Minggu, 02 November 2014

Bagaimana Cara Memanfaatkan Limbah Kaca Ala Suyanto

 
Bagaimana mengolah kaca limbah jadi kerajinan cantik. Pria asal Yogyakarta, Suyanto, mengaku memang ia tertarik berbisnis kerajinan memanfaatkan limbah non- organik dan organik. Bakat seninya mampu merubah limbah menjad seni, berusaha selama 3 tahun, akhirnya Suyanto sukses menghasilkan jutaan rupiah. Berkat kerja keras serta fokus pada limbah kaca, ia menghasilkan hiasan bisa dijual 1 juta rupiah.

"Saya mengolah limbah anorganik dan organik berupa furniture (bekas), limbah rumah tangga, dan toko," ujar Suyanto.

Sebelumnya ia bekerja di satu perusahaan ekspor impor dan aksesoris. Setelah merasa cukup pengalaman bekerja selama 17 tahun; ia memutuskan berwiraswasta.

"Saya lebih tertarik untuk berwirausaha untuk mengembangkan bakat saya," kata pria lulusan UPN Veteran Yogyakarta ini.

Modal bisnis Rp15 juta cuma cukup digunakan untuk membeli mesin pemotong kaca, mesin ampelas, dan juga mesin pemotong kayu, ia kemudian membuat kerajinan hiasan mozaik dari kaca, cangkang, telur dan tempurung kelapa. Suyanto dibantu oleh dua orang karyawan saat itu.

Dia mencoba membuat vas bunga, nampan, lalu membuat kaligrafi, alas gelas, dan tempat tisu. Fokus usaha kecilnya ialah hiasan fungsional yang biasa digunakan di rumah. Sarjana geologi ini mengatakan lebih lanjut bahwa tantangan yang dirinya hadapi dalam berbisnis ini bahwa kerajinan tak bisa diproduksi massal. Setiap produknya merupakan buatan tangan (hand made) dan membutuhkan cita rasa untuk menghasilkannya. Itu juga berarti harga jualnya tinggi.

"Ini adalah produk ini hand made, ada feeling dalam pembuatannya. Tidak seperti produk pabrik, ini tidak bisa dipesan banyak," kata Suyanto.

Pembuatannya juga cukup rumit, memulai dengan memotong kaca sesuai pola yang diinginkan. Selanjutnya kaca itu dihaluskan bagian sisinya agar tidak terlalu tajam. Kemudian Suyanto menempelkan kaca itu pada media kayu dengan lem. Tahap penempelan pecahan kaca inilah yang memakan waktu lebih, setelah kering barulah kaca itu diberi pewarna kaca.

"Penempelan kaca tidak bisa sehari kering," kata dia

Dia mengaku mampu menghasilkan hiasan yang menarik, dimana harganya sangat bervariasi. Ia menjelaskan satu produk bisa saja terjual Rp15 ribu hingga Rp1 juta. "Kalau yang Rp15 ribu itu seperti tatakan gelas. Kalau yang Rp1 juta seperti guci," kata Suyanto.

Soal omzet? Ia tak mau mengungkapkannya.

Menurutnya ia tidak berorientas ekspor meski produknya diminati oleh konsumen asing. Suyanto memang lebih tertarik membuat produknya mengakar di pasar di dalam negeri, namun bisa dibeli oleh peminat dari manca negara juga. Dia tak membatasi hal itu tapi tetap fokusnya tidak mencari pembeli dari luar negeri.

"Ada yang pesan orang Jerman, Spanyol, Meksiko, dan Nikaragua," kata dia.

Suyanto pun mempersilakan bagi peminat kreasinya untuk mengunjungi bengkel dan outlet-nya di Sanggar Kerajinan Kaca Surya Kencana Mozzaic yang berlokasi di Semoyan, Singosaren, Banguntapan, Bantul, Yogyakarta. Apabila tidak sempat berkunjung, untuk komunikasi mengenai produk dan pemesanan dia bisa diemail melalui zakaseluler@yahoo.com.

Artikel Terbaru Kami