Sabtu, 01 November 2014

Fahira Fahmi Idris Sukses Berkat Bisnis Parcel


Biografi Fahira Fahmi Idris


Siapa Fahira Fahmi Idris, ialah putri dari politikus senior asal partai Golkar, ya, dialah putri dari Fahmi Idiris. Meski memikul nama besar milik sang ayah, wanita kelahiran 20 Maret 1968 ini punya gaya tersendiri, baik ketika berbisnis ataupun saat menjadi seorang politisi. Dikenal sangat aktif di sosial media Twitter, ia dikenal vokal menyangkut kehidupan sosial bermasyarakat. Fahira semakin menarik perhatian dengan gayanya yang berani menghadapi FPI. 

Wanita yang berani mengkritik keras tindak tanduk FPI, ia bahkan berani mendatangi kantornya, mengajak berdiskusi dan menyampaikan keluhan masyarakat. Ditengah kesibukannya sebagai seorang pengusaha, Fahira juga aktif di berbagai organisasi sosial, diantaranya di Persatuan Menembak dan Berburu Indonesia (Perbakin). Di organisasi yang didominasi pria itu, Fahira menjabat sebagai Ketua Harian Perbakin Pengda DKI Jakarta.

Di organisasi Saudagar Muda Minang Fahira menjabat sebagai Ketua Umum DPP.

Bisnis parsel


Berdarah minang, tentu ia menjadi sosok yang tangguh terutama dalam berbisnis. Bisnis awalnya yaitu bisnis parsel dan bunga. Fahira sendiri berbisnis ketika usianya 20 tahun beranam Nabila Parcel & Florist, ketika itu ia masih mengenyam pendidikan di Universitas Indonesia. Meski lahir di keluarga yang berkecukupan tidak membuatnya berhenti berempati dan memilih bekerja keras. Dia sendiri mengaku merasakan masa kanak- kanak yang sangat membahagiakan.

"Masa kecil saya lalui dengan bahagia," kenang Fahira. 

Kedua orangtuanya mendidik Fahira dengan pendidikan penuh kedisiplinan dan juga selalu mengedepankan kesederhanaan. "Saya bangga memiliki orangtua yang mengajarkan kesederhanaan," ujar Fahira. Ketika ia masih kecil, dia bercerita pernah disekolahkan di SD Argentina, Jakarta selama tiga tahun. Ia lantas pindah saat menginjak kelas 4 SD ke SD Besuki, Jakarta. Fahira kemudian melanjutkan pendidikannya ke SMP Al-Azhar dan SMA Al-Azhar.

Memang darah Minang yang berasal dari sang ayah sangat kental terasa dalam diri Fahira ketimbang darah Banjarmasin dari sang ibu.

"Saya saat bersekolah sudah mulai berjualan, jadi saya merasa sebagai orang Minang," ujar Fahira sembari tertawa lebar. Waktu itu Fahira sudah berjualan kaos dan kartu ucapan saat masih duduk di bangku sekolah. "Waktu itu, keuntungannya lumayan loh," lanjutnya singkat. Ditelisik lebih dalam, di sebuah wawancara dengan akun @bukalapak, ia menyebut bahkan sejak sekolah dasar telah berani berjualan. Jualan apa? Dia menjelaskan berjualan perangko, dan bisnisnya terus digeluti dari SMP sampai kuliah.

"Saya menjual kaos saat SMP dan menjual kue saat SMA. Ketika berkuliah di Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, saya membuka usaha parsel. Saya pun mendapat dukungan dari ayah yang saat itu belum menjabat sebagai menteri," imbuhnya.

Sang ayah mendukung usaha apa saja yang dilakukan asal dia menyenanginya. Saat duduk di bangku SMP, empatinya terasa, kepedulian sosial Fahira juga mulai terlihat saat meletusnya gunung Galunggung di Jawa Barat pada tahun 1982. Ia bersama anggota PMR (Palang Merah Remaja) di sekolahnya pergi ke daerah di sekitar gunung Galunggung guna memberikan bantuan bagi warga sekitar terdampak bencana.

"Jadi sebenarnya kegiatan di Padang, bukanlah kali pertama saya terjun langsung," aku pemilik yayasan Nabila Zahra yang menaungi sekitar 60 yatim piatu ini.

Sedari kecil hobi membuat pernak- pernik. Fahira selalu sangat sibuk ketika ada temannya berulang tahun. Ia serius mengerjakan kado dari membeli, membungkus dan menghias. Mungkin dari situlah ide membuka bisnis parsel berkembang. Selain itu karena sering pergi berburu bersama ayahnya, jadilah Fahira menyukai hobi berburu. Dua hobi yang kemudian mengilhami dua usaha berbeda satu sama lain, dari parsel hingga klub menembak.

"Saya juga hobi berburu. Ketika berburu di hutan, saya sering melihat orang-orang membuka lahan untuk mencari minyak dan gas. Ini memberi saya ide untuk membuka bisnis perminyakan hingga sekarang," jelas Fahira tentang mengapa usahanya kini ada di bisnis perminyakan.

Lulus SMA di tahun 1986, Fahira lantas sempat melanjutkan kuliah di Jurusan Matematika, Universitas Padjadjaran, Bandung. Namun, hanya setahun ia mengenyam bangku kuliah di kota Kembang, dia justru memilih untuk berkuliah di Fakultas Ekonomi, Universitas Indonesia (UI), Jakarta. Sambil mengenyam bangku kuliah, dia mulai merintis bisnis parsel bersama sepuluh teman kuliahnya.

Perusahaan parsel yang awalnya bernama Bella Parcel tersebut lantas diubah menjadi Nabila Parcel, setelah kepemilikannya diambil alih Fahira secara penuh. Sejak saat itu bisnis parsel miliknya bekembang pesat. Tak hanya di ibu kota, ia sukses melebarkan nama usahanya ke penjuru tanah air. Nama Fahira menjadi ikon kualitas produk pasel bunga milik PT. Nabila Bunga Parsel Internasional. Setelah matang di dalam negeri, ia pun merambah pasar luar negeri untuk kebutuhan ekspor.

Meski sang ayah menjabat menteri di dua periode, Fahira mengaku sama sekali tidak pernah memanfaatkan nama besar sang ayah dalam membangun bisnisnya.

"Justru bisnis saya itu sudah saya tekuni jauh sebelum ayah saya menjadi menteri," aku Fahira yang tak suka berjalan-jalan di mal ini. Semula berawal dari berjualan perangko, Fahira kecil ketagihan mendapatkan uang dari usaha sendiri sampai sekarang.

Sejak muda ia selalu diberi uang pas- pasan untuk akomodasi. Jadi menjadi pengusaha menjadi sesuatu yang menyenangkan bisa menghasilkan uang sendiri. Untung dari memiliki bisnis kaos, kue, dan parsel, uang dari bisnis itu bisa digunakan berbelanja bahkan jalan-jalan keliling Eropa selama liburan musim panas. Selain juga sibuk berbisnis parsel yang kian berkembang, Fahira juga mulai aktif di beberapa organisasi sekaligus. Salah satunya adalah di Persatuan Menembak dan Berburu Indonesia (Perbakin).

Industri migas


Sukses di bidang parsel tidak membuat dia berhenti berbisnis di satu bidang. Dia memilih berbisnis migas di kawasan sekitar pulau Sumatra. Wanita yang penuh semangat ini lalu menjelaskan apa itu bisnisnya disana. Fahira menyisir perusahaan- perusahaan minyak di sekitar Sumatra. Mereka membutuhkan berbagai layanan seperi transportasi dan rumah portable. Nah, itualah apa yang dikerjakan bisnisnya sekarang. Adalah sebuah peluang yang tidak banyak dibidik orang.

"Orang kan ngebor minyak, mereka perlu service- service yang lain. Misal, helikopter. Nah saya saat ini menyewakan helikopternya yang membawa orang dari titik satu ke titik yang lain," jelasnya.

Usahanya selain menyediakan helikopter itu, Fahira juga melayani kebutuhan propaken bagi proyek- proyek strategis pengeboran minyak. Propaken, lanjutnya, adalah kontainer- kontainer yang  dijadikan perkantoran atau perumahan. "Ini nanti ditempatkan di hutan. Itu bisa dibikin," tambahnya.

Ia menambahkan harga yang dipatoknya untuk propaken bisa mencapai puluhan juta rupiah. Salin ada sistem jual, ia menambahkan sistem sewa untuk propaken yang telah siap pakai. Modalnya puluhan juta, dimana kebanyakan meminta sistem sewa. Bentuk propaken yang dimiliki Fahira adalah perkantoran, tapi bisa pula dibentuk menjadi tempat beristirahat. Selain bisnis baru di industri migas, ia mempunyai keinginan membuka sekolah merangkai bunga.

Ide ini berawal dari kecintaannya pada dunia florist tersebut. Ia masih melihat belum ada sekolah khusus untuk mendalami ilmu tersebut. Padahal, jika dijalankan dengan sungguh-sungguh, bisnis ini dapat menembus pasar internasional dengan omzet mencapai ratusan juta rupiah setiap bulannya. "Kalau untuk bisnis bunga dan parsel yang ingin saya tambah adalah sekolahnya. Kan orang bisnis bunga parcel ini butuh sekolah juga. Ini belum ada sekolahnya," tutupnya.

Artikel Terbaru Kami