Selasa, 11 November 2014

Modal Puluhan Ribu Kini Subkhan Eksportir Kerajinan


Apa yang kamu bayangkan jika Rp.12.500 itu modal bisnis kamu, mungkinkah itu? Seorang pria bernama Subkhan Nur Raufiq, 42 tahun, seorang perajin batok kelapa menerima tantangan itu. Ya, bermodal cuma segitu pria asal Dusun Sentan, Desa Guwosari, Kecamatan Pajangan, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, tak menyangka bahwa dia bisa menaklukan kota rantauannya. Kala itu, Subkhan diketahui masih menjadi buruh kerja di sebuah perusahaan, bukan pengusaha.

Ketika itu ia sedang berjalan- jalan di Malioboro. Disuatu sudut Subkhan melihat- lihat berbagai kerajinan tangan yang dijual di pinggiran. Ide itu memang muncul seketika jelasnya lagi. Muncul ide dibenaknya untuk memanfaatkan batok kelapa di kampungnya untuk membuat gantungan kunci. Subkhan bercerita bahwa batok kelapa hanya digunakan untuk membuat arang atau bahkan hanya dibuang begitu saja karena kayu bakar masih melimpah di kampungnya.

Berusaha dulu, sukses belakangan


"Usai lulus SMA tahun 1992, ketika teman mencari pekerjaan di luar kota, saya hanya jalan-jalan di Malioboro untuk melihat-lihat kerajinan tangan. Setelah itu, muncul ide memanfaatkan batok kelapa untuk menjadi gantungan kunci atau suvenir untuk pernikahan," katanya, saat ditemui di bengkelnya yang bernama Chumplung Adji Craff di Dusun Santan, Desa Guwosari, Kecamatan Pajangan, Kabupaten Bantul, DIY.

Modalnya cuma Rp.12.500, yang dibelikannya mesin bubut sederhana dan masih manual. Tak disangka- sangka justru alat itulah yang menjadi modal besar membuat berbagai gantungan kunci dan souvenir tersebut. "Saat itu, pemasarannya masih door to door, sehingga kurang laku di pasaran dan penjualan sangat terbatas," ujarnya.

Akibat tak begitu laku, dia nekat melakukan promosi produknya ke hotel- hotel yang ada di Yogyakarta. Kala itu, hanya di dua hotel, yaitu Hotel Garuda dan Hotel Ambarukmo merimanya.

Berawal dari coba- coba justru dia bertemu nasib baiknya. Waktu itu ada pembeli dari luar negeri yang mau menawarinya pekerjaan. Dia menawarkan Subkhan untuk membuatkannya sebuah alat musik Marakas. Alat musik yang berasal dari Kanada. Apa itu? Bahkan Subkhan tak tau benda apa yang diinginkan si bule tersebut. "Mereka memberikan contoh alat musik tersebut dan dengan alat yang masih manual itu akhirnya pesanan dapat dipenuhi dan dikirim ke Kanada," katanya. 

Jadilah bisnis pembuatan Marakas menjadi basisi bisnisnya hingga di tahun 1998, tumbuh semakin besar dan besar. Saat itu Indonesia tengah mengalami krisis ekonomi tapi produk kerajinan tangan yang dihasilkannya justru malah mendapatkan keuntungan besar karena pasarnya adalah luar negeri dengan transaksi dolar.

"Ketika dolar harganya Rp15.000, sekali kirim hasil kerajinan tangan sesuai dengan pesanan pembeli, maka miliaran rupaiah dapat diraup. Itu merupakan puncak usaha yang saya geluti," terangnya.

Ia mengaku masih punya delapan orang yang bekerja menyelesaikan pesanan dari luar negeri. Mereka yang mengerjakan pesanan dari Eropa, Australia maupun kawasan Timur Tengah. Namun demikian, jika memang pesanannya cukup banyak, pekerjaan di sub-kan kepada tetangganya yang kini ada delapan kepala keluarga yang mengerjakan kerajinan tangan dengan bahan baku tempurung kelapa atau batok.

Ekspor batok kelapa


Untuk pesanan dari luar negeri memang cukup banyak untuk dipenuhi. Pesanan dari luar negeri itu pun sulit untuk dipenuhi. Dia mengaku pekerja yang memiliki sifat elaten, ulet, dan sabar sangat sulit ditemukan sehingga untuk memenuhi pesanan produk ekspor sulit untuk dipenuhi. Apalagi, setiap tenaga yang mampu membuat produk, mereka akan "diusir" untuk dapat mandiri dan berusaha sendiri.

"Saya ingin menciptakan bos-bos baru, bukan menciptakan tenaga kerja saja. Ketika banyak bos baru, harapan saya 'one village one product' dapat terealisasi," tuturnya.

Hartini (40), istri Subkhan, menyebut rahasia sukses bisnisnya karena produk mereka yang memang ramah lingkungan. Produk semacam ini memang sangat diminati para pembeli asing dari berbagai negara. "Dalam bulan ini, kita mendapatkan pesanan peralatan makan dari tempurung kelapa. Mulai dari gelas hingga piring dan tempat nasi atau sayur yang hanya sekali pakai. Pesanan datang dari negara Jepang," ujarnya.

Hartini yang telah dikarunia dua orang putra dari pernikahanya dengan Subkhan mengatakan bahwa pangsa pasar luar negeri, terutama produk yang ramah lingkungan masih sangat terbuka dan tinggal kemauan dan kemampuan SDM yang perlu ditingkatkan. Sebab, untuk pasokan bahan baku sudah ada yang akan memasok dan tidak akan kekurangan.

"Permasalahan yang mendasar saat ini adalah kemampuan SDM, karena untuk permodalan pemerintah dapat memberikan modal tambahan dengan bunga yang sangat ringan," tegasnya.

 Alamat:

Chumplung Adji Craft,

Santan Rt.03 Guwosari Pajangan Bantul Yogyakarta 55751

Email: chumplungadji@yahoo.co.id
          chumplungcraft2santan@gmail.com

Hp   : 085643454575, 081328055857

Artikel Terbaru Kami