Kamis, 20 November 2014

Dirut Termuda BUMN Lailly Prihaningtyas Kisahnya


Laily Prihatiningtyas, yang masih 28 tahun, sudah menjadi Direktur Utama sekaligus yang termuda di jajaran perusahaan milik negara, tepatnya ia kini memimpin PT. Taman Wisata Candi (TWC), yang menangani candi Borobudur, Prambanan, dan Ratu Boko. Lalu, siapakah dia, Tyas ternyata hanya lah Pegawai Negeri Sipil yang bekeja dibawah Kementrian Badan Usaha Milik Negara. 

Gadis yang kerap disapa Tyas ini mengaku bingung ketika ditunjuk mantan Menteri BUMN Dahlan Iskan memimpin candi.

Muda berprestasi


Tyas tak pernah bermimpi menyandang status sebagai direktur utama. Jabatan terakhir yang disandangnya ialah Kepala Penyajian Informasi Divisi Riset dan Informasi Kementerian BUMN. Penampilannya pun tak ada yang berubah meski telah dinobatkan menduduki pucuk pimpinan, masih tetap saja simpel dan tanpa dandanan menor ataupun memakai lipstik untuk memperindah bibirnya.

"Kesempatan yang saat ini sedang diberikan kepada saya, memahami publik dari kebijakan serta efeknya dalam ranah implementasi," kata Tyas, sudah satu tahun kurang semenjak pengangkatannya.

Meski awalnya kaget ia tetap menjalani dengan sanang hati. Bahkan ternyata Tyas sempat stress juga ketika pertama kali ditunjuk. Sebuah beban akan disandangnya nanti.

"Kalau itu saya rasa normal ya, setiap orang masing-masing kita punya perbedaan menghadapi sesuatu. Awalnya saya juga mikir ngapain gitu susah-susah jagain candi, tapi lama-lama ya sudah jalanin saja dan coba lakuin yang terbaik. Kepercayaan Pak Dahlan terhadap anak muda dan wanita perlu digaris bawahi," jelas Tyas saat ditemui JPNN.com di Jakarta baru- baru ini.

Predikat bos memang membuat hidupnya berubah. Saat menaiki elevator, pertama kali setelah pengumuman beberapa kolega  menggoda dengan memanggilnya "Ibu Dirut". Yang paling "mengganggu", ialah ratusan telepon dan pesan pendek dari wartawan dan teman yang memberi usapan selamat. "Padahal baru fit and proper test," katanya tersenyum.

Tyas hanyalah gadis muda biasa disaat baru masuk ke Kementerian BUMN. Berasal dari Jombang, Jawa Timur, ia dicap tomboi saat kecil karena kerap bermain layang- layang. Tumbuh dalam suasana sederhana, dandanannya sejak remaja sampai kini tak berubah: berkerudung, celana bahan, dan tanpa gincu di bibir. Sedikit cerita tentang dirinya lebih dalam. 

Ada sebuh kisah di balik pemberian nama Prihaningtyas. Di hari kelahirannya, ayahnya, Abdul Rohman, tidak ada di samping ibunya. Ayahnya hanya guru yang sedang berdinas di Madura dan tidak memiliki uang untuk pulang waktu itu. Sang ayah bahkan baru kembali ke rumah saat usianya menginjak 4 tahun, prihatin begitulah. Adapun Laily dalam bahasa Arab berarti malam, atau mutiara dalam bahasa Persia. 

Justru dari kesederhanaan hidup, ia menjadi sosok tegar menghadapi tantangan. Tyas menjadi sosok yang melakukan semuanya sendiri. Ia memang selalu menjadi bos bagi dirinya sendiri. 

"Yang penting, semua dilakukan bukan dengan sepenuh hati, tapi sebaik mungkin," kata lulusan akuntansi keuangan Tilburg University, Belanda, ini

Tyas akan berada didepan komputer sampai pagi untuk menyelesaikan tugas. Tipe seorang pekerja keras begitu kami sebut. Terkadang, dia membawa pulang pekerjaan ke apartemennya di kawasan Rawasari, Jakarta. Sebelumnya, dia kos di daerah Kwitang. Cuma memejamkan mata beberapa jam, dia sigap bekerja kembali esok pagi. Untuk menghilangkan rasa jenuh, Tyas mendaki gunung. Hobi yang telah digeluti sejak empat tahun belakangan.

Sebelumnya dia hanyalah pemimpin empat rekan dalam sebuah tim. Kini, ia menjadi pemimpin untuk 600 orang karyawan, termasuk pekerja alih daya.  Tapi dia percaya bisa menginspirasi setiap orang dibawah kepemimpinannya untuk bekerja. "Kepemimpinan harus bisa menggerakkan orang lain untuk bertindak," kata pengagum berat Sri Mulyani ini.

Sejumlah prestasi pernah dicatatnya di Kementrian BUMN. Salah satunya adalah menjadi pejabat eselon IV termuda di usia 26 tahun. Tyas juga merangkap Sekretaris Dewan Komisaris PT Perusahaan Pengelola Aset (Persero) BUMN. Dengan posisi tersebut wajarlah ia selalu akrab dengan para pengambil keputusan. Bukan karena apa, dia memang memiliki karir yang cemerlang, pantaslah jika Menteri BUMN kala itu melirik dia sebagai Direktur BUMN.

Menjadi Dirut termuda


Menjadi Direktur Utama bukan membuatnya sok- sokan. Ia juga punya trik- trik tersendiri untuk menangani mereka karyawan yang usianya lebih tua. yakni mendatangi langsung karyawan tersebut dan mengajaknya ngobrol, entah menyoal kerjaan maupun keseharian mereka.

"Rasa seperti itu pasti ada ya, banyak yang lebih tua dari saya umurnya atau beda generasi, pasti ada rasa nggak enak. Ngatasinnya, paling nggak kita mau repot-repot ngajak mereka ngomong, kalau bahasa jawanya "ngewongke wong". Lama-lama mereka mencair," beber wanita berpenampilan sederhana ini.

Saat dirinya ditanya bagaimana rasanya bekerja menjadi dirut PT. WTC. Tyas pun menjawab bijak, wanita berjilbab ini bersyukur dan menganggap tugasnya sebuah kesempatan untuk dijadikan satu pengalaman. Hampir satu tahun ia telah bersentuhan langsung dengan masyarakat yang ada di kawasan Borobudur, termasuk bergaul dengan preman. Berbagai pengalaman menarik didapatkan selama ia memimpin PT TWC Borobudur.

"Banyak yang berkesan, saya nggak kebayang bisa kenal sama masyarakat kecil, pedagang, budayawan, ngomong sama preman. Di situ saya jadi tahu ternyata banyak sekali dari berbagai kalangan yang mau dateng untuk membantu waktu abu gunung Kelud sampai ke candi, entah akademisi, keagamaan. Itu menunjukkan bahwa Borobudur punya kita semua," seru Tyas.

Pengalaman sebagai direksi, lanjut Tyas, bisa memberinya manfaat jika sewaktu- waktu kembali bertugas di Kementerian BUMN.

"Yang jelas policy maker itu sifatnya makro ya. Setelah jadi direksi kan aku harus implementasi hasil kebijakan, jadi tatarannya mikro. Aku jadi mengerti efeknya, termasuk bawaan dari kebijakan yang dibuat," paparnya.

Meski disibukkan mengurus candi dan segala hal yang bersentuhan, wanita yang 22 Desember nanti genap berumur 29 tahun ini masih getol menjalani hobi yang sudah lima tahun terakhir ia gemari, yaitu naik gunung. Berbagai gunung sudah ia daki, seperti Gunung Rinjani, Gunung Semeru dan Gunung Bromo. Pengalaman selama tujuh tahun di BUMN telah mengajarkannya untuk tidak memusingkan hal kecil yang tidak penting. 

Ia berfokus pada hal yang penting saja: keluarga, pekerjaan, teman, dan kesehatan. Tapi sepertinya Tyas melewatkan satu hal: pasangan hidup. "Mungkin saya masih terlalu muda untuk berpikir tentang itu," katanya sambil tertawa terbahak.

Artikel Terbaru Kami