Kamis, 06 November 2014

Penyewaan Mobil di Negeri Orang Diaspora


Kisah seorang perantau di negeri asing sesuatu yang langka. Apalagi mereka yang berjuang dari nol, seperti kisah hidup Johnny Harjantho, pengusaha sukses justru ketika tinggal di Negeri Singa. Ya, Johnny terbilang sebagai pengusaha sukses di perantauan, pemilik sekaligus Managing Director dari Smart Group. Bisnisnya itu bergerak dibiang transportasi seperti taksi. Sebetulnya jauh sebelum kesuksesan Smart Group, ia dikenal sebagai seorang importir Singapura- Indonesia.

"Saya mulai bisnis tahun 80an. Beli barang Singapura dan jual di Indonesia," ujarnya mengenang kembali bagaimana ia membangun usaha di Singapura.

Sudah 10 tahun sudah dirinya berbisnis dagang dan itu memberikan kuntungan luar biasa. Dari Singapura pula lah, Johnny akhirnya menemukan cinta wanita yang kini dinikahinya. Setelah menikah keduanya sepakat menetap di negara bekas jajahan Inggris. Akhirnya bisnis dagang tersebut kemudian ditinggalkannya. Lalu apalagi bisnisnya? Berkat pengalaman bolak- balik Singapura- Indonesia, ia punya pandangan sendiri tentang berbisnis di Singapura.

Melihat kesempatan ada ia mantap membuka bisnis penyewaan mobil. Dengan modal sendiri ia membeli tiga unit mobil kemudian mengajukan pinjaman ke bank. Tiga unit mobil itulah cikal bakal sukses Smart Group di Singapura.

"Waktu dulu itu, mobil sangat mahal. Tapi saya sangat percaya diri. Dengan uang seadanya dan saya pinjam dana ke bank, mereka pun menyambut positif," kata Johnny.

Jangan berharap bisnisnya bisa mulus. Ketika awal memulai, ia sudah dihadapkang sulitnya mengajukan  pinjaman ke bank. "….mereka (bank) tidak mau lagi memberikan saya pinjaman. Alasannya saya tidak punya referensi dan bank tentunya takut memberikan pinjaman, saya kaget waktu itu," ucapnya. Masalah tidak membuatnya surut, justru semakin bersemangat berjuang meski dengan modal seadanya.

Susah memang menambah jumlah armada dengan pendanaan bank. Ia harus bergantung pada modal sendiri seadanya. Akhirnya, suatu saat, Johnny mendapatkan ide untuk menyewa mobil sewaan lagi. Ya, idenya gampang yaitu menggunakan mobil sewaan untuk disewakan lagi. Cara tersebut ternyata efektif. Johnny bisa meningkatkan jumlah armada seketika. "Setiap mobil saya tempel stiker Smart jadi orang berpikir usaha saya sudah besar dan akhirnya pinjam uang ke bank jadi lebih gampang," ungkap Johnny.

Dalam hitungan tahun bisnisnya sukses membesar. Johnny berhasil membawa SMART Automobile Pte Ltd menjadi perusahaan transportasi yang diperhitungkan. Kini, bukan hanya bisnis rental atau sewa mobil yang dirambahnya, ia pun merambah bisnis taksi. Smart Cab, perusahaan taksi  didirikan pada tahun 1991 hanya dengan 3 kendaraan, lalu tumbuh menjadi lebih dari 2.441 taksi taksi SMART di jalan raya.

Johnny Harjanthos sang Managing Director Smart Cab, memulai dengan kendaraan bermesin diesel untuk perusahaan taksnya. Dia sosok percaya diri bahwa ketika ekonomi terus tumbuh akan ada lebih banyak kendaraan di jalan serta bertambahnya pencemaran lingkungan. Dengan demikian, Johnny memutuskan untuk menjadi pelopor untuk CNG dan mengambil tantangan kendaraan hijau untuk mendukung lingkungan dan menciptakan kota yang bersih untuk hidup sehat.

Cinta Indonesia

 
Meski sudah puluhan tahun menetap di Singapura, Johnny mengaku masih cinta Indonesia. "Dada saya masih merah putih, saya masih Warga Negara Indonesia, makanya saya ikut kongres diaspora," ucapnya penuh semangat. Ia menjelaskan, komunitas diaspora Indonesia yang ada di Singapura jumlahnya berkisar 180 ribu hingga 200 ribu orang. Ini merupakan komunitas diaspora Indonesia yang paling besar dibandingkan yang ada di negara-negara lain.

Menurutnya sekitar 100 orang lebih warga Indonesia yang tingga di Singapura. Mereka bekerja baik sebagai tenaga profesional ataupun jadi pengusaha.  Sebagian lainnya adalah mahasiswa dan pekerja terlatih yang hanya tinggal sementara untuk sekolah dan bekerja. Jumlah perusahaan di Singapura yang dimiliki oleh orang Indonesia pun cukup banyak, baik itu yang skala kecil, menengah, maupun besar.

Tapi pada umumnya, kata Johnny, perusahaan- perusahaan besar Indonesia di sana adalah cabang dari perusahaan induk di Indonesia, misalnya Salim Group dan sebagainya.

"Cukup banyak pengusaha Indonesia di Singapura yang memulai usahanya dari nol. Mereka adalah yang saya sebut sebagai generation zero, dimana pada umumnya mereka memulai usahanya dengan visa kunjungan dan selanjutnya menetap dengan membuka usaha," kata Johnny. Rasa kebangsaan dari generasi zero ini cukup tinggi loh. Mereka yang menetap, memulai bisnisnya dari nol di negeri rantau.

Mereka, jelas Johnny, seperti dirinya tau benar bahwa mengelola usaha di Singapura tidaklah semudah yang dibayangkan. "Tingkat kompetisinya cukup tinggi dan harus selalu berupaya untuk lebih cepat dari orang lain," kata Johnny.

Karena itulah, mereka yang tergolong generation zero ini memiliki ikatan persaudaraan yang kuat satu sama lain."Saya sendiri sudah 32 tahun tinggal dan membuka usaha di Singapura, sehingga culture masyarakat Singapura sudah cukup mendalam bagi saya. Namun demikian kami tetap menjaga culture sebagai masyarakat Indonesia. Kami menyelenggarakan pameran kebudayaan Indonesia secara rutin," ujarnya. Nah ini lah kisah pengusaha Singapura asli Indonesia.

Artikel Terbaru Kami