Selasa, 25 November 2014

Desainer Gaun Pengantin Berbakat Gladys Natalia


Sukses Bisnis Bridal Gladysposa


Memulai sejak umur 15 tahun, kini pakaian rancanganya telah bernilai puluhan juta rupiah. Dan, di usianya yang ke 26 tahun, Gladys Natalia telah memiliki apa yang diimpikan setiap gadis remaja. Muda, cantik, dan karirnya yang cemerlang. Siapa dia? Tak banyak yang diketahui secara mendetail tentang kehidupan pribadi, tapi biarlah karyanya yang menjawab, mari kita telisik walau sedikit.

Suksesnya melambungkan Gladysposa Brides sejak 2012, menjadi satu bukti bahwa desainer muda pun dapat sukses di bisnis bridal atau bisnis pakaian wedding. "A woman should have brain, beauty, and behavior and a passionate curious person, she’s doesn’t try to become a women of success, but become a woman with value", itulah kutipan yang selalu menjadi pegangannya. 

Yang dimiliki Gladys adalah bakat yang telah diasah sejak kecil. Awalnya, ia mengaku mendesain cuma untuk mengisi waktu sepulang sekolah. Lalu, seiring waktu, Gladys mulai mencintai desain, memilih untuk kursus desain dan dari sanalah ia fokus menekuni hingga kuliah di bidang fashion desain. Selepas dari Raffles Design Institute, Shanghai, dua tahun lalu dan kembali ke Indonesia, lima kali ia ditolak saat melamar pekerjaan, tapi ia tak berputus asa.

Bisnis mandiri


Dari pertama kali mendirikan usaha, ia telah mencoba melamar pekerjaan hingga lima kali. Gladys mencoba melamar bekerja menjadi asisten desainer. Alasan mereka sih, tidak membutuhkan asisten baru. Tapi dia tahu betul bahwa asisten desain memang cocok- cocokan. Jadi akan sulit untuk ada lowongan baru yang tersedia. Karena tak ada pekerjaan selam satu tahun, daripada menganggur, akhirnya kursus macam- macam. Ya, dari kursus desain, kursus masak, dll.

Akhirnya ia memutuskan untuk memulai usaha sendiri. Usaha yang bernama Gladysposa ini resmi didirikan pada bulan Agustus 2012. Meski kedua orang tuanya lebih dari cukup untuk membantunya, itu tak cukup. Gladys ingin mandiri meski orang tuanya punya perusahaan otomotif di berbagai tempat di Indonesia. Dari merasakan susahnya cari pegawai lewat koran, mengatasi mereka dari nol, itu telah ia alami semua. Tapi menurutnya itu bukanlah masalah.

Namanya pengalaman pasti punya pembelajaran dibaliknya. Pengalaman pertama mengikut pameran ada di 1 exhibition di Ritz Carlton, ada sebuah bazaar wedding yang dia sengaja ikuti untuk memamerkan 6 baju dan dress kid saja, kurang lebih total ada 8 pieces. Ketika itu selain pakaian wedding, ia juga menyasar pasar anak- anak, ia memilih  desainer kids customed yang memang memang masih belum ada di Jakarta. Jadi marketnya masih sangat luas imbuhnya. Dan, ternyata memang benar, marketnya sangatlah bagus.

Ada tanggapan yang luar biasa. Usaha yang baru saja tumbuh itu pun sudah tumbuh lagi. Meskipun begitu, di belakang sebenarnya ada banyak lika- liku manajemen yang terjadi. "Orang tua saya adalah tipe orang yang tidak mengajari saya harus seperti apa. Nasihat mereka : saya harus nyebur kolam dulu. Sampai akhirnya tidak bisa keluar, baru mereka tarik saya ke luar. Jadi apapun yang saya kerjakan, saya sendiri yang cari solusinya," ungkapnya.

Dia lalu mempelajari dulu sistem manajemennya seperti apa. Buka-buka internet dan sebagainya. Nah, dalam setahun, lewat 2 bulan setelah ikut pameran itu, akhirnya ia mendapat mitra bisnis sekelas Ciputra World (Surabaya). Dia mengisi setiap acara mereka. Setiap kali billboard Ciputra World mendapat event, mereka pakai karya- karyanya. Misalnya saja tanggal 21 November 2012, ia memamerkan rancangan dia yang waktu itu bertemakan La Vie En Rose di Ciputra World Surabaya.

"Busana saya waktu itu terinspirasi dari keindahan bunga mawar dengan pilihan warna-warna pastel seperti putih, pink, atau biru. Walaupun ada pula warna tegas seperti merah," jelasnya.

Kemudian Gladysposa ikut acara MNC TV dan Fashion TV. Beberapa kali ia ikut fashion show di acara TV mereka selama selang waktu 6 bulan. Dan di bulan ke-7 dan ke-8, Gladys sudah mendapat fashion show di Pasific Place dan beberapa mall lainnya. Awal tahun 2012, ia juga beberapa kali sudah mengadakan road fashion show tunggal sendiri di Ritz Carlton.

"Saya merasa sangat berterima kasih kepada Tuhan karena tidak sampai setahun, saya sudah bisa mendesain baju Miss World untuk September besok," tutupnya.

Pencapaian


Ciri khas karyanya adalah semuanya pasti berhubungan dengan rose atau mawar. Kalau tidak bordirannya, siluetnya, atau apapun semua berhubungan dengan rose. Dan saya tidak pernah lepas dari itu karena saya pikir itu adalah signaturenya. Kalau nama caracter designnya "La vie en Rose," menampilkan keindahan, desire, love, beauty, romantic, dan sweet. Bahannya memakai bahan silk atau organza. Semuanya itu hasil karyanya adalah handmade.

Mengerjakan apa yang dicintai, yakin bahwa pekerjaan apa dilakukan akan membuatnya bersemangat tetap berkarya. "Choose a job you love, and you will never have to work a day in your life", kira- kira begitulah motonya. Kalo cuma passion belum tentu menguntungkan. Nampaknya Gladys tau ini, nyatanya bisnis di bidang fashion itu tak ada matinya. Menjadi kebutuhan mendasar manusia.

Di mata gadis cantik ini ada juga peluang bukan sekedar menjalankan pekerjaan yang hanya disenangi saja. Dalam bisnis fashion, khususnya untuk wedding, pembuatan setiap busananya tidak sesederhana seperti yang ada di bisnis fashion di bidang retail. Oleh karena itu, butuh sedikit waktu lebih untuk mengerjakan satu baju saja dimana proses pengerjaannya pun secara handmade. Selain itu, harus ada batas waktu yang ditetapkan olehnya sehingga dalam pengerjaannya tidak terburu-buru serta tidak mengecewakan klien.

Namun, setelah produk jadi harganya bisa tinggi, harga jual 1 wedding gown rata- rata mencapai Rp.50 juta keatas. Jadi sudah terbayang yang bisa dihasilkan gadis muda ini sepanjang karirnya.

Kini, Gladys pun siap menggarap pasar premium. Semua berkat kerja keras dan penghargaan yang telah ia dapatkan. Selain menjadi seorang bridal designer, kids designer, dan yang akan datang ia akan masuk ke lingerie designer juga. Untuk bridal saya juga buat shoes wedding. Gaun premiumnya akan dijual di pasaran berkisar Rp 50-80 jutaan per piece. Catatan aneka penghargaan putri pertama dari 2 bersaudara pasangan Sugiharto dan Linda Purnawan ini memang layak memasukan dirinya sebagai generasi usaha bridal bermasa depan cerah.

Portofolio tersebut di antaranya :

1. Pernah menangani event-event besar sekelas Miss World Fashion Designer, Miss Earth Fashion Designer, serta Harpers Bazaar Event di Ritz Carlton.

2. Sering berkolaborasi dengan MNC TV dan Ciputra World Surabaya untuk setiap event-eventnya.

3. Pernah membuat baju robotic pada saat berumur 18 tahun. Baju tersebut hanya berupa rok pesta, dimana di dalamnya terdapat tombol sehingga ketika ditekan, rok tersebut dapat terangkat menjadi sebuah rok pendek. Waktu itu, gadis kelahiran Surabaya 25 Desember 1988 ini mengambil tema Cultural  Futuristic, yakni perpaduan antara baju daerah dengan bayangan era beribu-ribu tahun mendatang dimana semuanya terbayang serba robotic yang canggih.

4. Mendapat award bergengsi pada saat berusia 19 tahun yaitu, “The Youngest Bridal Designer,” di sebuah event The Pallace Jewelery.

5. Awal Juli 2013, mendapatkan award 3rd Runner Up Miss Wirausaha Kreatif Indonesia tahun 2013. Dan sekarang mulai masuk ke dunia Kementerian untuk menjalankan tugasnya memajukan pembangunan Indonesia terutama sebagai ikon young enterpreneur.

Setiap orang pasti mengalami titik lelah atau titik jenuh dalam melakukan sesuatu hal secara terus menerus dan dalam jangka waktu yang lama pula. Tidak terkecuali seorang Gladys Natalia yang pernah merasakan frustasi dalam menjalankan bisnis di bidang fashion ini.

Saat ia berada dalam kondisi tersebut maka yang dilakukannya adalah menyendiri di ditempat yang tenang untuk berkontemplasi. Kemudian, ia akan akan memutar musik yang berirama jazz. Perlahan, dia pun mulai dapat masuk kedalam suasana yang nyaman sehingga muncul imajinasi- imajinasi yang menghasilkan ide baru untuk merancang suatu gaun atau busana.

"Saya ingin go international, terutama untuk lingerie, saya melihat pasar internasional itu lebih bagus daripada pasar Indonesia. Karena orang Indonesia masih cenderung menahan diri untuk membeli suatu lingerie buatan desainer sementara antusiasme pasar luar negeri terkait produk ini memang lebih tinggi."

Dalam menjalankan bisnis, seorang entrepreneur itu juga penting untuk menentukan GOAL dan vision. Set your goal, dan jadikan itu sebagai support dan ambisi saat kamu merasa putus asa dan kehilangan semangat. Dengan memiliki vision dan goal yang telah ditentukan maka perjalanan bisnis kamu akan semakin terarah dan akan lebih mudah dalam mengendalikannya.

Artikel Terbaru Kami