Jumat, 21 November 2014

Decky Suryata Menyulap Salak Pondoh Jadi Jutawan


Biografi Decky Suryata


Sejak bangku sekolah menengah di Yogyakarta sosoknya memang gemar berbisnis bahkan sejak sekolah dasar. Terakhir, ayah dua anak ini dikenal sebagai pengusaha muda sukses berkat aneka olahan berbahan salak pondoh. Siapa dia, bagaimana cara bisnisnya mencapai kesuksesan seperti sekarang. Menelusuri lebih dalam kamu akan menemukan sosok tahan banting. Meski sudah berbagai bisnis dilalui dan berhenti di tengah, dia tetap melanjutkan setiap ada kesempatan bisnis baru.

Decky Suryata lahir di Klaten, Jawa Tengah, pada 28 Desember 1983, dimana semenjak kelas 3 SD ia telah berbisnis mandiri. Ia yang punya banyak komik menumpuk di rumahnya, memilih untuk menyewakannya. Dia menyewakan komiknya itu dengan harga Rp200,00-Rp300,00. Decky juga pernah berjualan macam- macam aksesoris seperti gantungan kunci. Cukup membawa produk tersebut dari tetangga kemudian dijual ke teman- temannya waktu itu ia masih tinggal di Kalimantan.

Burger' Qu


Pindah ke Yogyakarta, bisnis Decky masih bekisar di kegiatan pinjam- meminjam buku, tidak hanya komik. Dia memang menyukai kegiatan membaca buku. Dia ingin agar teman-teman sebaya dia di desanya juga suka membaca buku.

"Awalnya saya bisnis jual-beli handphone (HP). Saya jual HP pemberian ayah yang mestinya untuk alat komunikasi. Keuntungannya saya gunakan untuk beli HP yang selanjutnya dijual lagi," kisahnya tentang bisnis lain semasa sekolah menengah.

Dari bisnisnya ia bisa punya counter  telepon sendiri di kawasan Jalan Monjali.  Sebagai seorang remaja, Decky mengaku memang tergolong nakal. Jujur- jujuran, sebagian dagangan miliknya kala itu adalah barang black market alias tak resmi . Dan,  dari 10 barang yang ia berhasil jual, paling hanya 1 atau 2 yang bagus.  Karena  itulah di tahun 2006 kiosnya ditutup. Ia juga pernah berjualan chip operator seluler bekas. Namun, bisnisnya gagal lagi, karena chip bekas nya hilang.

Oleh karena bisnisnya bangkrut ia butuh berhenti sejenak... Decky memutuskan untuk menikah di waktu itu ketika bisnisnya mandek dan kuliahnya di UGM tersendat. "Nikah! Ha ha ha... Habis mau bagaimana? Kuliah saya di Fakultas Ekonomi UGM mampet, bisnis bangkrut, jadi nikah sajalah. Siapa tahu justru ada rezeki. Saya menikahi teman SMA saya, namanya Fara. Sekarang anak kami sudah dua," kisahnya yang tak berhenti di kegagalan.

Tiga bulan sejak menikah ia ingin berbisnis lagi. Kala itu Pakdhenya punya usaha sendiri dan Decky pun ingin ikut nimbrung dalam bisnisnya itu. Ia ingin mandiri meski harus dari nol lagi. Apa yang dilakukannya? Ia kala itu berjualan burger keliling. Melalui bisnis burger dia dikenal, usahanya cukup ambisius karena memang ada cara terbaik mengembangkan bisnisnya. Decky memanfaatkan sistem waralaba kala itu yang memang masih jarang untuk bisnis burger.

Tumbuh pesat dari 40 gerai jadi 60 gerai dalam beberapa tahun. Akhirnya, bisnis yang bernama Burger' Qu itu laris manis tumbuh sampai ratusan gerai di berbagai tempat. Selain burger Burger' Qu juga menawarkan hotdog dan kentang goreng. Tepat di tahun 2009, Burger' Qu tak lagi menawarkan waralaba karena sudah terlalu banyak. "Saya tidak lagi mengembangkan waralaba yang pernah saya tawarkan sebelumnya," kata Decky yang gerainya telah tersebar di Jakarta, Yogyakarta, dan Surabaya.

Memang harga kemitraan yang ditawarkan bisnis Burger' Qu tergolong murah, dibawah 10 juta. Waktu iu ia menawarkan tiga paket kemitraan Burger'Qu. Yakni, paket medium, eksklusif, dan super eksklusif. Dimana paket- paket ekonomisnya banyak dilirik. Untuk paket medium, jelasnya mitra harus menyiapkan investasi awal hanya sebesar Rp 4 juta. Dengan modal sebesar itu, mitra akan mendapatkan satu unit gerai, peralatan memasak, pelatihan pegawai.

Selain itu, ada pula paket bahan baku awal untuk kebutuhan operasional selama dua hari pertama senilai Rp 220.000. Sementara untuk paket eksklusif, mitra akan mengeluarkan uang sebesar Rp 6 juga. Mitra akan mendapatkan fasilitas yang sama dengan paket medium. Cuma bedanya pada paket ini ada penambahan fasilitas promosi berupa banner atau spanduk. Paket ketiga adalah paket super eksklusif dengan investasi awal Rp 18 juta.

Paket eksklusif ini lebih lengkap karena ada penambahan pada perlengkapan promosi berupa banner dan juga neon box, disertai gerai yang lebih berkelas dan menarik. Kerja sama untuk tiga paket itu berlangsung selama tiga tahun, setelah itu harus diperpanjang lagi. Pada saat itu, Decky menjanjikan, setiap mitra dapat menjual burger sebanyak 20 porsi sehari dengan harga berkisar Rp 5.000-Rp 7.000 per porsi. Dari situ, mitra akan mendapat omzet Rp 5 juta per bulan.

Sebuah keuntungan dengan hanya menjual makanan cepat saji. Usahanya pun terus berkembang hingga bisa mencapai 350 outlet di seluruh Indonesia. Namun, bisnisnya akhirnya berhenti karena pebisnisnya sudah mulai banyak sejak 2009- 2010. Barulah kemudian, ia memiliki bisnis lain yaitu salak pondoh yang menjadi kuliner khas Yogyakarta.

Bisnis salak pondok


Dicky berserta istrinya sama- sama mensurvei pasar. Ia juga menemui para petani salak pondoh. Dan dari apa yang didengarnya kenyataan sungguh sangat menyedihkan. Dia menjelaskan bahwa bila musim panen, harga salak para petani anjlok dan hasil panen dibiarkan busuk. Jadi tiap kali pa­nen, petani menggali tanah lagi untuk menimbun salak busuk itu sebagai pupuk. Lebih parah lagi bila tiba musim buah musiman seperti durian dan rambutan, harganya semakin jatuh.

Bertolak dari kepedulian itulah dia dan istri mau membeli hasil panen petani lebih tinggi dari para pengepul. Lalu, apa yang dilakukannya, bersama istrinya malah mencari- cari cara mengolahnya. Biar gak terbuang apa yang sudah dibelinya. Di Yogyakarta sendiri, salah pondoh bakan seolah menjadi limbah karena memang saking banyaknya dan terkadang tak terjual baik. Dikatakan Decky lagi, padahal jika di luar Yogyakarta, salak pondoh sangat diminati masyarakat, bahkan harganya cukup mahal, tapi disini seperti 'sampah'.

"Atas dasar itu, saya memikirkan bagaimana 'sampah' ini bisa jadi 'emas', muncu lah ide dijadikan makanan seperti cake, sirup dan bakpia, apalagi bakpia isi salak belum ada di daerahnya yang terkenal juga dengan makanan khas bakpia-nya," tuturnya.

Tapi masalahnya, kata Decky, dirinya tidak punya keahlian membuat cake, sirup apalagi bakpia. Tak patah arang, dia bersama sang istri cari- cari resep, mulai cari di-internet, resep warisan keluarga. Dengan berbagai macam percobaan akhirnya ketemu resep andalan dan rahasia brownies dan bakpia dari buah salak pondoh. Sebagai tambahan sang istri tidalah pandai memasak. Semuanya mereka lakukan secara otodidak malah juga secara eksperimental.

"Istri saya, kan, tidak punya basic  memasak. Makanya saya kumpulkan aneka resep kue. Akhirnya ketemu brownies kukus salak pondoh. Saya mempromosikannya lewat media sosial. Begitu kue keluar dari kukusan dan bentuknya sudah kelihatan bagus, saya foto. Langsung saya  upload.  Soal rasa belakangan, hajar saja," celetuknya.

Waktu itu ia menjaslak hanya bermodal sekitar Rp 4 juta- an, itu pun sebagian merupakan hasil pinjaman. Dari modal itu, dia dan istri membeli berbagai perlengkapan seperti membeli mixer, baskom, oven kecil dan bahan baku pendukung. Dengan berbagai resep dari internet, resep orang tua, buku dan lain- lain di mix begitulah rahasia suksesnya. Hasilnya bagus banyak peminat ingin mencicipi produk buatannya itu. Sambil jalan, ia mulai membenahi kue kukus tersebut agar rasanya lebih baik.

Suatu ketika ada chef yang menghampirinya; bertanya berapa telor dipakainya. Bukannya mengkomplain malah si chef membeberkan jumlah telor seharunya. Lumayan lah bisa belajar gratis pikirnya. Produknya itu pun dibeli pula oleh dia imbuhnya. Ia mengaku:

"Tapi kami tidak mau menyerah, akhirnya dapat adonan dan hasil brownies yang pas, sari salak terasa dilidah dan menarik. Dari resep itu, kami keliling ke tetangga, keluarga dan kerabat. Alhamdulillah responnya bagus dan laku, dengan hasil penjualan tersebut kami putar lagi beli buat beli bahan dan dijual lagi," terangnya.

Meski sudah memiliki kebun salak sendiri hasilnya kurang saking larisnya. Padahal dahulu hasil buahnya itu hanya dijadikan pupuk kompos pada 2008- 2009, sekarang justru dibutuhkan banyak. Produksi dari kebun salak diolah beragam seperti bakpia salak, dodol salak, sirup salak dan lainnya. Perlu ada trobosan karena ia tak mampu berbisnis sendiri. Lalu ide untuk memiliki petani binaan terpikir agar bisa fokus antara bisnis dan bahan baku.

"Susah kalau saya harus tambah luas kebun salak saya, beli? Bisa juga, tapi saya lebih berpikir lebih baik membina petani salak yang banyak di daerah tempat tinggal saya di Danikerto, Jawa Tengah," kata Decky.

Hingga akhir 2009 dirinya sudah memiliki 5 petani binaan. Namun sukses yang didapat Decky saat itu harus berakhir saat bencana Gunung Merapi pada Oktober 2010 menerjang desanya. Otomatis ia kini kembali menjadi pengangguran lagi,

"Saya jadi pengangguran lagi. Biar irit, tiap hari kami makan di warung  angkringan," celetuknya lagi.

Kebunnya dan kebun petani binaan serta harta lainnya porak poranda diterjang wedus gembel (awan panas) dari gunung Merapi. Habis semua hasil jerih payahnya, namun dia bukan lah pengusaha yang mudah untuk putus asa. Dengan harta yang tersisa dia dan istrinya mulai menata kembali hidup dan usahanya.

"Tinggal melanjutkan saja yang kemarin, resep andalan sudah ada, pelanggan setia tetap setia, dan kebun kita perbaiki kembali, dan sampai hari ini, semua berjalan seperti semula, usaha brownies salak pondoh terus maju," katanya

Tahun 2011 laba bersih usaha Decky tersebut sudah mencapai sekitar Rp 50 juta. Saat ini dirinya justru semakin berjaya setelah gagal dan bangkru, ia sudah mempunyai 'showroom' brownies setara 3 (tiga) ruko berlantai 2 yang dengan luas lapangan parkir yang dapat menampung 5-7 bus besar. Brownies salak pondoh dan bakpia andalan Decky tersebut diberi nama Salaka dengan nama toko Terminal Sukses. Produk jadilah Brownies Salaka sendiri dijual Rp 30.000 per kotak dan Bakpia salaka dibandrol Rp 25.000.

Decky pun membuka peluang bagi yang ingin menjalin kerjasama dengannya. Kamu berminat? Ia beralamat di Danikerto, RT 01 RW 07, Kelurahan Sariharjo, Kecamatan Ngaglik, Sleman, Jogjakarta.

Artikel Terbaru Kami