Rabu, 19 November 2014

Hijab Elzatta 24 Tahun Pioner Hijab Indonesia

Sosok Elidawati mungkin asing bagi kamu, tapi wanita 50 tahun ini adalah sosok dibalik brand kenamaan Elzatta. Dia lah pemilik Elzatta produsen berbagai produk hijab bercorak yang diproduksinya di negara Turki. Dimana toko terakhir di Indonesia, didirikan di Mal Fx, menjadi toko ke-50 yang bersanding dengan Dauky, perlengkapan casual busana muslim. Menurutnya berbicara busana muslim brand -nya memiliki strategi yang berbeda dengan produk lain sejenis.
Kisah perjalanannya pun unik menunjukan bagaimana sebuah brand kuat seharusnya dipasarkan. 

Diawal berdiri, 3 bulan setelah berdiri, Elidawati pun mendapatkan hambatan pertama. Ia sempat digugat oleh sebuah lini pakaian ZARA. 

"Awalnya brand yang saya dirikan bernama "Zatta", yang diambil dari nama putri saya. Namun tiga bulan setelan brand itu dipublikasikan pihak ZARA berkeberatan. Secara tidak sengaja saya menambahkan nama saya pada brand sehingga menjadi "Elzatta Hijab"," kata Elidawati.

Akan tetapi dari situ, ia malah tersadar tentang arti pentingnya nama atau brand. Sejumlah perubahan  pun segera dilakukan oleh perempuan yang mengambil jurusan sejarah saat masih duduk di bangku kuliah ini. 

"Selain mengubah nama brand, saya mengambil langkah perubahan lainnya. Bila umumnya toko yang menjual jilbab hanya memajang produk, saya mengubah interior dan display produk Elzatta Hijab agar menciptakan kelas produk yang saya jual. Termasuk mengeluarkan ikon baru dalam produk Elzatta Hijab," kata Elidawati.

Elzatta Hijab telah berdiri selama 24 tahun, berkecimpung lama di dunia fashion hijab sebelum tren hijab ini menggema. Bisa dibilang sosoknya menjadi salah satu pioner dalam dunia fashion hijab. Ia telah memulai usaha sejak 1989. Awal karir di industri hijab dan busana muslim dimulai dari pergaulan Elidawati ketika remaja di Masjid Salman di kawasan Institut Teknologi Bandung (ITB).

"Dulu yang pakai hijab hanya kalangan tertentu, ibu- ibu pejabat banyaknya," ujar wanita 51 tahun itu saat berbincang dengan Wolipop di kantor Elzatta di Pondok Kelapa, Jakarta Timur, belum lama ini.

Suatu hari, rekannya di Masjid Salman, Fenny Mustafa memiliki ide ingin membuat brand muslim dengan produk yang lebih fashionable. Fenny meminta bantuan El, sapaan akrab Elidawati, untuk membantunya dalam mengembangkan brand-nya tersebut. El yang sebenarnya tidak terlalu mengerti dunia fashion, kala itu sempat merasa ragu untuk ikut terjun di bisnis busana muslim. Namun akhirnya wanita lulusan Pendidikan Sejarah Universitas Padjajaran (UNPAD) itu bergabung.

Fenny lalu meminta El untuk memperluas bisnisnya hingga membuka toko busana muslim di Jakarta. Toko yang jug ditempatinya dan suaminya sebagai rumah. "Bentuknya rumah biasa yang dijadikan toko. Nggak terlalu besar, di belakangnya saya jadikan tempat tinggal," kenang El.

Hijab 90 -an


El mengaku tahun 90 -an sulit untuk memasarkan hijab, tidak seperti sekarang. Hanya orang- orang tertentu yang memakai jilbab. Dan, ada pula pandangan bahwa mereka yang memakai jilbab hanya orang tua atau akan terlihat tua di zamannya.

"Saya mengenalkan hijab dengan ikut ke komunitas pengajian. Ada ibu- ibu pengajian jalan- jalan aku ikut. Kita benar-benar dari nol sampai akhirnya bisa masuk ke Sarinah Thamrin," kenang El.

Di 2012 El memutuskan keluar dari pekerjaannya dan membentuk brand hijab sendiri bernama Elzatta Hijab dibawah PT Zatta Mulya. "Keluar karena adanya regenerasi supaya perusahaan semakin maju," jelas El.

El memulai Elzatta hanya dengan 17 pekerja hingga kini sudah lebih dari 500 karyawan. Pada enam bulan pertama, wanita yang hobi travelling itu tidak menyangka bahwa produknya semakin dikenal masyarakat. Salah satu strategi agar dikenal orang adalah mensponsori hijab di sinetron 'Tukang Bubur Naik Haji'. Dari situ, semakin banyak mitra yang membuka toko.

Setiap brand baginya memang memiliki strategi berbeda- beda terangnya. "Kami mengembangkan dengan cara berbeda dan fokus," katanya. Perjalanan dan pengalaman kerja sebagai manager marketing, direktur marketing dan marketing direktur operasional di PT. Shafira memberi andil bagi dirinya.

Kini Elzatta telah memiliki lebih dari 60 toko; 40 toko mitra dan 23 toko resmi. Elzatta sendiri lebih fokus berjualan kerudung. Hijab yang mengambil bahan dan diproduksi di Turki tersebut memiliki motif warna cerah dari bahan yang lembut dan glossy. Meski 70 persen memproduksi hijab, namun 30 persennya tetap ada koleksi busana muslim. Produk yang dijual oleh Elzatta berkisar dari harga Rp 60 ribuan sampai Rp 150 ribuan.

"Corak dan motifnya dari Turki, dikerjakan di pabrik Turki," kata Elida, lulusan jurusan Sejarah Universitas Padjajaran pada 1988.

Inspirasi hijabnya ini dari kerudung bahan paris polos yang dipakai mulai dari kelas bawah hingga sekelas ibu menteri. Ia mencari bahan yang pas hingga ke Turki dan akhirnya menemukan model scarf bercorak warna warni yang mempercantik kaum wanita. Target konsumen untuk usia 23 tahun hingga 35 tahun.

"Tahun ini kami akan melebarkan sayap ke Sumatera seperti Pekan Baru, Aceh sampai Papua. Fokus kami di luar Jawa," katanya.

Artikel Terbaru Kami