Jumat, 31 Oktober 2014

Toko Serba Pedas Bisa Jadi Pilihan Kuliner Kamu

 
Jika kamu berkunjung ke Bandung, maka tersebarlah tempat- tempat menyajikan kuliner unik memanjakan lidah. Kamu harus bersiap- siap menentukan apa yang akan kamu makan hari ini. Salah satu kuliner "ngejren" yang patut anda coba ialah Toserda alias Toko Serba Lada. Usaha yang memfokuskan aneka olahan. Pemiliknya, Willyhono, kemudian berbagi cerita kepada Vivanews.com, bahwa bisnis Toserda ialah bisnis aneka makanan serba pedas.

Kemudian Willy, sapaan Willyhono, bercerita bahwa bisnisnya merupakan berkelanjutan bisnis sebelumnya. Waktu itu ia menjajakan produk olahan pedas namun hanya satu jenis. "Dulu, saya menjual satu produk saja, yaitu bawang pedas. Namanya, Bawang Pedas Balalada buatan teman saya," kata dia. Lama- lama karena melihat respon pasar bagus, jadilah pria kelahiran 1983 ini, mencetuskan ide gila yakni berjualan makanan serba pedas.

"Kalau saya lihat, respons konsumen bagus. Rata-rata orang Indonesia suka makanan pedas," kata dia.

Dia lantas memutuskan untuk mengembangkan usaha itu lebih. Idenya memperbanyak jenis dagangannya. Sukses dia menanjak setelah menggunakan sistem online. Pertama- tama, Willy membangun toko di Jalan Padjajaran No. 4, Bandung, modal awalnya total sebesar Rp10- 15 juta. Untuk nama toko seluas 25 meter persegi itu, dia sengaja memilih akronim dan ada unsur bahasa Sunda. Biar mudah diterima warga Bandung mungkin.

Bisnis pedas 


"Orang-orang tahunya Toserba, toko serba ada. Tapi, saya pilih Toserda, toko serba lada. Kata 'lada' dalam bahasa Sunda, kan, artinya pedas," kata dia. Jadi nama lada disini bukanlah dikususkan untuk makanan yang serba lada, ini juga makanan berbahan pedas lainnya.

Kemudian dia mulai memperbanyak jenis dagangannya, mulai dari makanan bawang goreng pedas, keripik, kerupuk, abon, sambal, rendang, bahkan cokelat. Produk dagangannya memiliki tingkat kepedasan, mulai level satu untuk pedas hingga level enam untuk sangat pedas. Penganan di Toserda pun beraneka macam ukurannya, mulai dari 100 gram, 300 gram, dan 400 gram. Harganya juga bervariasi, mulai dari seharga Rp5.000 -an hingga Rp59.000.

"Yang Rp5.000 itu keripik, beratnya 100 gram dan Rp59.000 adalah rendang kering," kata pria lulusan Universitas Parahyangan, Bandung itu.

Dari mana barang itu berasal? Barang dagangannya berasal dari home industry di Bandung dan sekitarnya. "Tapi, kalau untuk abon, saya juga mendapatkannya dari Cirebon, Medan, Jakarta, dan Surabaya. Untuk cokelat, saya mengambil produk Chocodot dari Garut dan Monggo dari Jawa (Yogyakarta) dan harganya berkisar Rp10-15 ribu per kemasan," kata dia.

Ada dua cara diterapkan oleh Willy untuk menjadi pemasok tokonya. Pertama, melalui sistem beli putus, artinya dia membeli produk itu sendiri berdasarkan berat tertentu dan selesai. Dia lalu menjual kembali produknya. Cara titip barang jadi yang paling banyak digunakan para supplier di Toserda. Mungkin karena lebih praktis soal jumlah saja. "Saya hanya mengambil marjin keuntungan 20 persen dari dagangan mereka," kata dia.

Memang tidak semua penganan pedas akan masuk ke daftar jualannya tanpa seleksi. Willy akan aktif ikut mensurvei dahulu calon dagangannya tersebut. "Saya lihat-lihat dulu dagangannya, mana yang paling laris. Sambal biasanya habis 10 kemasan per minggu, sedangkan basreng (bakso goreng) habis 100-200 bungkus per minggu," ujarnya lagi.

Jangan pikir bisnisnya tanpa hambatan selalu berbuah manis. Willy mengaku mengawali bisnisnya dengan pasang surut. Ketika keripik pedas booming jadilah Toserda mampu meraup omzet sampai Rp.60- 70 juta. Tapi, dengan bertambahnya saingan, produk- produk keripik pedas lain memotong omzetnya bisa sampai cuma Rp.30 juta per- bulan. Sarjana matematika ini cuma mempekerjakan dua pegawai offline juga satu pekerja online dan satu programer.

Toserda online


Makanan yang dijajakan antara lain keripik, abon, bawang goreng pedas, kerupuk, sambal, rendang, hingga coklat pedas. Memang sangatlah unik, bahkan produknya dikategorikan berdasarkan tingkatan level juga, dari level satu untuk pedas sampai level enam untuk rasa super pedas. Kemudian selain melalui tokonya yang berada di Bandung, Toserda juga membukan satu toko online melalui toserda.com, yang ikonnya berupa gambar cabai rawit super pedas.

Toko online yang didirikan pada 11 Juni 2011, biaya yang dia keluarkan untuk membuat website ini sama dengan biaya yang dia keluarkan untuk toko offline, yaitu Rp10-15 juta. Willy menyewa satu domain dengan kapasitas 200-an MB dan ada satu karyawan khusus yang menangani toko online itu, mulai desain hingga pemeliharaan. Tak mau setengah- setengah, barangnya itu dipastikan mampu menembus pasar nasional dan internasional.

Barang dagangannya itu sudah pernah dibeli konsumen Jakarta, Bandung, dan Tasikmalaya untuk pasar lokal. Kalau online, barangnya sudah pernah dibeli orang Indonesia, bahkan hingga konsumen dari Malaysia, Singapura, Amerika, Swedia, Inggris, dan Australia. Willy menjelaskan tidak mau membatasi jumlah minimal penganan kepada pelanggannya, baik di toko offline maupun online.

"Saya sih tidak membatasi. Kalau pembeli mau beli satu bungkus, ya, kami tetap melayani. Itu kan nanti dikenai biaya pengiriman kalau online," ujarnya. Bahkan ada pelanggan yang membeli satu bungkus, tetap ia layani, "Pernah ada konsumen dari Nusa Tenggara yang hanya membeli satu bungkus basreng," kata dia.

Ia menambahkan Toserda belum memiliki cabang, tapi sudah memilik reseller dan agen. Memang ada berbagai persyaratan bagi siapa pun yang berminat untuk menjadi reseller dan agennya. Menurut dia, reseller itu ada dua, yaitu yang dropship dan stock. "Reseller dropship itu gratis, tapi dia tidak punya stok barang. Jadi, dia membeli dari saya. Harga jual ke konsumen, sih, tergantung dia," katanya. Jika pemesan menjadi reseller tinggal menghubungi dia langsung untuk pemesanan baik dropship atau tidak.

Kemudian reseller mentransfer sejumlah uang sesuai barang yang dipesan. "Setelah mendapat konfirmasi, kami mengirimkan barang itu kepada reseller dan dia yang menjualnya ke pembeli itu," tuturnya. Beda antara reseller stock dan agen. Ada minimal pembelian yang harus dipenuhi keduanya. Untuk reseller, dia wajib membeli minimal sebesar Rp.500 ribu, sedangkan agen, dia wajib membeli minimal Rp.3 juta. "Terserah barang apa yang dia pesan, dan jumlahnya itu tergantung harga barangnya," kata dia.

Saat ini, para reseller Toserda berasal dari wilayah Bogor, Medan, Jakarta, Samarinda, bahkan Belanda dan Swedia. "Mereka itu orang Indonesia dan memasarkan produknya ke perkumpulan orang-orang Indonesia di Eropa. Di sana susah mencari makanan Indonesia," ujarnya. Ada sedikit pengalaman menarik yang ia rasakan ketika berjualan penganan pedas, dan itu terjadi dua tahun yang lalu. Katika itu harga cabai sedang melambung, akhirnya banyak orang justru banyak membeli cabe olahan daripada cabe asli.

"Dulu, waktu harga cabai sempat naik hingga Rp80 ribu, orang-orang lebih suka membeli sambal seharga Rp20 ribuan per kemasan daripada cabai Rp80 ribu per kilogram," ungap Willy ke vivanews.com. Apabila anda tertarik menjajal berbagai produk makanan pedas ini, bisa saja langsung berkunjung ke Toserda, yang terletak di Jl. Padjajaran No. 4, Bandung. Tapi, apabila kamu tidak sempat berkunjung ke sana, kamu bisa juga mengakses toko online-nya di www.toserda.com.

Artikel Terbaru Kami