Minggu, 30 November 2014

Cara Berjualan Gorengan Ala Bule Itali Fabrizio Urso


Ada Bule Jualan Gorengan di Pinggir Jalan


Sukses usaha gorengan bukan cuma dirasa atau kebersihan saja. Harus ada pembeda lain, keunikan yang bisa anda jual kepada masyarakat. Beda dengan penjualan gorengan biasa itu hukumnya wajib. Kisah sukses berikut datang dari bule bernama Fabrizio Urso. Pria 39 tahun asal Italia yang sukses menjual laris- manis gorengan pinggir. Namun jangan salah sangka dahulu. Jangan lantas berkata "yah, yang jual bule pasti laku lah". Salah. 

Ada sisi lain yang perlu anda cermati dari caranya berusaha dan ini menarik, selain dari sekedar kebuleannya.

Logat bulenya jadi penarik bagi pejalan untuk melirik. Niat pertama para pejalan pastilah meneliti asal suara "lucu" itu. "OTE-ote, tahu isi, silakan beli..." begitu suaranya. Seorang bule, lantas, apa yang dijualnya di sana, pastilah jadi hal kedua setelahnya. Barulah para pejalan membeli untuk sekedar mencicipi dan merasakan bedanya. Tak tersa hampir setahun, seorang Fabriz telah menjalani usaha gorengan di pinggiran jalan Manyarkertoarjo, Surabaya.

Tak hanya gorengan. Andalan lapak kecil ini juga kopi robusta dan arabika racikannya sendiri. Pembelinya pun kebanyakan datang dari kalangan atas. Fabriz total menggunakan pengalamannya sebagai GM sebuah restoran untuk memberikan produk segar. Gorengannya jadi lebih renyah, empuk, dan tidak terasa gatal di tenggorokan. Penggunaan bahan- bahan berkualitas membuatnya jadi produk gorengan premium. Ia pun bersyukur kini usaha bersama sang istri bisa laris manis.

Gorengan mahal


Usaha itu baru dibuka Maret tahun lalu. "Saya melihat pasar Indonesia. Apa yang laku saya jual," katanya.

Semasa muda, ia memang gemar memasak hingga sekarang. Masakan khasnya tentu apa lagi kalau bukan pizza dan pasta. Bukannya memilih menjual makanan Itali tersebut; ia memilih berjualan gorengan. Ada dua hal yang membuatnya memilih gorengan. Pertama, murah produksinya, lebih murah dari membuat makanan pizza tentunya. Kedua, ya, karena gorengan telah menjadi tradisi makanan orang Indonesia. Dinikmati siapa saja baik untuk lauk atau cemilan.

Dia memilih berjualan gorengan ote- ote, tempe goreng dan tahu isi. Beruntung istri dan keluarganya gemar makan gorengan. Istrinya yang asli Indonesia inilah yang mengajarinya resep gorengan. Perlahan tapi pasti, dia mempelajari bagaimana membuat gorengan renyah dan nikmat. Dia belajar layaknya orang lokal saja. Pekerjaanya sebagai GM restoran terbawa, menerapkan sistem kelas resto di dapur rumahnya. Misalnya, dapur harus bersih, makanan higienis, dan peralatan yang bersih.

Memang, jika dilihat- lihat lagi, lapak yang dimiliki Fabriz berbeda dengan milik pedagang lain. Lapak Fabriz bersih dari minyak maupun kotoran apapun. Pembeli pun merasa nyaman dan tidak merasa jijik, bahkan mau saja menunggu. ’"Itu salah satu sistem yang saya terapkan," ujar penggemar Francesco Totti tersebut. Selain tempat memasak yang higienis, bahan juga harus higienis begitulah bule itu membagi rahasianya. 

Dia pun membatasi jumlah minyak goreng yang digunakan. Yang biasanya penjual gorengan akan memasak dengan jumlah minyak berlebihan, ia menyebut justru itu sebuah kesalaha. Kadar minyak jenuh di dalam gorengan tersebut sangat tinggi jika minyak digunakan secara berlebihan dan berulang- ulang. Sistem yang memang boros minyak. Akhirnya, biaya pembelian minyak pun membengkak. Tapi, Fabriz tidak peduli, di pikirannya adalah bagaimana melayani konsumen. "Pelanggan juga semakin bertambah," jelasnya.

Awalnya hanya ada 3 jenis gorengan. Ia membatasi jumlahnya cuma 25 biji setiap produknya. Ini bertujuan untuk mengedukasi pasar agar pasar kenal dulu. Hasilnya, beberapa hari gorengan terus habis, barulah ada rencana untuk menambah jumlahnya. Fabriz kemudian menambah jumlah gorengan bertahap. Kini, hasilnya jumlahnya bisa lebih dari 150 biji untuk setiap gorengan. Untuk mendukung gorengan adanya produk kopi digunakan Fabriz untuk mengisi waktu para pembeli. 

Kopi digunakannya sebagai teman makan gorengan. Selain itu, ia akan menawarkan mereka yang menunggu gorengan matang. Caranya itu terbukti ampuh. Ini membuat gorenganya tetap segar karena baru digoreng, tidak digoreng dan didiamkan. Ketika berjualan gorengan, Fabriz selalu ditemani sang istri, Novita, keduanya bekerja sama mengerjakan bisnis ini. Baginya pekerjaan ini penuh kratifitas, tidak monoton seperti apa yang dikerjakannya dulu.

Orang tua dari Fransesco Alesandro itu kemudian menceritakan awal mula masuk ke Indonesia. Tepatnya pada 2014 ketika dia bertemu sang pujaan hati di Singaraja. Mereka menjalin hubungan yang berlanjut ke pernikahan pada 2011. Pada 2013, dia mendapat pekerjaan di Surabaya. Yakni, GM sebuah restoran di Jalan Imam Bonjol. Bagi dia, posisi sebagai GM di rumah makan bukan pengalaman baru. Ketika berada di Roma, Fabriz pernah bekerja di beberapa hotel terkenal di negara itu. "Saya nyaman dengan pekerjaan GM rumah makan," katanya.

Namun,bekerja kepada seseorang tidak memberikan kebebasan waktu. Dia mulai berpikir membuka usaha sendiri. Memang karena kebulean -nya lah yang membuat lapaknya dikunjungi. Namun, perlu diketahui, ada peran cita rasa restoran yang disuguhkan dari proses pembuatan dan penjualan. Mereka yang datang kesana tidak hanya mendengar dari orang tentang bule yang berjualan saja. Mereka datang karena tau bagaimana ia menerapkan standarisasi untuk bisnisnya. 

Hasilnya, gorengan kelas premium yang selalu laris manis menyasar mereka dari berbagai kalangan.

Artikel Terbaru Kami