Senin, 24 November 2014

Mery Yani Bisnis Telur Asin Bisakah Berkembang Besar

Profil Pengusaha Mery Yani



Kecintaan akan sang ibu mendorongnya pulang kampung ke Karawang di tahun 2005 silam. Padahal, kala itu, karir Mery Yani tengah bagus- bagusnya dalam perantauan. Pekerjaan menjadi akuntan di perusahaan importir besar dilepaskannya. Tak lagi bekerja, Mery ingin fokus merawat sang ibu. Hingga pada 2007, sang ibu menghembuskan nafas terakhir mebawa duka untuk wanita 29 tahun ini. Dia tak bersemangat untuk jadi perantau lagi.

Apakah tidak rugi jika ia memilih kembali ke desa. Tidak, nyatanya pilihan untuk mentap di kampung, justru membuatnya menjadi pengusaha sukses. Tak terpikirkan sebelumnya dia akan menjadi juragan telur asin. "Saya ketika itu pulang untuk merawat ibu yang tengah menderita sakit kanker stadium 4," ujarnya.

Bisnis keluarga


Sambil merawat ibunya, ia membantu- bantu sang ayah membuat pakan ternak dari dedek padi. Disisi lain ada kakaknya yang mengerjakan usaha telur asin rumahan. Usaha yang sudah ada sejak lama sejak Mery belum merantau. Dia ingat betul dari usaha itulah ia bisa menjadi sarjana akuntanis. "Telur asin merupakan penyokong hidup saya sejak masih sekolah dulu," kenangnya. Telur asin lah yang memberikan sokongan di keluarga kecil itu. Dan, ketika sang ibu telah dipanggil, tepat setelah itu usaha kakaknya kian memburuk; Mery tak mau tinggal diam.

Memang Mary merupakan sosok yang peduli akan keluarga. Sambil merawat sang Ibu, ia ikut membantu kakaknya berjualan telur di pasar, sekaligus membantu ayahnya yang memiliki usaha pabrik pakan ikan dan unggas di Karawang, Jawa Barat. Meski masih terpukul, lajang kelahiran Karawang tahun 1983 itu enggan tenggelam dalam telaga kesedihan. Dia justru kian tertarik pada usaha kakaknya.

Ketika itu bisnis kakaknya memproduksi sekaligus berjualan berbagai jenis telur, termasuk telur asin, tengah stagnan. Yakin bahwa bisnis telur punya masa depan yang baik, Mery pun memberanikan diri mengambil alih untuk mengelolanya. Pucuk dicita, ulam pun tiba, sang kakak menghibahkan bisnisnya. Kebetulan ada bisnis lain yang diurusnya. Kalender waktu itu menunjukkan tahun 2009 dan ia bersiap dengan bisnis telur asinnya.

Bukan perkara mudah meski sudah berjalan, saat dialihkan, bisnis telur ini masihlah kecil. Tercatat kakaknya memiliki empat karyawan menghasilkan 1.000-1.500 butir per- hari dari sebuah toko kecil di pasar. Modal diambilnya dari klaim asuransi ibunya. Ia mulai mencari- cari tau bagaimana bisnis ini dijalankan. Mery mulai membaca- baca buku tentang telur asin. Dia juga tak malu untuk bertanya kepada mereka yang sudah punya pengalaman.

Bukan tanpa pengalaman mengerjakan itu. Mery sendiri pernah berjualan telur asin ketika sekolah menengah dimana dia berjualan dari satu toko ke toko di pasar tradisional. Ditambah pendidikannya dibidang akuntansi serta pengalaman bekerja di perusahaan, ia punya dasar. Anak ketiga dari empat bersaudara mulai menyusun sebuah peta perencanaan usaha lengkap dengan standar kualitas telur, cara pemasaran, dan sistem manajerial karyawan.

Di bagian produksi, Mery menjalin mitra dengan peternak telur bebek di sekitar Karawang untuk pasokan telur asinnya. Ia bahkan menggelontorkan modal, baik berupa bibit bebek atau uang untuk membeli pakan. Tentu saja, para mitra itu nanti harus menyetor telur bebek ke usaha telur asin milik Mery. Ia juga menyoroti soal kebersihan telur- telurnya. 

Jika sebelumnya telur akan direndam agar bersih, ternyata, dalam riset yang dilakukannya sendiri, itu satulah kesalahan. Mery menemukan bahwa perlakuan demikian justru membuat kotoran meresap ke dalam telur melalui pori- pori kulitnya. Akhirnya proses pencucian diubah total, menggunakan air mengalir dan kemudian diberi disinfektan untuk membunuh kuman serta bakteri yang menempel. Tapi dia mengingatkan sebelum telur dicuci perlu diperiksa keretakannya, sebanyak dua kali.

Mery kembali memeriksa telur setelah dicuci untuk kemudian diasinkan. Dia pun menggunakan air isi ulang dalam proses produksinya sehingga bisa meningkatkan kualitas produk sekaligus cara mengurangi tingkat kecacatan produk akhir. Tak ketinggalan, dia rutin menguji kualitas telur hasil produksinya ke laboratorium Cikolay, Bandung, setiap bulan.

Kemudian soal proses produksi, bahan yang digunakan diubah semuanya bahan- bahan pilihan. Abu yang akan digunakan adalah abu hitam yang berasal dari sekam padi yang telah dibakar dan sudah terlebih dahulu dijamin kebersihannya. Abu itu berasal dari lahan pertanian di sekitar Karawang. Dan terakhir, untuk bagian pengemasan, ia merubah cara pengemasan tradisional. Satu per satu telur dikemas dan dibungkus kardus secara rapi. Dengan demikian, tingkat kerusakan produk saat pengantaran bisa dikurangi.

"Kalau membeli telur asin produksi orang lain, kerusakannya bisa sekitar 25%, tetapi kalau beli dari saya hanya 5%, bahkan bisa nol. Hal ini bisa menekan kerugian agen dan distributor," dia mengklaim.

Kemudian ia memilih terjun langsung ke pasar menjajakan produknya. Pada saat itulah, dia belajar kesalahan pertamanya, dimana dia masuk di waktu yang salah. Produknya masuk justru ketika pasar dibanjiri pasokan telur asin. "Jadi, orang mau menerima produk saya susah." Ia mencatat bulan Desember- Februari sebagai bulan telur langka. Nah, di saat pasar sedang sepi, lantaran pasokan telur asin berkurang, Mery segera memasok telur asin buatannya dalam jumlah besar.

Mery pun menggelontorkan sejumlah uang lagi. Dia punya tekat untuk membangun bisnisnya lebih besar. Dan dia mau tak mau meminjam modal Rp.160 juta dari ayahnya dan sebagian pekerangan rumah untuk tempat produksi. "Pabrik pakan ternak ayah saya cukup luas, jadi saya pakai separuhnya," ujarnya, dan PT. Sumber Telur Kilau, perusahaan yang menaungi bisnis ini, pun dikibarkan.

Sayang, dikala penjualan meningkat, ia kembali berhadapan dengan masalah. Ia mendapati beberapa mitra yang ingkar menjual telur bebek untuk pabriknya. "Saya harus sabar mencari mitra lain," ujar Mery. Untuk menjaga agar pasokan telur bebek tetap stabil, Mery pun membangun peternakan sendiri. Di peternakan tersebut, Mery memiliki 1.500 ekor bebek yang diangon di sekitar Karawang dan Garut.

Menatap masa depan


Mery yakin bahwa telur asin punya masa depan. Di tahun 2012 saja, atau tiga tahun setelah memutuskan terjun ke telur asin, bisnis ini berkembang baik dan terasa manis. Dia sekarang dibantu 15 karyawan inti dan ibu- ibu sekitar pabrik, serta 20 peternak telur bebek, Merry mampu menjual 10-15 ribu butir telur per- hari, atau meningkat 10 kali lipat dibandingkan awal usahanya.

Agar lebih bisa masuk ke pasar yang lebih luar, Mery pun mengajukan sertifikasi telurnya. Di tahun 2010, ia sudah mengajukan sertifikasi untuk telur produksi peternakan miliknya dan mitra. Mery mendaftarkan telur produksinya ke Departemen Kesehatan Republik Indonesia untuk memperoleh sertifikasi kualitas gizi. Setiap produksi, telur- telur hasil peternakan Mery dan mitranya harus melalui beberapa tahap pengujian. Tahapan tersebut meliputi pencucian telur, pengujian dari segi bentuk dan tingkat keretakan, penyemprotan cairan antibakteri, serta uji laboratorium.

Hingga saat ini penjualan telur asin cap Sumber Telur sudah menjangkau beberapa wilayah di Indonesia, seperti di Jabodetabek, Kalimantan, Bangka Belitung, dan Lampung. Dalam kegiatan pemasaran, Mery pun mendapat dukungan lebih dari 50 distributor sesuai standar distributor ala Mery sendiri. "Mereka harus tahu kemauan konsumen, yang asin banget atau enggak terlalu asin. Distributor harus kenal betul dulu produknya," terangnya

Yang membuat Mery bertambah bangga, tiada diduga, pihak lain mengapresiasi kiprahnya. Awal tahun ini dia menjadi salah satu pemenang terbaik nasional untuk kategori Alumni dan Mahasiswa Pascasarjana dalam ajang Wirausaha Muda Mandiri. Sebagai ganjarannya, Mery mendapatkan penghargaan serta uang senilai Rp 50 juta sebagai dana pembinaan. Jika melihat perkembangan bisnisnya, tak mengherankan, perempuan bertubuh mungil ini sudah punya mimpi besar.

Dia berharap terus menambah agen penjualan hingga 100 dan merambah sampai kawasan Indonesia timur. Ambisi besar lainnya? "Membuat pabrik telur asin terbesar di Indonesia, juga membuat telur saya eksis di ASEAN," tutupnya.

Artikel Terbaru Kami