Selasa, 14 Oktober 2014

Toko Roti Igor's Pastry Ekspansi Bali Jakarta


Nyatanya banyak orang yang berbisnis dari sekedar hobi. Apalagi jika faktor pendidikan menjadi pendukung hobi tersebut, ditambah pengalaman bekerja dengan orang lain. Ini akan menjadi kombinasi menakjubkan bagi karir anda sebagai pengusaha. Sebut saja Innico Sjahandi dan Ratna Kusumo. Bisnis roti yang mereka rintis sejak 11 tahun silam berhasil menghantarkan mereka jadi salah satu pengusaha ternama di Surabaya, Jawa Timur.

Igo, panggilan akrab Innico Sjahandi, dan istrinya Ratna dipertemukan oleh kegemaran yang sama memasak. Berangkat dari hobi tersebut keduanya berusaha bersama membangun bisnis. Dimulai dari berpacaran, dua- duanya bersama- sama bersekolah di Akademi Pariwisata NHI Bandung, fokus pada hobi mereka sebagai landasan. "Selain itu kami ingin cepat menghasilkan," ujar Igo yang lulus dari NHI pada 1989.

Selesai kuliah, mereka pun sama- sama merintis karier sebagai chef di sejumlah hotel dan restoran di luar negeri.

Memulai bisnis roti


Tujuh tahun Igo dan Ratna menghabiskan waktunya di Eropa. Keduanya sibuk bekerja dan juga melanjutkan pendidikan diploma perhotelan di Swiss. Baru di 1996 mereka kembali ke Indonesia tepatnya ke pulau Bali. Booming hotel bintang lima di Surabaya tahun 1997 membawa mereka pindah ke kota pahlawan Surabaya. Igo mendapat pekerjaan sebagai manajer restoran di Hotel Mandarin Oriental, Surabaya.

"Saya ingin lebih mengenal customer karena di Bali saya lebih banyak bertemu dengan tamu turis asing," jelas Igo.

Selama lima tahun menetap di Surabaya, Igo sudah merasa mengenal Surabaya dan juga masyarakatnya. Ia melihat peluang itu. Bisnis bakery, dia dan istrinya mencoba membawa konsep bintang lima itu dengan harga yang tetap terjangkau. Berbekal pengalaman dan tabungan selama bekerja mulailah bisnisnya ini di sebuah ruang tamu rumahnya, Jalan Biliton, Surabaya, pada 2002.  "Gerai Igor’s pertama kami kecil, ukurannya 7 m x 7 m," kata Igo. Selain Igo dan Ratna, ada 10 orang karyawan membantunya di dapur.

Seperti konsep awal, bakery buatannya haruslah seperti bintang lima tapi berharga terjangkau. Igo sangatlah mengutamakan kualitas produknya. Selain bahan- bahan baku pilihan, dia tak mau menambahkan pengawet, trans fat, dan penyedap dalam produknya. "Produk kami juga selalu fresh setiap hari," kata ayah dua putri ini. Tak heran. Roti yang mereka tawarkan tetap terasa mahal karena bahan bakunya. Igo menjual rotinya seharga Rp.4000, masih sering mendapat komplain kenangnya.

"Awalnya, kami sempat mendapat klaim soal harga yang mahal. Tapi, mereka puas karena ternyata besoknya kembali lagi berbelanja," kenang Igo.

Usaha yang diberinama Igor's Pastry menjadi pelopor toko roti dan kue untuk mereka yang memerlukan perhatian khusus, untuk mereka yang ingin mengurangi gula, telur atau gluten. "Jadi, ada produk sugar free, egg free, gluten free, dan lainnya," ujar pria kelahiran Bandung 17 Agustus 1968 ini. Lantaran sudah sangat berpengalaman dalam pengelolaan restoran maupun produk bakery di hotel, Igo dan Ratna tak menemui kesulitan dalam pengembangan usaha mereka.

Kreasi dan inovasi menjadi kunci utama supaya pelanggan tak mudah bosan. "Itu juga yang selalu kami lakukan saat bekerja di hotel," kata Igo menambahkan. Hingga di tahun 2005, Igor’s Pastry telah membuka cabang kedua di Surabaya. Tak hanya melayani pelanggan ritel yang datang ke gerainya, Igo juga memasok produknya ke sejumlah hotel, kapal pesiar, beberapa perusahaan modal asing, korporasi, dan sejumlah konsulat di Surabaya.

dengan pengalamannya bekerja di hotel, Igo paham benar seluk- beluk dalam dunia bakery. Tak hanya mengandalkan kreasi-kreasi baru, Igo juga melengkapi usahanya dengan sejumlah sertifikasi. Sebut saja, sertifikasi HACCP (Hazard Analysis Critical Control Point) atau sertifikasi sistem keamanan pangan. "Ini semacam SIM bagi operator food and beverage karena harus mengetahui persyaratan penanganan makanan, dari pendataan, penyimpanan, pengolahan bahan makanan dan lain-lain," jelas Igo.

Selain itu, ada pula sertifikasi Tuv Nord dari Jerman. Setifikasi ini cara Igo mengontrol kualitas produknya apalagi sejak membuka cabang- cabang usaha. Dia juga menggunakan sertifikat tersebut untuk membentangkan sayap usahanya. Ia menjadi pemasok di berbagai hotel berbintang dan kapal pesiar. Kini, Igo menjual rotinya berkisar Rp 15.000 per bungkus. Dua tahun kemudian, pada 2007, Igo telah membuka cabangnya ketiga di Surabaya. Lalu, pada 2010, mereka mulai merambah pasar Bali.

"Untuk memperbesar pasar, kami harus membuka cabang di luar kota karena seluruh Surabaya sudah terkaver," jelas Igo.

Kualitas produk


Baru pada 2014, Igo memberanikan diri merambah pasar bakery Ibukota. Igor’s Pastry secara resmi memiliki satu gerai pertama di Jakarta. Tak seperti di gerai-gerai sebelumnya, Igo telah melengkapi cabang terbarunya ini dengan kafe. Langkah ini dia lakukan berdasar survei maupun saran dari teman-temannya. Kini dapur Igor’s Pastry telah menyuplai ribuan potong roti ke sejumlah gerai setiap hari. Ke depan, tak ada rencana muluk dalam pikiran Igo.

Dia hanya ingin menambah gerai baru di Jakarta, supaya lebih dekat dengan konsumen. Innico Sjahandi memang tipe pekerja keras. Sejak masih muda ia telah menghabiskan waktunya di dapur tak seperti teman- teman sebayanya. Kecintaan akan kuliner bukan lagi tentang hobi tapi bagaimana cara dia hidup. "Bos saya sampai bingung, kenapa enggak pulang-pulang. Yang lain bekerja delapan jam, saya bisa 15 jam," kenangnya.

Tak heran, dalam enam setengah tahun, pria berusia 46 tahun ini naik jabatan lima kali. Begitu pula saat ini, Igo, panggilan akrabnya, juga banyak menghabiskan waktu untuk pengembangan usaha. Kini dia melihat berbedanya bekerja menjadi karyawan dan pemilik usaha. Ada sentuhan berbeda dari tiap kerja kerasnya. "Lebih pusing punya bakery sendiri," kata dia. Pasalnya, bila jadi pekerja, Igo sudah bisa benar- benar berhenti berpikir ketika off. "Sementara, punya usaha sendiri, harus terus berpikir. Kerja tujuh hari, mikirnya bisa delapan hari," cetus dia.

Dia dibantu sang istri, Ratna Kusumo, memang pengusaha yang patut dicontoh. Igo lebih banyak berperan dalam bisnis dan pengembangannya, sedangkan sang istri fokus mengurusi produksi, karena lebih ahli di pastry dan bakery. "Enggak bisa, satu dapur dua nakhoda. Berantem terus," tutur ayah dari Chenyl ( 9 tahun) dan Kathleen (11 tahun) ini. Meski menjalankan bisnis pasangan suami istri ini mengaku tak ada hambatan yang berarti. Tapi keduanya sempat merasakan pengalaman bajak- membajak pegawai.

"Bagi kami, pembajakan kurang etis. Ini sedihnya," kata Igo.

Meski punya mimpi besar menjadi gerai pastry dan bakery terbaik di Indonesia,  baik dalam kualitas dan kuantitas, Igo tak ingin memperbanyak jumlah gerai secara berlebihan. Sebab, menurut Igo, dengan jumlah gerai berlebihan, akan sulit mempertahankan kualitas. "Kami tidak ingin memiliki gerai dalam jumlah banyak, karena kami lebih mengutamakan kualitas," kata Igo yang melansir sekitar 500 varian per- gerai.Setelah sukses di Surabaya dan Bali, kini Igor’s Pastry hadir di Jakarta Jl. Wijaya 2 No. 122, Kebayoran Baru dengan konsep Chalet.

Konsep yang menyerupai tempat peristirahatan di pegunungan Eropa menjadi ciri khas seluruh gerai Igor. Igor mengatakan bahwa gerai Igor’s Pastry juga menyediakan Wi-fi dan memiliki meeting room. "Bagi mereka yang datang bisa santai sambil menggunakan wi-fi. Kami juga memiliki meeting room," jelasnya. Untuk harga jual, Igor menjual produknya di kisaran Rp16 ribu sampai Rp20 ribu. "Untuk harga kami coba tekan agar sesuai dengan kemampuan pasar. Saya kira harga ini tidak terlalu mahal," pungkasnya.

Artikel Terbaru Kami