Rabu, 19 November 2014

Penulis Skenario FTV Achi TM Berbagi Cerita


Industri film televisi bergeliat memberikan aliran rejekinya bagi para penulis. Tak melulu menulis dalam buku, ada juga kesempatan untuk mencoba menulis naskah.

Bagi Astri Rakhmawati limpahan rejeki ini bukanlah hanya miliknya, melalui berbagai media, ia mencoba mengajak lebih banyak teman- teman untuk ikut menulis. Seorang penulis skenario untuk Film Televisi (FTV) di berbagai stasiun televisi. Pendiri Rumah Pena Kota Tangerang ini, berbagi kiat suksesnya di berbagai kesempatan. Sejak 16 April 2009, Asri Rakhmawati a.k.a Achi TM mendirikan Rumah Pena, satu tempat kursus belajar menulis cerpen, novel, dan skenario.

Sejak memutuskan untuk menjadi penulis penuh waktu, dia mengaku memang menghadapi tantangan yang tidak ringan. Bercita- cita menjadi penulis sejak SD dan terus belajar tanpa lelah, terus berjuang hingga akhirnya cerpen pertama Achi bisa dimuat di majalah Muslimah. Menyusul kemudian cerpen- cerpen remaja lainnya sering kali dimuat di majalah KaWanku, Gadis, KerenBeken, Go-Girl, Etnix  Magazine, Story Magazine, OLGA, Koran lokal Banten, majalah Sekar, dll.

Cerpennya yang berjudul Tambuli Dan Kupu-Kupu tergabung dalam antologi cerpen Dewan Kesenian Jakarta (DKJ, 2006).

"Menulis buat saya seperti bagian dari jiwa yang susah dipisahkan. Kalau dalam sehari saya tidak menulis, biasanya saya gelisah, jika sampai berhari- hari saya bisa menderita sakit kepala. Salah satu cara menghilangkan sakit kepala saya, ya, dengan menulis," ceritanya dalam sebuah wawancara di alineatv.com.

Naluri jeli Achi lantas menggerakkan arah mata penanya untuk membidik FTV sebagai sasaran. Lalu, lahirlah puluhan skenario FTV dari tangan Achi. Seturut dengan itu rejeki Achi pun turut mengiringi.

"Penulis skenario itu lebih sedikit dibandingkan penulis novel. Padahal, peluang (menulis skenario) yang terbuka sangat besar," ujar Achi.

Dari penulisan satu skenario FTV ini, Achi dan para penulis skenario di Rumah Pena Kota Tangerang, bisa mendapatkan honor yang lumayan besar. Berkisar Rp 3 juta untuk satu naskah skenario FTV. Tren FTV tak lekang seperti sinetron yang ceritanya dibulat- bulatkan. Oleh karena itu hampir di semua stasiun televisi milik swasta pastilah ada program FTV baru dari yang bertema remaja, horror dan yang paling populer FTV tentang cinta- cintaan.

Ratusan episode di FTV adalah peluang bagi para penulis di Rumah Pena miliknya. Program FTV yang sambung menyambung ini, ibarat aliran air yang tak pernah berhenti mengalir dari sumber mata air bernama industri televisi.

Achi menjelaskan, penulis skenario itu masih jarang jumlahnya jika dibandingkan dengan novelis. Menurut wanita yang sudah menulis puluhan skenario FTV ini, sebenarnya banyak yang mau mengajukan cerita untuk FTV. Namun, yang mampu bertahan dengan sistem deadline FTV yang sangat sedikit, ini berbalik terbalik dengan penulis dalam media lain.

"Bayangkan saja, penulis scenario FTV dituntut untuk menyelesaikan script cerita sebanyak 80 halaman dalam waktu dua hingga empat hari. 80 halaman tersebut, adalah alur cerita berdurasi 1,5 jam," ujar Achi.

Kondisi inilah yang membuat hanya penulis-penulis skenario yang bisa mengikuti deadline yang bisa bertahan sampai sekarang.

"Waktu deadline yang ketat dan mengikat banyak yang membuat penulis nyerah. Padahal, saat ini peluang sangat terbuka lebar," ungkapnya.

Achi kemudian membeberkan beberapa hal yang anda butuhkan untuk masuk ke industri ini. Anda harus tau tentang menjaga kualitas tulisan.

Tips menulis skenario


Unsur-unsur yang harus diperhatikan adalah karakter, alur, plot, setting, dan surprise ending. Kelima unsur itu harus bersatu padu dengan ciamik agar bisa menciptakan cerita yang baik, seru, menarik, dan punya ending tak terduga. Agar tetap produktif maka ia akan menulis untuk satu cerita di setiap harinya. Kalau dia sedang tidak menulis skenario, Achi akan menulis cerpen atau novel, jika dalam menggarap novel mengalami kebuntuan atau masalah hidup.

Ia akan menulis catatan hati seorang penulis di folder pribadi.

Jika anak- anaknya terlalu rewel hari itu sehingga dia kesulitan duduk di depan laptop atau komputer, dia akan menulis status panjang di FB. Yang penting konsisten menulis jelas pengalamanya sehari- hari dalam menulis. Prinsipnya jangan berhenti menulis akan mematikan api inspirasi.

Ditambahkan Achi, tren FTV yang bertebaran di berbagai stasiun tivi swasta membutuhkan lebih banyak lagi penulis skenario. Padahal, untuk satu skenario honor atau bayaran yang dibayarkan Production House (PH) sangat besar.

Melalui Rumah Pena, wanita yang pernah menyusun skenario FTV Cinta Terlarang untuk duo "The Virgin" itu, membuka kursus penulisan skenario di rumah kontrakannya.

Melalui kursus yang dibuatnya, Achi mengaku tidak segan memberikan job penulisan skenario FTV untuk peserta kursusnya. Dengan begitu, lanjut Achi, akan semakin bertambah penulis- penulis skenario. Selain menulis skenario FTV, pada tahun lalu Achi bersama partnernya, Widuri, berhasil menulis sebuah buku yang bertemakan memecahkan kegalauan atau masalah remaja.

Selain menulis cerpen, Achi juga sudah menulis delapan buah novel: HIMITSU (2007), Quly-Girl (2007), Bisikan Sahabat (2008), Penaku Sebintang (2007), Wo Ai Ni-Jangan Ekspor Cintaku (2009) dan Chaos Chambell (2010), dan Cloudy (2012). Achi juga menulis buku-buku motivasi remaja, antara lain: Aku Bangga Menjadi Gagal (2010), No More Galau (2012), Tangguh Karena Allah (2012), Bermimpi Karena Allah ( 2012), dan Keseimbangan Hidup Perempuan (Stiletto Book, 2012)

Kini Achi aktif menulis ratusan skenario sinetron dan FTV di beberapa stasiun televisi nasional, seperti RCTI, SCTV, MNC TV, ANTV serta TV local, seperti B Channel.

Ibu dari anak lelaki bernama Abiy Arsena Dimyathi ini juga mendirikan Lembaga Pengembangan Talenta RUMAH PENA bersama suaminya, Agung Argopo. Achi TM sering diundang ke beberapa sekolah dan klub penulis sebagai pembicara atau mentor dalam berbagai pelatihan menulis.

Artikel Terbaru Kami