan kayu," katanya menjelaskan.

"Sebulan paling tidak ada dua proyek," ungkap Satrianov seraya menjelaskan lebih lanjut, harga jasanya akan tergantung pada jenis bahan, finishing, dan aksesori yang digunakan.

"Kami cukup puas menggunakan jasa Tukangkayu.com. Dari sejumlah penawaran yang masuk, Tukangkayu.com memenuhi spesifikasi kami. Mereka juga kooperatif. Hanya saja, mungkin faktor interaksi langsung perlu diperbanyak dan standar mutu perlu ditingkatkan," ujar Adelia Risyani, salah satu klien Tukangkayu.com.

Yang membuatnya cukup terkejut, meski tanpa jasa search engine optimization (SEO), website-nya selalu dicari orang dan punya rating tinggi di Google. "Saya dulu memilih nama Tukangkayu.com karena terdengar aneh atau lucu, ternyata 'kebodohan' nama itu justru menarik orang. We might not the greatest carpenter in this country, yet. But for Google, we're number one," ujar Satrianov kepada SWA.co.id seraya tertawa. Kini dia pun berbagi pekerjaan dengan mitra bisnisnya.

Dirinya menanganiurusan desain serta produksi, sedangkan kawannya lebih fokus ke pemasaran. Belajar dari Satrianov, keisengan bisa menjadi bisnis bila ditekuni dengan antusiasme disertai keinginan terus belajar. "Website yang paling sering saya kunjungi sampai sekarang www.houzz.com. Itu kitab sucinya desain interior," ungkap kelahiran Palembang 24 November 1984 ini, berminat mencoba?

Artikel Terbaru Kami