Jumat, 28 November 2014

Inovasi Jahe Jadi Minuman Herbal Berenergi Gujahe


Mujiono Berjuang Jadi Pengusaha

 
Mujiono merasakan getirnya hidup karena gempa pada 27 Mei 2006. Gempa yang membuat Mujiono harus memeras otak kembali, menggunakan seluruh pengetahuan yang didapatnya ketika di SMTP Pandak jurusan pengolahan hasil pertanian. Sebenarnya sebelum peristiwa itu hidupnya sudah berkecukupan. Selepas belajar di SMTP, dia sebenarnya sudah punya usaha tetap, bahkan bisa dibilang sudah menengah.

Tahun 1995/ 1996, Mujiono sudah berusaha berdagang bumbu dapur. Hasil usaha kecilnya sudah merata ke seluruh penjuru pasar tradisional di Bantul dan kota Yogyakarta pada umumnya. Keuntungan usaha bumbu dapur dirasa cukup menopang kehidupan keluarganya. Usahanya meliputi pembuatan aneka bumbu: jahe, kencur, kunyit, laos, sereh, dan gula jawa, semua berhasil dijualnya dalam kapasitas besar. Ukurannya waktu itu tak lagi berapa kilo tapi tonase.

Usaha dari nol


Perjalanan hidupnya berubah ketika gempa. Memulai usaha dari nol lagi. Apa yang bisa dilakukan Mujiono ketika bahan baku 15 ton jahe dan kencur yang baru saja dibeli 23 Mei 2006, tertimbun reruntuhan gudang penampungannya. Peristiwa gempa yang diikuti hujan, membuat jahe dan kencurnya jadi mengeluarkan tunas. Kondisi ini melahirkan inspirasi bahwa barang dagangannya masih bisa diolah untuk dijual kembali.

Idenya bahwa jika dijual dalam bentuk serbuk akan kurang laku. Harus ada inovasi dalam bentuk padat terangnya. Carnya yakni dengan mengambil sari dari berbagai macam bumbu dapur tersebut yang kemudian dicampur dengan gula jawa sebagai bahan pokok. Produk yang dihasilkan tersebut diberi label "gujahe" (gula jawa herbal). Pada awal pemasaran gujahe yakni saat pengikuti pameran di Segoroyoso, cukup mendapat respon pembeli dan mendapat pula support dari Camat Pleret.

Suatu penemuan baru dimana gula jawa yang semula hanya untuk memasak kini bisa jadi minuman instan. Berkat inovasinya tersebut, usaha Mujiono yang sempat mandek kini bergairah lagi. Bahkan dia mulai meramu- ramu dengan berbagai rempah lain. Hasilnya sedap serta menyegarkan dengan berbagai rasa alami rempah-rempah dan juga menjadi minuman kesehatan untuk terapi berbagai penyakit. Selain ada rasa jahe, ada rasa beras kencur, kunyit asam, temu lawak, kunir putih, jaffemix, dan Gula Tawon.

Usaha tersebut dibantu ibu- ibu sekitar warga Bantul korab gempa. Satu 1 butir Gujahe diseduh dengan satu gelas air panas, siap untuk diminum. Pemasaran Gujahe sendiri sudah meluas ke berbagai daerah di seluruh wilayah Indonesia dengan dibantu oleh 11 Distributor. Ia  Mujiono kemudian meluncurkan produk baru yaitu Gulajoss ( Gula Jawa dikombinasi dengan jamu ) yang berfungsi untuk theraphy berbagai macam penyakit antara lain.

Setelah kurun waktu 4 tahun, Mujiyono menghasilkan kurang lebih 40 produk Gujahe maupun GulaJoss.

Bisnis inovatif



Dalam perbincangan bantulbiz.com dengan si empunya. Bisnis Gujahe sempat booming hingga banyak orang meniru bisnisnya. Sayang, mereka tak mengerti resep rahasia milik Mujiyono. Hanya ditangannya, gujahe tidak mudah mengeluarkan jamur, produknya lebih bertahan lama. Akhirnya setelah lama para peniru itu jadi capek sendiri, satu per- satu hilang entah kemana sementara dirinya semakin berinovasi.

Gujahe produksi Mujiono dengan teknik tertentu dapat bertahan hingga 1,5 tahun. Bertenaga 12 orang karyawan bagian produksi, setiap harinya Mujiono mampu memproduksi 5 sampai 7 kwintal gujahe, dengan 40 item rasa. Gujahe yang dihasilkan tidak dijual eceran, melainkan semuanya melalui distributor. Ada 13 distributor resmi gujahe Mujiono di seluruh DIY. 

Harga jual ke distributor Rp. 6.000 per dos yang isinya 8 potong. Jika distributor memesan di atas 500 dos harganya jadi Rp.5.500 per- dos, di atas 1000 dos harganya Rp.5.000 per- dos. Sedangkan bila dipacking sendiri harga Rp. 4.500 per 8 potong. Namun demikian, untuk menjaga stabilitas harga, semua distributor harus menandatangani kesepakatan untuk tidak menjual di bawah Rp. 6.000 per dos. Rata-rata omzet per bulan penjualan gujahe saat ini Rp. 120 juta, dengan tingkat keuntungan dapat mencapai 15 % – 20 %.

Tak mau kalah dengan pengusaha muda yang memanfaatkan internet. Mujiono juga melayani pemesanan di internet. Alhasil produk gujahe miliknya telah menyebar di hampir 90 % kota Indonesia. Harga jual pesanan melalui internet Rp. 8.000 sampai Rp. 12.000 per dos. Namun untuk menjadikan mereka sebagai distributor resmi, masih membutuhkan pertimbangan yang matang. Mujiono mengisaratkan suatu kebijakan, yaitu  kebijakan tersebut yaitu kehati-hatian dalam pengangkatan distributor dan jaminan kerusakan produk.

Distributor gujahe harus mempunyai kemampuan menjual, memiliki modal dan yang paling penting memiiliki sifat jujur. Lebih jelas lagi, Mujiono mengisaratkan 3 syarat pokok untuk dapat dijadikan distributor resmi. Pertama telah menjalin komunikasi bisnis gujahe selama 1 tahun dan dapat disimpulkan mempunyai karakter jujur. Kedua dapat menjual produk gujahe dalam jumlah besar serta mempunyai modal usaha yang memadai. Ketiga harus konsisten terhadap harga jual minimal Rp. 6.000 per dos.

Sayang, meski dirinya punya visi hingga 3 tahun ke depan, usahanya masihlah home industry. Dia sangatlah berharap usahanya bisa jadi usaha pabrikan. Dengan demikian akan mampu menampung lebih lagi tenaga kerja baru. Akan tetapi untuk itu, dibutuhkan dana tak kurang dari Rp, 1,5 Millyar. Ini kendala yang belum ditemukan jalan keluarnya.

Contact Person : Mujiono d/a. Toko Arsy, Dusun
Kerto Rt. 09 – Rw. 08,
Pleret, Bantul - Hp. (0274) 7007754

Atau, http://bkmmajumakmur.blogspot.com/2011/10/gujahe-pleret.html

Artikel Terbaru Kami