Minggu, 02 November 2014

Mendapatkan Ratusan Juta dari Usaha Batik Allussan


Pengusaha batik wanita ini bernama Sri Lestari, 38 tahun, yang tumbuh di lingkungan pembatik di wilayah Laweyan, Solo, Jawa Tengah. Ini membuatnya tak bisa lepas dari apa itu batik, berhijrah dari Laweyan dan menetap di Sumberadi, Kecamatan Melati, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, ibu dua orang anak ini mantap memulai merintis usaha batik sendiri. Hanya usaha kecil- kecilan dibantu sang suami dan juga beberapa tetangganya.

Usaha dirintis sejak 2005 semakin berkembang pesat sejak 2009. Semua berkat waktu tepat disaat yang tepat, yaitu ada faktor UNESCO yang mengakui seni batik sebagai warisan budaya asli Indonesia membuat produknya samakin bersinar. Meski jenis batik terus berkembang Sri memilih tetap ada di motif batik klasik. Bahkan untuk pewarnaan ia tidak menggunakan bahan kimia sama sekali. Pewarna alami yang limbahnya tidak mencemari lingkungan.

Batik yang diberinya nama Allussan, mantap menghadiri berbagai galeri besar di kota- kota besar Indonesia. Bahkan, batiknya bisa mendunia, di awali di kawasan ASEAN saja dan ASIA seperti Singapura, Brunei, Philipina, serta Jepang.

"Saya tetap mempertahankan batik motif klasik, seperti ciri khas batik dari Sleman, yaitu dengan gambar binatang gajahnya. Sleman dahulu kan berasal dari kata Sulaiman yang berarti gajah," ujarnya kepada situs portal vivanews.com.

Usaha yang bermodal satu sepeda motor baru ini terus berkembang seperti penggunaan kain sutra. Batik- batik yang dihasilkan pun harganya bisa mencapai angka Rp.6,5 juta untuk satu lembar kain batik berbahan kain sutera ini.

"Pembuatan satu kain batik berbahan sutera membutuhkan waktu lama dan hanya menggunakan tangan serta bahan pewarnanya juga alami, sehingga harganya cukup mahal serta konsumennya dari luar negeri seperti Jepang," ujarnya.

Sri Lestari menjelaskan sebelum mempekerjakan karyawan, semuanya dikerjakan oleh keluarga sendiri. Seiring dengan waktu ia mulai mepekerjakan orang lain. Jumlah karyawannya kini mencapai 25 orang karyawan dan 20 karyawan lepas. Memang bisnisnya ini telah tumbuh sangat pesat bahkan pesanan dari luar negeri terus mengalir.

"Harga kain batik relatif murah, namun menyerap tenaga kerja yang banyak. Warga di Desa Sumberadi yang paling banyak terserap dalam usaha batik cap yang belum lama dibuka ini," tuturnya.

Diakui batik Allissan berkembang berkat permodalan dari PT. Permodalan Nasional Madani. Mereka terus memberikan bimbingan dalam manajemen usaha batiknya. Mereka juga membantu perluasan pasar batik Sri, serta pemberian pinjaman modal Rp50 juta dengan bunga yang ringan. "Dengan bantuan modal tersebut, terbangun beberapa galeri di beberapa kota besar di Indonesia dan berhasil membina 25 perajin batik yang ada di sekitar rumah," jelasnya.

Sri mengungkapkan dari bisnis batiknya yang merambah internasional, dirinya sanggup menghasilkan omzet kisaran Rp.495 juta. Padahal masih menurutnya di awal bisnis, ia hanya menghasilkan kisaran dibawah Rp. 10 juta. Ditambah omzet dari pameran- pameran batik yang diikutinya, baik sifatnya nasional maupun internasional, Sri mengaku mendapatkan tambahan pemasukan sekitar Rp35 juta hingga Rp140 juta untuk sekali pameran.

"Dengan pendapatan itu, kami mampu membayar pegawai minimal Rp1 juta per bulan di atas UMP Provinsi DIY yang masih di bawah Rp1 juta. Sedangkan untuk pegawai freelance, mereka mendapatkan komisi dari batik yang dijual," tuturnya.

Artikel Terbaru Kami