Senin, 24 November 2014

Penjual Mie Ayam Sekaligus Penulis Novel Menginspirasi


Profil Novelis Aveus Har


Siapa sangka di warung mie ayam di pinggir Jalan Patimura, Wiradesa, Pekalongan, ada sosok penulis novel hebat. Di warung kecil berukuran 4x4 meter, sore itu tak ada kesibukan jual- beli. Yang ada hanya sosok sang penjual mie ayam. Namanya Mas Harso, pemilik warung mie ayam sekaligus penulis novel yang kita tengah bicarakan. Ketika ditemui di waktu senggang, pria ini tengah sibuk sendiri mengetik- ketik ponselnya. Bukan mengetik pesan singkat atau berchatting ria, dia sibuk mengetik novel, hebat.

Tidak ada yang tau bahwa dirinya ialah seorang penulis novel. Ia bisa dibilang cukup produktif meski disela- sela berbisnis mie ayam. Harso tercatat sudah menghasilkan 7 judul novel: 6 novel sudah dicetak dan satu lagi masih dalam proses diterbitkan oleh salah satu penerbit besar. Karya lain ada cerpen- cerpen di surat kabar, majalah, dan juga antalogi bersama, yang jumlahnya tak terhitung.

Menulis bukan tentang uang


Pria yang kini dikaruniai dua anak itu beberapa tahun yang lalu,  diberinya nama Aveus Har, yang mana dengan nama itu pulalah dia menuliskan karya- karyanya selama ini. Selain menulis sendiri, melalui wadah Komunitas Rumah Imaji, Aveus juga bersama rekan- rekannya memprakarsai penerbitan buku berjudul "Cikal: Bunga Rampai Sastra Remaja dan Pelajar Kab. Pekalongan", sebuah pencapaian yang luar biasa waktu itu. Mendengar bahwa selain menulis, kegiatan sehari-hari Aveus adalah berdagang mie ayam. Menambah kekaguman penulis artikel ini.

Menulis karya fiksi memang tak sepopuler karya ilmiah. Apalagi di kota kecil Pekalongan, tak bisa jadi satu tujuan katanya. Namun, dari sedikitnya, justru Aveus jadi sosok yang langka, menginspirasi semua orang tak terbatas di kota kecil Pekalongan. Di tempat ini iklim sastra dan literasi belumlah berkembang kala pertama ia menulis bahkan hingga sekarang mungkin.

Disela- sela berjualan mie ayam, ia menulis apapun di kepalanya. Cara Aveus Har berhasil melahirkan karya-karyanya tidaklah "ngoyo" atau dipaksa- paksa, semua mengalir. Bahkan dia terlihat tetap semangat meski harus pindah dari tempat berjualannya semula. Ternyata tempatnya berjualan yang sekarang adalah tempat berjualan yang kedua. Meski ada masalah, toh, Aveus tetap menghasilkan karya lagi. Dimanapun tempatnya tak ada masalah soal inspirasi.

Warung yang sekarang ditempatinya adalah lokasi kedua, setelah lokasi yang pertama di pinggir jalan raya pantura dibangun lampu merah sehingga tidak memungkinkan untuk dijadikan tempat jualan. Di tempat itu pula ia menghasilkan satu novel berjudul "Flawless Hope", yang bahkan berhasil memenangkan lomba. Ia memenangkan juara pertama lomba penulisan novel Bentang Populer bertema "Wanita dalam Cerita" disaat warungnya akan tergusur.

Kabarnya, Desember tahun ini, novel tersebut akan terbit jadi buku, yang nantinya akan berjudul "Sejujurnya Aku".

Bagaimana bisa menulis jika dari jam 11 pagi sampai 8 malam dia berjualan. Rahasia menulisnya memang ada di ponselnya seperti yang diberitakan. Setiap hari, di sela menunggu pelanggan, dia menulis bab demi bab novelnya hanya berbeka; sebuah ponsel berfitur standar, yang kemudian disalinnya ke dalam komputer seusai warungnya tutup dan sebelum mempersiapkan kebutuhan jualan untuk hari berikutnya.

"Saya belajar menulis kira-kira sejak SMP, waktu itu di mading sekolah. Pertama kali karya dimuat adalah di majalah Ceria Remaja," kenangnya.

"Sayangnya, beberapa bulan setelah memuat karya itu, majalahnya berhenti terbit." Beruntung dia msih sempat menyimpan edisi majalah yang memuat karyanya tersebut, yang didapatnya dari seorang teman yang kebetulan penjual koran. Dia juga sempat menunjukkan majalah itu kepada teman-temannya, sewajarnya penulis yang bangga karyanya berhasil dimuat di media massa. Itulah kisah pertama seorang Harso.

Setelah itu, karya- karyanya mulai rajin terbit di beberapa majalah dan surat kabar, di antaranya, Aneka, Kawanku, Wow, Anita Cemerlang, dan lain-lain, yang sebagian besar majalahnya kini sudah berhenti terbit; juga di banyak antologi bersama. Mungkin banyak dari kita yang sering kali berdalih tidak punya waktu untuk menulis seharusnya belajar dari Aveus Har. Rutinitas sehari-harinya yang jauh dari dunia buku dan tulis- menulis tidak menjadi alasan baginya untuk berhenti.

Baginya, menulis adalah hasrat, obsesi, gairah, mimpi yang kesemuanya menyatu menjadi masakan lezat dan bergizi bagi kebahagiaan diri. Kebahagiaan yang ingin dibagikan kepada pembaca melalui karya-karyanya. Bahkan ada seorang pembawa acara berseloroh bahwa Harso sebenarnya bukan penjual mie ayam yang menjadi penulis novel. Lanjutnya bercanda menyebut Harso adalah penulis novel yang menyamar jadi penjual mie ayam untuk medapatkan cerita.

Selain novel yang sudah disebutkan di atas, buku- buku yang sudah diterbitkannya adalah: kumpulan cerpen "Lintang", novel "Pangeran Langit", novel anak "Asibuka! Mantra Rahasia', buku "Yuk Menulis Diary, Puisi, dan Cerita Fiksi" (keempatnya diterbitkan oleh Penerbit Andi) serta novel "Sorry That I Love You" dan novel "Roller Coaster Cinta" (keduanya diterbitkan oleh Media Pressindo Group).

Suatu saat, jika kamu berkesempatan bertandang ke warung mie ayamnya miliknya, barangkali setelah asik berbelanja batik di International Batik Center (IBC) Pekalongan yang memang tak jauh dari situ, sambil menikmati semangkuk Mie Ayam Mas Harso, kamu sekaligus bisa belajar tentang proses kreatif seorang penulis novel. Tidak mahal, cukup dengan Rp. 7.500 untuk semangkuk mie ayam dan segelas teh hangat, barangkali kamu akan memperoleh ilmu dan motivasi menulis.

Artikel Terbaru Kami