Selasa, 18 November 2014

Kursus Barista di ABCD Coffee Bar Yuk Kenalan

Pasar Santa, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, selintas tampak lah seperti pasar biasa tapi ada satu fenomena. Dia lah Hendri Kurniawan, seorang pemegang lisensi Q Grader (pencicip kopi) dan juri Kompetisi Barista Internasional. Bukannya memilih berbisnis di pusat perkentoran, ia malah menyewa kios yang terdiri atas tiga los yang dibuka sejak Agustus 2013.

Desain bangunan tiga lantai itu tak berbeda dari pasar pada umumnya. Yang membedakan pasar dari pasar yang dikelola perusahaan daerah ialah atmosfer bisnisnya. Pasar tersebut memang memiliki tiga lantai, yakni di basement, lantai dasar dan lantai 1. Nah, di lantai satu lah pengunjung pasar akan disuguhi satu hal yang tidak lazim di pasar tradisional kebanyakan. Ada kios- kios berukuran 2 x 2 meter yang berdekorasi unik. Di lantai itu lah, ada sekitar 350 kios, salah satunya milik Hendri.

Kios A Bunch Bunch of Caffeine Dealer atau yang biasa kita singkat ABCD milik Hendri, sukses membuat Pasar Santa menggeliat setelah mati suri sejak dibuka pada tahun 2007. Awalnya, kios tersebut yang disewa Hendri hanya dimanfaatkan sebagai tempat belajar membuat kopi dan menaruh barang- barang. Ketika itu ia memang tengah merintis usaha bukan coffee shop, tapi sekolah barista. Kenapa Pasar Santa dipilih, ya memang karena harga sewa stannya yang cukup murah, yakni Rp 3 juta per tahun.

"Sewanya murah karena pasar ini dulunya sepi. Bahkan bisa dibilang mati suri sejak diresmikan tujuh tahun silam," ujar Hendri.

Dulu, lantai 1 tempat ABCD ini berdiri kebanyakan dihuni para penjual perhiasan. Mungkin karena promosi yang gagal maka pembeli yang datang di sana jarang. Kios- kios ini pun ditinggalkan penyewanya. Menurut sejumlah pedagang di pasar, sejak satu tahun lalu, sebelum kios milik Hendiri berdiri, tempat itu sepi kurang ada aktifitas jual- beli. Geliat hanya ada di basement yang merupakan tempat basah untuk berjualan sayur- mayur. Mereka yang datang hanya ibu- ibu atau asisten rumah tangga yang berbelanja.

"Beberapa bulan setelah sewa di sini, saya janji ke pengelola pasar untuk bisa membantu meramaikan pasar ini," kenangnya. Dari situ, munculah konsep membuka coffee shop yang diberi nama ABCD. Kios itu pun kemudian disulap dengan desain sedemikian rupa.

Membantu pasar


Menarik ketika ABCD pada momen tertentu tidak memberikan tarif untuk kopi racikannya. Padahal kopi yang dijual disana banyak kopi- kopi premium. Pelanggan datang hanya akan disediakan toples untuk diisi uang seiklasnya. "Kami tak menetapkan tarif karena biji kopi yang kami miliki juga berasal dari pemberian teman- teman," ujar pria yang akrab disapa Phat Uncle itu.

Pada momen tertentu, ABCD juga menjual kopi yang langka. Salah satunya panama geisha coffee bean. Ada penyajian khusus untuk kopi satu ini. Sebelum meminum, para pembeli diajari menghirup aroma kopi sebelum diseruput. Tujuannya, mengetahui kualitas kopi tersebut. Kopi yang diimpor dari Panama itu memang premium, di pasaran harganya dibanderol lebih dari Rp 5 juta per kilogram. Sedangkan kalau sudah diseduh, satu cangkir dihargai USD 13, di ABCD, kopi tersebut dibanderol Rp 65 ribu per cup.

Kekuatan media sosial lah yang membuat kopi ini digandrungi. Menyebar secara viral di sosial media. Itu telah sukses membawa banyak pengunjung datang ke Pasar Santa. Apalagi tempat ini menyediakan berbagai even menarik. Lantaran biji kopi itu katanya berasal "gratisan", maka berbisnis bukanlah sesuatu yang mesti. Meski bukannya tak tentu, keberadaan ABCD menjadi roda baru bagi pasar tradisional.

"Mengetahui harga sewanya murah, banyak orang yang mulai menyewa dan membuka usaha di sini," ujarnya.

Saat ini sudah ada seratus orang yang masuk waiting list untuk menyewa kios terang Hendri. Rencananya juga Pasar Santa ini akan diresmikan ulang oleh Plt Gubernur DKI Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) pada 1 November mendatang.

Di lantai 1 Pasar Santa tak lagi sepi seperti sebelumnya. Banyak pengusaha berkumpul berbisnis disana. Ya, kebanyakan mereka adalah anak muda yang membuka bisnis kreatif seperti kuliner hingga butik. Hendri sendiri ketika ditanya apakah merasa teraingi jawabannya: tidak.

Banyak sekali memang tokoh- tokoh terkenal yang ikut mampir ke kios ABCD. Tim dari Jawa Post pernah berkesempatan bertemu motivator Wiliam Wongso. Dia berkata sangat mengapresiasi apa yang dilakukan Hendri dan kawan- kawanya.

"Apa yang ada di Pasar Santa ini menunjukkan betapa besar euforia masyarakat Indonesia terhadap kopi premium. Apa yang terjadi, menurut saya, melebihi apa yang terjadi di New York," ujar pria pemilik nama lengkap William Wirjaatmadja Wongso itu.

Sekolah kopi


Selain menjadi playground dan popup coffee bar tiap akhir pekan, ABCD ternyata selama ini menjalankan misi edukasi seperti konsep awalnya. Ditangan Hendri, tiap weekday, stan seluas 2 x 6 meter itu menyulap diri menjadi school of coffee. Meski tampak sempit para pelajar di sana begitu serius mengerjakan kelas kopi mereka. Jadi setiap weekday, coffee shop ditutup tak ada aktifitas jual beli di sana, Ini dimaksudkan agar para calon barista bisa berkonsentrasi dalam belajar mengolah bubuk kopi.

Menurut Hendri Kurniawan, owner ABCD Coffee Bar, pihaknya telah memiliki kurikulum yang jelas dalam pembelajaran barista.  Kurikulum yang disingkat ABCD. Kurikulum A yang diartikan sebagai Appreciation Class. Di sini para siswa mulai dikenalkan segala tentang kopi, mulai jenis kopi sampai rasa dan proses roasting-nya.

Kurikulum B untuk Brewing Class. Kurikulum itu mengajarkan sisi teknis sebagai seorang barista. Mulai penggunaan alat sampai teknis penyeduhan. Kurikulum C diartikan Cupping Class. Kurikulum tersebut mengajarkan siswa sebagai pencicip kopi. Soal yang satu ini, Hendri memang ahlinya. Dia penyandang Licensed Q Grader.

Kurikulum terakhir adalah DE atau Definitive Espresso Class. Bila sudah melewati pembelajaran itu, siswa sudah layak disebut barista. Sebab, di kelas tersebut lah Hendri mengajarkan detail cara membuat olahan espresso yang baik dan enak. Untuk ikut semua kelas, Hendri mematok tarif Rp.5 juta.

Menurut Bambang, keadaan pasar sebelum ABCD ada terlihat miris terutama di lantai 1 sepi dari penjual dan pembeli. Pria yang menjadi pengelola pasar sejak 2012 ini menyebut waktu itu ada 312 stan di antara total 1.151 stan.

"Itu pun yang terisi adalah stan pasar basah di lantai basement. Yang lantai satu (tempat ABCD), seluruhnya kosong," ujarnya. Pelan tapi pasti, kini sudah 350 kios di semua lantai disewa orang.

Menurut Bambang, ada sejumlah faktor yang membuat pasar yang didirikan pada 2007 itu mati suri. Yang pertama menurutnya lokasi pasar yang kurang strategis. Pasar Santa memang masuk ke Jalan Cipaku yang tidak termasuk jalan utama. Jalan yang hanya selebar sekitar 6 meter. Jika ada mobil parkir di tepi jalan tersebut, kendaraan lain akan terhambat.

Selain itu ada serbuan minimarket menjamur di sekitar Jalan Santa sendiri. "Faktor lainnya ketika itu mulai banyaknya PKL di luar. Akibatnya, yang jualan di dalam pasar jadi sepi," jelasnya.

Dari situlah Bambang mulai berpikir bagaimana meramaikan Pasar Santa. Sampai akhirnya, dia bertemu seorang Hendri yang awalnya menyewa stan di Pasar Santa hanya untuk tempat menyimpan barang.

"Mas Hendri ketika itu menyampaikan gagasannya agar kios-kios di lantai dua disewakan pada bisnis yang memiliki pangsa pasar komunitas anak muda," ungkapnya.

Cara Hendri memang kreatif dalam membantu Pasar Santa itu ramai lagi. Berbagai cara kreatif misalnya mengundang sejumlah komunitas pecinta kopi. Salah satunya Maryam Rodja dengan komunitas Baraka Nusantara-nya. Selama ini, dia mendampingi petani miskin di kaki Gunung Rinjani, Lombok, Nusa Tenggara Barat.

Blog:  abunchofcaffeinedealers.wordpress.com

Artikel Terbaru Kami