Kamis, 20 November 2014

Biografi Peter Firmansyah Usaha Peter Says Denim


Ketika masih duduk di bangkus SMA, Peter Firmansyah, pria kelahiran Sumedang 4 Februari 1984 sudah dikenal suka mengubek- ubek baju di pedagang kaki lima. Kini, dia dikenal sebagai pedagang paling keren di seluruh Indonesia. Berani membuat produk sendiri bahkan menjualnya sampai ke luar negeri.

"Pokoknya, saya mau "menjajah" negara-negara lain. Saya ingin tunjukkan bahwa Indonesia, khususnya Bandung, punya produk berkualitas," ujarnya.

Tak butuh waktu lama 1,5 tahun jadi pencapaian terbesar dalam hidupnya sekarang. Namun demikian, perlu kamu tahu, kerja keras itu datang dari masa- masa sulit. Orang tuanya bukanlah orang berkecukupan, pernah berhutang untuk makan. Pernah mereka tak mampu untuk sekedar membeli beras sehingga keluarga Peter hanya bergantung pada belas kasihan kerabatnya. 

"Waktu itu kondisi ekonomi keluarga sangat sulit. Saya masih duduk di bangku SMP Al Ma’soem, Kabupaten Bandung," kata Peter.

Sewaktu SMA, ia adalah penggemar produk- produk bermutu tapi murah. Hasratnya dalam berbisnis mulai timbul. Disana, di kawasan perdagangan pakaian di Cibadak, oleh warga Bandung kemudian pelesetkan sebagai Cimol alias Cibadak Mall, Bandung, hasrat itu tumbuh. Dia suka nongkrong di tempat itu. Kini Cimol sudah tak ada lagi. Dulu disinilah tempat berjualan berbagai busana yang dijual bertumpuk- tumpuk. Dari sini lah hasratnya akan bisnis fashion tumbuh kuat.

Sewaktu masih bersekolah di SMA Negeri 1 Cicalengka, Kabupaten Bandung, Peter juga sempat belajar menyablon. Ia berprinsip, siapa pun yang tahu cara membuat pakaian bisa dijadikan guru. Selain itu, Peter juga banyak bertanya cara mengirim produk ke luar negeri. Proses ekspor dipelajari sendiri dengan bertanya ke agen- agen pengiriman paket. Selepas SMA, ia lalu melanjutkan pendidikan ke Universitas Widyatama, Bandung.

Namun, biaya masuk perguruan tinggi dirasakan sangat berat, hingga Rp 5 juta kala itu. Bermodal uang pemberian sang kakek sebelum wafat jadilah Peter berkuliah di tempat itu. Tapi, tak sampai satu bulan, ia memilih keluar karena tak sanggup membiayai kuliahnya. Ia juga berselisih dengan orang tuanya perselisihan yang sempat disesali Peter karena kuliah memang menghabiskan biaya besar. Dia yang pernah bekerja di pabrik pembuat produk Rusty, Volcom dan globe sama SMA.

Peter Firmansyah pun bertekat mendalami bisnis sendiri.

Bisnis pakaian


Dia mulai belajar tentang pemilihan produk, pembuatan, dan pemasaran produk. Peter benar- benar memulai semuanya dari nol. Pendapatan sebagai penjaga toko dia sisihkan sebagai modal. Tak banyak yang bisa dia dapatkan. Disela- sela pekerjaannya, ia juga mengerjakan pesanan membat pakaian. Dalam sebulan, Peter rata- rata membuat 100 potong jaket, sweter, atau kaus. Keuntungan yang diperoleh antara Rp 10.000- Rp 20.000 per- potong jelasnya.

"Gaji saya hanya sekitar Rp 1 juta per bulan, tetapi hasil dari pekerjaan sampingan bisa mencapai Rp 2 juta, he-he-he…," kata Peter. Uang itu ia kumpulkan selama dua tahun waktu menjadi pegawai toko hingga 2005.

Tahun 2005, Peter Firmansyah kemudian nekat membuat produk jeans bernama Defense, hanya berbekal pengalaman yang ia dapat dari pengalamanya, singkat cerita produk buatannya gagal dipasaran.

Merek Peter Says Denim sebenarnya berasal dari Peter Says Sorry, sebuah kelompok musik. Peter juga lah orang dibalik band tersebut. Semenjak menjadi vokalis Peter Says Sorry, ia mulai berkenalan dengan banyak musisi dan tau apa saja kebutuhan mereka, terutama mereka band- band rock, untuk tampil di panggung. Ia yang memiliki pengalaman di bisnis pakaian melihat kesempatan lagi. Memang pengalamannya dalam usaha bisa dia gunakan sekarang.

Bermodal tabungannya sebanyak Rp 5 juta, ia mulai memproduksi celana jins sendiri. Pertama-tama, Peter hanya membuat lima potong jins. Ternyata, produk perdananya ini laris manus. Dan pesanan berdatangan dan ia menambah produksi hingga 20 potong lebih. Selama enam bulan pertama, ia benar-benar membanting tulang. Mulai dari belanja bahan, mengukur, mengawasi tukang jahit, hingga mengantarkan pesanan jins ke konsumen ia kerjakan sendiri.

"Saya sebenarnya bingung mencari nama. Ya, sudah karena saya menjual produk denim, nama mereknya jadi Petersaysdenim," ujarnya tertawa.

Pengalaman ditipu pun pernah dirasakan olehnya dalam berbisnis jins. Misalnya, di tahun 2008, ia pernah sekali ditipu temannya sendiri yang menyanggupi mengerjakan pesanan senilai Rp 14 juta. Pesanannya tak dikerjakan, sementara uang muka Rp 7 juta dibawa kabur. Sedangkan di 2007, Peter pernah mengerjakan pesanan jins senilai Rp.30 juta, tapi pemesan tak mau membayar alasannya tak sesuai pesanan.

"Akhirnya saya terpaksa nombok. Jins dijual murah daripada tidak jadi apa-apa. Tetapi, saya berusaha untuk tidak patah semangat," ujarnya.

Cara berpromosinya seperti pengusaha muda lain. Peter memanfaatkan jejaring sosial di internet, seperti melalui Facebook, Twitter, dan surat elektronik untuk berpromosi dan berkomunikasi dengan pengguna Petersaysdenim. "Juli nanti saya rencana mau ke Kanada untuk bisnis. Teman- teman musisi di sana mau ketemu," katanya.

Meski kuliahnya tak rampung, Peter kini sering mengisi seminar-seminar di kampus. Ia ingin memberikan semangat kepada mereka yang berniat membuka usaha. "Mau anak kuli, buruh, atau petani, kalau punya keinginan dan bekerja keras, pasti ada jalan seperti saya menjalankan usaha ini," ujarnya. Dia ikut membantu adik- adiknya sejak 2007. Hingga salah satu dari ketiga adiknya sudah lulus dari perguruan tinggi. Peter akan selalu mendorong adik- adiknya untuk menyelesaikan pendidikan sarjana.

"Kerja keras dan doa orangtua, kedua faktor itulah yang mendorong saya bisa sukses. Saya memang ingin membuat senang orangtua," katanya. Jika uangnya sudah mencukupi, Peter ingin sekali kedua orangtuanya bisa menunaikan ibadah haji.

Sukses dan tuduhan penipuan


Akan tetapi, jangan berpikir dia akan langsung sukses besar dengan Peter Says Denim. Tak selamanya laku, sejak awal, dia membrandol merek jinsnya terlalu mahal di pasaran. Karena itu, ia dicemooh dan ditolak oleh masyarakat. Peter lantas memasang strategi khusus, fokus untuk menjual produknya ke anak- anak band. Ia melakukan pendekatan khusus agar mereka mau mengenakan produknya.

Ini dikhususkan untuk mereka yang sudah punya jam manggung panjang, buat promosi pikirnya. Tak hanya band lokal, Peter mulai mendekati band- band luar negeri. Ia lalu membuat website khusus untuk menjajakan produk Peter Says Denim. Untuk memperkuat bisnis online ini, ia menggelontorkan lagi duit senilai Rp 5 juta. Ternyata pilihan itu sangatlah tepat. Lewat situs online-nya, Peter Say Denim dikenal di Amerika, Kanada, Australia, Singapura, dan Malaysia.

Hasilnya, kini saban bulan, Peter memproduksi 500 hingga 1.000 potong jins. Suksesnya berbisnis ke luar negeri juga karena sedari awal dia sudah punya visi. Yaitu menginginkan bisnisnya sampai ke luar negeri, ia ingin mengangkat pamor produk lokal. "Saya banyak belajar sejak lima tahun lalu saat sering keliling ke toko, pabrik, atau penjahit," katanya. Proses ekspor itu dipelajarinya sendiri dengan bertanya ke agen-agen pengiriman paket.

Tak butuh waktu relatif lama, usahanya dalam berbisnis jeans mampu dicapai Peter hanya dalam waktu 1,5 tahun sejak ia membuka usahanya pada November 2008. Kini, jins, kaos, dan topinya telah digunakan para personel kelompok musik di luar negeri. Sejumlah kelompok musik itu seperti Of Mice Man, We Shot The Moon, dan Before Their Eyes, dari Amerika Serikat, I am Committing A Sin, dan Silverstein dari Kanada, serta Not Called Jinx dari Jerman. Ini menjadi cara branding efektif untuk nama Peter Says Denim.

Para personel kelompok musik itu bertubi-tubi menyampaikan pujiannya dalam situs Petersaysdenim. Pada situs- situs internet mereka, nama label Petersaysdenim juga tercantum sebagai sponsor. Petersaysdenim pun bersanding dengan merek-merek kelas dunia yang menjadi sponsor, seperti Gibson, Fender, Peavey, dan Macbeth.

Hingga sekarang, di tahun 2014, ada berita mengejutkan bagi penulis biografi pengusaha satu ini. Nama Peter Firmansyah telah diduga telah menggelapkan uang para rekanan bisnisnya hingga sebesar Rp 1,2 miliar, setidaknya ada enam korban yang telah melaporkan Peter ke Mapolda Jabar, para korbannya kebanyakan adalah para pengusaha konveksi. Salah satu korban menyebut ia memesan pakaian ke mereka untuk dilebeli Peter Says Denim kemudian dijual kembali.

Namun, sejak bulan November 2013, Peter menjadi sulit dihubungi dan juga berbelit-belit saat ditagih untuk pembayaran baju pesanannya. David Simanjuntak, salah satu korban, yang sudah kehabisan toleransi akhirnya melaporkan pria kelahiran 4 Februari 1984 itu ke Polisi. "Akhirnya bulan April lalu Peter mulai dilaporkan, ke Polres dan ke Polda," ujar Roely Panggabean, pengacara David Simanjuntak  seperti dilansir di halaman Merdeka.com.

Untuk lebih lanjut kita tunggu saja bagaimana kasusnya diupdate. Dari penulis artikel ini prihatin karena nama Peter sudah jadi inspirasi banyak orang, termasuk penulis.

Artikel Terbaru Kami