Minggu, 16 November 2014

Mi Desa Usaha Sederhana Raih Ratusan Juta


Keterbatasan modal dan infrastruktur bukan alasan berhenti berusaha. Inilah kisah Wardani, 45 tahun, warga Dusun Tulung, Srihardono, Pundong. Sosok yang konsisten memperkenalkan mi desa atau mides kepada mereka warga asli Yogyakarta. Usaha yang tak berhenti membuat warga Yogyakarta, khususnya Bantul, tak asing lagi akan produk olahan satu ini. Mi desa dibuat dari tepung tapioka, yang dibuat dengan cara sederhana.

Sebagaimana hari- hari biasanya, lima orang terlihat sibuk di rumah milik Wardani, dibagian samping kanan rumahnya. Mereka satu keluarga. Lima orang tersebut itu tengah sibuk mengolah sekaligus mempersiapkan salah satu jenis makanan untuk dijual kepada para pedagang. "Saya, istri, kedua orang tua, kemudian ipar," ucap Wardani memulai pembicaraan.

Sejak 25 tahun silam keluarga Wardani telah memulai usaha pembuatan mi desa. Waktu itu ayah Wardani bernama Suparjan telah terlebih dahulu merintis. Meskipun olahan mi instan terus menggempur pasar, usaha kecil- kecilan miliknya tetap bertahan sampai sekarang. Di 2006 silam pengolahan mi desa sempat berhenti beroperasi. Rumah Wardani ambruk bersama ribuan rumah lainnya saat gempa bumi 2006 meluluhlantahkan sebagian wilayah Bantul. "Ya rumah ini bagian dari sisa-sisa gempa dulu," kenangnya.

Usaha sederhana


Di ruang seluas 4,5 meter kali 4,5 meter usaha pengolahan mi desa bergulir. Di ruangan sesempit itu puluhan karung berisi tepung ditumpuk. Sementara itu di bagian kanan rumah dijadikan tempat pengolahan. Mi desa kemudian dipasarkan ke ke pasar Pundong, dan pasar Imogiri ini. Pemisah kedua ruangan bukanlah tembok, melainkan hanya gedek setinggi dada manusia dewasa.

"Memang sangat sederhana tempatnya. Tapi ya tetap harus jalan," jelas bapak dua anak ini.

Suami Sugiyati mengaku memang tempat pengolahannya jauh dari patokan ideal. Ia sempat berpikir untuk meminta bantuan modal. Harapannya untuk memugar rumahnya jadi lebih luas. Sayang, sebagai orang awam ia tak tahu caranya bagaimana mengajukan bantuan modal ke pemerintah setempat. "Nggak ada yang memberikan pendampingan. Yang namanya proposal (pengajuan bantuan) saja kita belum pernah lihat," tuturnya lugu.

Padahal, Wardani mengaku, ia berulangkali mendapatkan undangan menghadiri berbagai forum perlombaan pengembangan UMKM. Ketika itu dia mewakili lembaga keuangan desa (LKD) karena dinilai berhasil mengembangkan pengolahan produk mides.

"Mewakili Bantul pernah. Bahkan, mewakili Jogjakarta di tingkat nasional juga pernah," ungkapnya.

Tak hanya itu beberapa instansi pemertintah juga berkunjung ke tempat itu. Staf dan pejabat Dinas Pertanian tersebut pernah ikut melihat proses pengolahan mides dari dekat.

"Kemudian kelompok-kelompok usaha dari luar juga sering. Tetapi saya lupa mereka dari dinas pertanian atau kelompok mana," ujarnya.

Bicara soal modal, Wardani menjelaskan per- hari ia akan membeli tepung tapioka dengan harga Rp3.800, sehingga dibutuhkan modal Rp.304.000. Menurut dia, satu kilogram tepung tapioka bisa menghasilkan 8 bungkus mides dengan harga Rp8.000 per bungkus atau piringnya. Setiap hari rumah produksinya mampu mengolah tepung tapioka sebanyak 70 hingga 80 kilogram.

"Sekali jualan mampu mendapatkan pendapatan kotor Rp5,12 juta. Jika ditambah dengan bumbu dan telur serta keperluan memasak lain, keuntungan bersih Rp1 juta hingga Rp2 juta per hari," ungkapnya.

Bahan baku cukup di ambil dari lingkungan sekitar saja. Daerahnya memang dikenal sebagai sentra penghasil tepung tapioka. Mi desa yang dijualnya tidak melulu dijual sendiri, beberapa pesanan pedagang lain untuk dijual kembali jelasnya. Adapun omzet perbulannya ia menyebut angka di kisaran Rp.153, 6 juta. Sajuh ini pemasaran baru ada di pasar- pasar tradisional.

"Sebenarnya, perbedaan mides dengan mi lainnya tidak banyak, hanya dari bahannya yang menggunakan tepung singkong atau tapioka. Teksturnya lebih lentur dan lembut. Karbohidrat yang dikandung mides juga lebih banyak," katanya.

Mi desa tahan 24 jam lantaran tanpa bahan pengawet. Meski demikian, mides yang sudah diproduksinya tidak pernah sisa, kecuali saat musim hujan yang mengakibatkan penurunan jumlah pembelian.

"Kalau musim hujan memang sepi, produksi mi tak terlalu banyak," tambahnya.

Selama menjalani usaha produksi mides, ia mengaku tidak menemui kendala berarti baik soal pemasaran ataupun bahan baku. Dia hanya berharap diberikan bantuan tempat produksi oleh pemerintah lantaran sering mendapat kunjungan dari berbagai daerah.

"Kalau kondisinya begini, kan malu, jadi berharap ada bantuan tempat produksi," imbuhnya.

Inovasi dalam keterbatasan


Awalnya coba- coba Wardani menginovasi produk mides yang sudah ada. Mides yanga ada sekarang bisa disajikan rebus atau goreng. Mides "godog" begitu populernya di Jawa Tengah, dimana mi punya kuah segar enak untuk dimakan dingin- dingin.

"Setelah dicoba, ternyata rasanya jauh lebih lezat daripada mides yang dimasak dengan cara digoreng atau digodok," kata Wardani, Selasa 25 Februari 2014.

Mides bumbu mi ayam memang berasa berbeda dari mides original. Meski menggunakan bumbu mi ayam, jangan dibayangkan mides ini berkuah, justru sebaliknya, kering dan lembut. Warnanya yang kemerahan, yang mimiliki cita rasa pedas yang meledak di lidah. Mantap.

"Memang masih terlalu pedas, karena masih coba-coba," imbuh suami Sugiyanti ini sembari tertawa.

Mides bumbu mi ayam memang hasil inovasinya yang lain.  Hasil eksperimen dari Wardani lagi dilengkapi dengan bahan tambahan seperti sayuran dan telur. Hanya saja, mides bumbu mi ayam sedikit lebih manis, dari mi deasa original yang gurih dan asin. Mides bumbu mi ayam ini patut dicoba jika anda berkunjung ke Yogya.

Meskipun dihasilkan secara instan dan coba-coba, ia tetap meneruskan produksi mides bumbu mi ayam ini. Sebab, Wardani menuturkan, dari tiga jenis mi yang disuguhkan kepada tamunya saat itu, mides bumbu mi ayam justru yang paling cepat habis dan menuai banyak pujian.

"Mau saya pasarkan juga nanti, biar jadi teman mides original," ungkapnya.

Ada pula mi pentil buatannya yang lain, pembedanya terletak pada bentuk dan warnanya saja.Kepada para pedagang Wardani menjual mi hasil olahannya dengan dua pilihan. Yakni, matang, dan mentah. "Mi pentil kami jual Rp 8 ribu per kilogramnya. Sedangkan mides Rp 10 ribu. Ini yang mentah," urainya.

Semuanya serba alami. Misalnya pewarna. Ia memilih menggunakan pewarna khusus makanan. Tetapi tak jarang Wardani memanfaatkan pewarna alami. Itu terjadi jika ada pemesan yang menginginkan mides atau pun mi pentil yang serba alami. Itu sebabnya, kedua jenis mi ini hanya mampu bertahan maksimal selama 24 jam. "Kalau kuning ya kita gunakan kunyit. Mi yang kami jual ke pasar Imogiri bungkusnya pakai daun pisang atau jati," ulasnya.

Artikel Terbaru Kami