Senin, 17 November 2014

Gak Lulus SMA Tapi Cumlaud Sarjana


Biografi Andri Rizki Putra

 
Andri Rizki Putra, atau akrab dipanggil Rizki, pemuda kelahiran 23 tahun lalu adalah seorang sarjana hukum yang memiliki segudang prestasi. Hanya satu bulan bersekolah di SMA formal, Rizki memilih untuk tidak melanjutkan pendidikan sendiri di rumah. Katanya sebuah metode disebut "Unschooling", berbekal ijasah paket C, ia melanjutkan pendidikan di Universitas. Dia bukanlah seorang anti- pendidikan. Bukan lah pula pemuda pemberontak lalu menyebut sekolah tempat tak berguna.

"Saya anak tunggal, lahir di Medan dari ayah keturunan Tionghoa dan ibu Batak. Waktu kecil saya termasuk anak yang hiperaktif. Saya berasal dari keluarga yang sangat sederhana dan broken home. Berat memang, tetapi saya bisa melaluinya," ceritanya sambil tertawa.

Ia mampu tembus seleksi ketat penerimaan Fakultas Hukum Universitas Indonesia di tahun 2007. Pada tahun 2011, ia lulus dengan predikat Cum Laude, lalu, berbekal pengalaman pribadinya itu, pada tahun 2011 didirikanlah sistem yang ia sebut masjidschooling untuk membantu orang- orang kurang beruntung. Tujuannya guna meraih Ijazah Kesetaraan Paket A, B, dan C.

Sistem pendidikan yang mengajar- belajar melalui masjid sesuai namanya. Tenaga pengajar terdiri dari ibu- ibu rumah tangga sekitar lokasi masjid dan para mahasiswa dari Sekolah Tinggi Akuntansi Negara (STAN), Universitas Indonesia (UI), serta pelajar dari berbagai SMA dan perguruan tinggi lainnya. Pada tahun 2012 ia mendirikan Yayasan Pemimpin Anak Bangsa (YPAB) sebagai lanjutan masjidschooling, tapi dengan target yang lebih luas.

Targetnya tidak lagi yang beragama Islam. Kali ini ia dibantu oleh relawan muda yang berusia 20 hingga 30 tahun dari berbagai latar belakang pendidikan dan profesi.

"Setiap akhir pekan saya biasanya berkunjung ke yayasan (YPAB) untuk mengajar dan menerima para relawan yang ingin berbagi ilmu di sana. Kadang juga suka diselingi kerja sih; pekerjaan kantor yang terkadang suka menumpuk memaksa saya untuk menyelesaikannya di akhir pekan," jelasnya dalam sebuah wawancara dengan aquila-style.com.

Kejujuran Rizki



Dia mengidamkan sebuah sistem pendidikan yang jujur. Tak mau hanya berharap, Rizki mulai membangun itu dari keberanian untuk bertanggung jawab. Atas kejujuran, pilihannya untuk tetap di sisi yang dia percayai bahwa pendidikan juga menyangkut integritas.

Ketika lonceng Unas (ujian nasional) bergema di pertengahan 2006 lalu. Sosok anak berlari bergegas keluar dari kelas di sebuah SMP. Dia ingin buru- buru ke kantor kepala sekolah. Meski terik panas, ia tampak tak mau berhenti, mengehentikan larinya. "Kenapa ingin ke kantor kepala sekolah?" tanya seorang guru. Tanpa takut, remaja berseragam putih biru itu bilang bahwa dirinya ingin mengadukan kecurangan di kelasnya, yang kala itu sedang diadakan ujian nasional.

Bagaimana bisa, ungkap Rizki, guru- guru tutup mata bahwa murid- murid peserta ujian menyontek dengan bebas. Bahkan menurutnya guru ikut mengirim kunci jawaban lewat pesan pendek? "Buat apa pintar kalau didapat dari ketidakjujuran?" tegasnya.

Untuknya ini sesuatu yang tak masuk akal. Apalagi ketika sang guru justru berbalik bertanya, "Kenapa Rizki tak bilang ke saya (untuk dapat sontekan)? Nanti pasti kamu dapat nilai yang lebih bagus," kata guru itu menimpali, yang berdiri di depan pintu, mencegah Rizki bertemu kepala sekolah. Menolak karas dan tanpa perlu menyontek, ia bisa lulus dari SMP dengan nilai bagus. Rizki menolak mentah- mentah tawaran guru tersebut. Ia gagal bertemu kepala sekolah, lalu pulang ke rumah.

Nilai yang didapatnya, dalam tiga mata pelajaran, bahasa Indonesia, bahasa Inggris, dan Matematika, adalah 8,75. Ironi tak mandek di situ. Teman- teman sekolah Rizki yang notabene siswa salah satu SMP unggulan di Jakarta Selatan justru mengucilkannya. Kenapa? Karena ia mengikuti kejujurannya, sesuatu yang tidak lah mainstream jelasnya dibeberapa acara televisi.

Tentangan sosial pun menghalanginya untuk berkata jujur. Sempat berpikir melapor ke Indonesia Corruption Watch (ICW) dan mengekspose ke media; namun ditahan orang-orang dekatnya. Rizki drop dan depresi. Semua karena ia menyembunyikan fakta bahwa kejujuran yang dipegangnya tidak dihargai. Dia pun hanya menghabiskan masa- masa menjelang SMA dengan mengurung diri di kamar dan enggan keluar rumah. Rizki merasakan ada kehampaan ketika memasuki jenjang SMA di 2006.

"Ki, kalau kamu tidak bisa mengikuti yang mainstream (menyontek), kamu akan selalu tertinggal dari masyarakat!" Wah, ketika mendengar kata- kata itu, sungguh mental saya "berantakan". Kepercayaan saya menimba ilmu di sekolah pun lenyap seketika. Berangkat dari situ saya memutuskan berhenti sekolah di jenjang SMA," ingatnya, menjelaskan perasaanya kala itu.

Meski diterima di SMA unggulan, mendapatkan beasiswa prestasi, dan mencetak nilai tertinggi; dia sudahlah tidak bersemangat sekolah. Ia memilih putus sekolah kepercayaannya akan sekolah formal luntur. Namun, anda jangan berpikir dia benci bersekolah. Rizki masih semangat mencari pendidikan. Dia meyakinkan sang ibu, Arlina Sariani, 50, bahwa dirinya mencari pola belajar dengan caranya sendiri. "Saya menamakan jalur pendidikan SMA saya adalah unschooling," ceritanya saat ditemui Jawa Pos di Grand Indonesia.

Bukan homeschooling yang harus membayar mahal biaya pendidikan. Bukan pula mencari pendidikan non- formal. Ia memilih bersekolah sendiri di rumah, Unschooling, atau tidak mengikuti lembaga pendidikan apa- apa. Bahkan belajar tanpa pengawasan orang tua. Dia belajar sendiri di rumah. Sumber pendidikannya dia dapat dari buku- buku bekas dari saudara- saudaranya.

Jangan salah sangka Unschooling berarti melawan program pemerintah untuk wajib belajar 9 tahun. Jika mau dijelaskan Rizki saat itu mengikuti program informal dari pemerintah berupa berupa pusat kegiatan belajar masyarakat (PKBM). Sistem yang melahirkan ijasah paket. Sayang, ijasah paket kadung negatif, hanya hal tak mau berijasah paket beberapa orang malah memilih tidak bersekolah. Banyak orang putus sekolah hanya karena tak mampu secara akademis.

Akses ke perguruan tinggi juga susah karena beberapa kampus tidak menerima pelamar berijazah paket ini. Yang pertama dilakukan Rizki mencari tahu, apakah dirinya masih bisa melanjutkan ke jenjang universitas. Dari informasi yang didapatkan ia tertantang untuk ikut program paket C ini. Rizki tertantang untuk mengikuti ujian paket C tersebut yang setara SMA secara akselerasi.

Diknas pun membolehkan, asal dengan syarat, ia harus mengikuti placement test yang berisi ujian akademik dan tes IQ. Dan, hasilnya, Rizki berhasil melampaui syarat ujian paket kesetaraan di bawah 17 tahun.

Sekolah otodidak


Ia menjelaskan hambatan dari belajar otodidak ialah "mengalahkan diri sendiri!". Rizki mesti berani mengatur jadwalnya sendiri. Mendisiplinkan diri dengan sistem buatannya sendiri dan waktu belajar yang sangatlah luas, sampai- sampai bisa menghanyutkan. Ibunya tidak bisa memonitor belajarnya, karena memang ia harus bekerja mencari nafkah hingga larut malam. "Mau tak mau, semua harus ditanggung sendiri," jelasnya.

Yang tersulit dalam pembelajaran yaitu menemukan caranya sendiri. Teman- teman seangkatan Rizki masih duduk di kelas 1 SMA, sedangkan ia sudah mempelajari materi kelas 3 SMA untuk ujian paket C. Tidak ada teman ataupun guru yang bisa diajaknya berdiskusi untuk membahas materi tersebut. Hal itu membuat dia sangat tertekan dan depresi. Tapi ia tetap ngotot, menggunakan metode buatan sendiri yaitu logika dan komperasi.

Untuk lolos tes paket C, dalam sehari dia menghabiskan 22 jam untuk belajar. Dia melumat pelajaran yang normalnya diambil tiga tahun menjadi setahun saja seketika. Pelajaran yang dirasa sulit dia cari jawabannya lewat internet. Dia juga rajin membaca surat kabar.

"Ujian paket seharusnya juga lebih sulit karena saya harus belajar enam mata pelajaran. Sebaliknya, ujian nasional hanya tiga mata pelajaran," tuturnya, tak sia- sia begitu ujian itu selesai ia mendapatkan nilai tertinggi.

Rizki mencetak nilai sangat tinggi dimana rata- ratanya 9 tiap pelajaran. Dia lulus SMA pada usia 16 tahun! "Saat itu pun pengawas ujian sempat menyodori saya kunci jawaban agar saya lulus. Pasti saja saya tolak," ujarnya, lantas tersenyum mengenang kisah ironi itu. Pendidikan pun dia dapatkan dengan sangat murah. Ia menyebut hanya Rp.100 ribu. "Untuk biaya fotokopi ijasah," cetusnya.

Melalui caranya itu Rizki jadi sosok yang lebih kritis. Dia tak mau begitu saja menerima ilmu yang didapat dari satu buku saja. "Karena saya terus meringkas buku, maka saya bisa mengukur kualitas suatu buku dan materi yang dirangkum di dalamnya. Saya tidak mau menerima isi konten buku begitu saja tanpa saya berusaha mencari tahu lebih lanjut kebenaran teori dan praktiknya. Makanya dalam rangkuman tersebut, saya juga menambahkan opini-opini pribadi saya atas suatu materi yang dituangkan."

Jujur saja ibunya jadi bulan- bulanan keluarga dan tetangga. Masak membiarkan anak belajar sendiri begitu kira- kira gunjingan mereka. Apalagi ketika Rizki mau mengikuti kejar paket C, seolah mentertawakan nilai ijasahnya. Padahal paket C adalah sah berdasarkan peraturan negara. Ia sendiri tak ambi pusing, toh itu sah didapatnya. Menurutnya kalau mau kuliah yang penting mau belajar, bukan secarik kertas bernama ijasah.

Itu bukan refleski kepintaran kita. Dia pun menenangkan sang ibu, "Ma, jangan ambil pusing omongan orang. Aku tahu kok apa yang sedang aku jalani!" Hebatnya, Ibunya selalu percaya sama omongan saya. Hehehe.

Sekolah sendiri


Pada tahun 2007, Rizki sukses tembus SNM PTN dan diterima sebagai mahasiswa Fakultas Hukum (FH) Universitas Indonesia (UI). Bahkan, sang dekan pun heran ada mahasiswa berijasah paket. Toh, pada 2011, pada usia 20 tahun, dia justru menjadi lulusan terbaik bahkan berpredikat cum laude.

Pengalaman panjangnya dalam sistem pendidikan itu memicunya untuk membuat sekolah gratis. Tak sekadar gratis, dia membantu murid-muridnya mendapatkan ijazah paket A, B, dan C. Yayasan pertama yang dia dirikan adalah masjidschooling. Dia menamai masjidschooling karena proses pembelajarannya bertempat di teras Masjid Baiturrahman di bilangan Bintaro.


Selain membuka yayasan, ia menjadi konsultan di firma hukum Baker and MzKenzie dan sekaligus menjadi pendiri Yayasan Pemimpin Anak Bangsa (YPAB) pada 2012. Dia juga dibantu oleh koneksinya dari luar negeri seperti Meksiko dan Malaysia untuk mengajar anak- anak di YPAB. Hasilnya, mereka yang dipandang sebelah mata justru pandai berbicara bahasa Inggris cas- cis- cus. Rizki sebuah mengutarakan kebanggaan ketika muridnya sukses, meski sebelumnya dalam kesusahan.

Sudah banyak murid "unschooling" Rizki yang "naik kelas". Ada tukang jual koran menjadi pegawai admin di media. Ada pula pembantu rumah tangga (PRT) yang menjadi admin di perkantoran. Bahkan, Prihatin, salah seorang murid yang sehari-hari berjualan pisang goreng di Tanah Abang, menjadi peraih nilai ujian nasional paket B tertinggi nasional. Kini Prihatin melanjutkan paket C. Dua murid lainnya yang bekerja sebagai PRT, ungkap Rizki, akan melanjutkan kuliah.

"Pernah juga dikira tengah melakukan kristenisasi dengan antek-antek asing," papar Rizki yang kini sibuk menyiapkan diri melanjutkan kuliah school of education di Amerika Serikat. Tantangan akan selalu ada untuk yayasan miliknya. Namun, semua itu dilalui dengan baik, YPAB kini telah memiliki beberapa cabang. Selain di Tanah Abang, juga di Bintaro, kantor Badan Koordinasi Penanaman Modal, dan Medan. Rencananya Rizki juga mendirikan YPAB di luar Jawa.

Dari segi kurikulum, selain menggenjot kemampuan berbahasa asing, dia juga aka menambahkan praktik- praktik entrepreneurship.

"Saya tidak memaksa murid untuk punya nilai bagus. Tapi, menekankan pentingnya kejujuran. Lihat, koruptor itu adalah orang-orang pintar, namun sudah tidak jujur sejak dalam pikiran," tegas Rizki yang juga giat di Brunch Club, komunitas pencetus ide- ide pemula bisnis TI atau Start Up itu.

Artikel Terbaru Kami