Minggu, 16 November 2014

Daur Ulang Kain Goni Jadi Bisnis Puluhan Juta?


Sosoknya yang dokter gigi bukan halangan untuk menjadi pengusaha. Untungnya puluhan juta padahal dia mengaku hanya bermodal Rp.1 juta. Wanita yang bernama Madya P. Andang, berbisnis baginya bukan soal barang ratusan ribuan, hanya barang daur ulang.

Suksesnya sebagai pengusaha berkat keterampilan mengolah limbah. Ia meraup rupiah dengan daur ulang kain goni menjadi berbagai bentuk kerjianan, salah satunya tas. CV. Regi's Indonesia memang mengambil konsep ramah lingkungan. Sesuai dengan program Go Green pemerintah ulasnya dalam sebuah wawancara dengan VIVAnews di pameran Jakcraft 2013.

Ia menuturkan bahwa karung goni memang dipandang sebelah mata.  Kain ini biasa digunakan orang untuk karung buah, karung beras, bahkan menjadi alas kaki. Oleh sebab itu, Madya pun berinisiatif membuat karya seni dari limbah ini.

"Saya ingin mengangkat kain goni menjadi suatu produk yang unik. Kain goni ini tidak banyak menjadi perhatian," ungkapnya.

Pada tahun 2011 lah, ia memulai bisnis ini dengan sekala rumahan saja. Dia mengaku modalnya tidak besar. Tidak perlu mengeluarkan kocek dalam- dalam. Bahan bakunya murah cuma seharga Rp6.000 hingga Rp10.000 per- lembar. Ditambah dengan alat- alat produksi berupa jarum jahit, benang, dan lem tembak. Ada juga bahan tambahan, yaitu kain perca seperti kain jins.

"Dengan investasi alat-alatnya, mungkin modalnya tidak sampai Rp1 juta. Karena, kami ini memang membuat produk ramah lingkungan," kata Madya yang juga seorang dokter gigi ini.

Modal itu digunakan berupa kerajinan tas, gantungan jilbab, alas kaki, bros, dan tempat tisu. Harganya pun bervariasi, mulai dari puluhan ribu hingga ratusan ribu rupiah. "Kalau bros, harganya Rp10.000. Kalau tas, ada yang harganya Rp50.000 sampai Rp500.000," paparnya.

Dia berhasil meraup untung hingga puluhan juta per- bulan dari bisnis barunya ini. Omzet per- bulannya ada mencapai Rp8 juta hingga Rp25 juta.

Cara membuat


Madya menjelaskan mula- mula kain goni dibersihkan, direndam semalaman, lalu dicuci. Kemudian direbus dengan api kecil.

"Lalu, diberi cairan desinfektan untuk menghilangkan bakteri," ujarnya.

Setelah itu kain tersebut dijemur hingga kering, disetrika, lalu dipotong sesuai pola diinginkan. Prosesnya itu cukup memakan waktu cuma dua hari.

"Sekarang, saya meminta supplier kami dari Jember untuk membersihkan kain goni dan mencucinya. Tapi, setelah kain ini dikirim, saya juga harus mencucinya sekali," kata dia.

Sekali produksi, lanjut ibu beranak dua ini, setidaknya membutuhkan sepuluh lembar kain goni. Dari sepuluh lembar itu, bisa tercipta lah sekitar empat puluh item. Seluruh proses dikerjakan di kediamananya di daerah Tanjung Barat, Jakarta. Madya tidak sendirian, dibantu oleh tujuh orang karyawan tuna rungu. Sebenarnya tidak ada kendala berarti. Tentang komunikasi dengan karyawan cukup dengan isyarat tangan.

Wanita lulusan Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Airlangga ini, mengungkapkan masih membutuhkan fasilitas untuk bisnisnya utamanya dalam memasarkan produknya. "Kami masih membutuhkan fasilitas. Kalau ada yang mau meminjamkan galeri, saya mau. Saya belum punya galeri. Show room ada di rumah," kata dia

Usaha yang bernama CV. Regi's Indonesia telah menembus pasar luar negeri. Akhir-akhir ini, produknya telah dipromosikan hingga ke China dan Dubai oleh Dinas Perdagangan DKI Jakarta. Ia juga menerima pesanan kerajinan tangan, baik untuk pribadi maupun suvenir. Jika berminat, pembaca bisa berkunjung ke show room-nya yang berada di Tanjung Barat Selatan Kav. 16 A No. 12 A, Tanjung Barat, Jakarta Selatan, atau bisa mengontaknya di andangp6@gmail.com.

"Kalau bros, minimal pesan 300 item. Tas mukena minimal dua kodi. Ya, tetapi, sebenarnya tergantung item sih, asalkan ongkos kirim ditanggung pembeli," kata dia.

Artikel Terbaru Kami