Minggu, 09 November 2014

Coklat Makassar Makalate Hanya Bermodal 25 Ribu



Irwan Miri bisa meraup untung jutaan rupiah per- bulan dari bisnis camilan coklat. Padahal menurutnya Irwan hanya bermodal puluhan ribu rupiah. Memang Makassar dikenal akan biji coklatnya melimpah. "Sulawesi Selatan adalah penghasil cokelat terbesar di dunia," ujar Irwan ketika ditemui di Kementerian Perindustrian, Jakarta. Banyak pedagang biji cokelat di Makassar. Namun, sedikit orang berinisiatif untuk mengolahnya biji cokelat dan produknya kemudian dijual.

Modal yang dikeluarkan hanya Rp.25 ribu. Awalnya, dia hanya menggunakan 1 kilogram cokelat. Saat itu, ia memproduksi coklat tangkai semacam lolipop. Sasarannya waktu itu adalah anak- anak sekolah. Irwan lalu mulai memasarkan produknya ke sekolah- sekolah di wilayah Makassar. " Kami menaruh di kantin kejujuran di SD, SMP, dan SMA dari jam 08.00 pagi dan jam 11.00 sudah habis," kata dia.

Bisnis yang dirintisnya pada Agustus 2008 tak semulus terlihat. Kira- kira dua tahun lalu, Irwan baru mulai masuk ke pasar lebih luas. Ia pun mengembangkan produknya, membuat desain dan mengemasnya sendiri. Melalui perusahaan sendiri, CV. Kasih dan Sayang, ia mencoba berbagai metode termasuk ke berbagai pameran- pemeran makanan. Bisnisnya kemudian mendapat bantuan Kredit Usaha Rakyat (KUR) dari bank sebesar Rp20 juta. 

Pinjaman ini digunakan untuk pemasaran dan pengemasan barang dengan merek "Makalate". "Untuk packing saja, kami butuh biaya Rp10 juta untuk lima item," kata Irwan.

Nama "Makalate" sendiri, kata dia, berasal dari gabungan kata Makassar dan Chocolate. Ya, Irwan memang benar- benar fokus memperkenalkan cokelat Makassar. Menurut Irwan satiap pameran akan mempunyai peran yang dominan dalam mengembangkan usaha rumahannya ini. "Kami selalu ikut serta dalam pameran, terutama di Makassar. Sebelumnya kami masih asal menjual produk ini, namun dengan ikut dalam pameran, banyak yang melirik kami dan tentunya membantu penjualan Makalate," tutup Irwan.
 
Cokelat yang dia produksi menjadi beraneka ragam dengan kadar cokelat sebesar 54- 80 persen. Antara lain cokelat putih, cokelat hitam, cokelat non- pemanis buatan, dan cokelat isi buah-buahan dengan ukuran mulai dari 100 gram hingga 400 gram. Untuk pasokan coklat datang dari para petani di Makassar yang memang banyak. 

Irwan menjelaskan biji coklat itu telah terlebih dahulu melalui proses fermentasi di tempat para petani selama seminggu. "Tiga hari pengolahan untuk jadi makanan ringan, itu di saya," kata dia.  Produk cokelat buatannya juga beraroma sangat khas untuk diingat. "Selain ada rasa cokelat, aroma cokelat sangat nampak," kata dia. 

Industri rumahan yang sudah selama 5 tahun berjalan ini, mendayaganukan waktu luang anak-anak, baik yang masih sekolah maupun yang sudah putus sekolah. 

"Kami masih mengolah cokelat dengan cara tradisional yaitu tanpa menggunakan alat melainkan dengan tangan. Makalate didistribusikan di kota ini sebagai oleh-oleh khas daerah Makassar," ujar Irwan.

Ditributor produk Makalete juga sudah ada dimana- mana. Irwan menyebut ada dari Gowa, Kolaka, Maros, Takalar, Papua, dan Jakarta. "Kami menggunakan sistem bagi hasil 70:30," kata dia. Dan untuk memproduksi Makalate, Irwan mempekerjakan dua belas karyawannya, lima orang di antaranya adalah pegawai tetap. 

Lalu, berapa omzetnya? 

"Omzet per hari sebesar Rp500 ribu. Jadi, per- bulannya saya mendapat Rp15 juta," katnya kepada VIVA News.

Selain digemari masyarakat Indonesia tapi juga mereka dari manca negara, "Biasanya orang Eropa suka rasa cokelat yang pahit. Orang Asia lebih suka yang manis." Apabila anda ingin membeli cokelat Makaleta, Anda bisa berkunjung ke outlet di Jalan Sungai Saddang Baru Lr. Berkah No. 2 A, Makassar atau menyambangi Anttena Shop di Jalan Wolter Monginsidi No. 40, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. 

Jika ingin memesan langsung, anda bisa mengontak Irwan di alamat email miliknya irwan_miri@yahoo.com. "Kami tidak membatasi minimal pembelian. Tapi, ya, sebaiknya memesannya (minimal) satu kilogram supaya biaya pengiriman murah," kata Irwan.

Artikel Terbaru Kami