Sabtu, 18 Oktober 2014

Sepatu Costom Made Menjadi Tren Fashion Baru


Kebutuhan fashion untuk wanita memang tidak pernah surut. Perkembangan fashion yang dinamis mengikuti pertumbuhan ekonomi, membuat para kaum hawa selalu haus akan tren terbaru. Mereka selalu berhasrat untuk bisa memiliki produk- produk terkini, melai dari baju, tas hingga sepatu. Namun, produk- produk fashion bermerek dunia kerap tak terjangkau harganya. Solusi termudah adalah bagi mereka yang menekuni usaha costume- made atau usaha pembuatan produk berdasarkan pesanan tertentu.

Mereka memiliki pasar dan segment tersendiri dalam dunia fashion. Dhilla Pratami, salah satu pengusaha sepatu costume- made Bonella Shoes asal kota Bandung, Jawa Barat, menyebut permintaan akan sepatu- sepatu costume- made terus meningkat dari waktu ke waktu. Alasannya, model sepatu terus akan berubah sesuai tren sehingga pesanan selalu saja datang. Contohnya waktu- waktu ini kaum hawa banyak memesan sepatu jenis toms shoes yang sedang populer di kalangan anak muda.

Tren terbaru sepatu couple juga mulai marak terangnya. Tren pasangan yang tak hanya tentang hubungan pacaran anak muda, tapi kini, juga tentang mereka ibu dan anak. Sepatu couple ibu- anak kini digemari oleh masyarakat. Dan, produk ini fokus pada penggunaan bahan kain seperti kain brokat tujuannya agar bisa juga dipadu padankan dengan kebaya untuk acara resmi.  Meski begitu, permintaan akan sepatu jenis lainnya seperti flat shoes, boots dan heels juga tidak kalah ramai.

Dhilla yang memulai usaha sejak 2010 silam mengatakan, dia bisa menjual berkisar 50 pasang sampai 100 pasang sepatu saban bulan. Harga jual sepatu buatannya berkisar Rp 150.000- Rp 350.000 per- pasang. Dia mengaku dalam sebulan bisa meraup omzet mencapai Rp 10 juta. 

Bonella Shoes didirikan oleh Dhilla, begitu panggilan akrabnya, mencoba peruntungan di bisnis costume- made berbekal ketrampilan. Baginya kala itu yang masih mahasiswa cukup mengandalkan sistem Down Payment (DP) dari konsumen. Uang itu kemudian digunakan sebagai modal awal untuk tiap- tiap produknya. Dia menggunakan uang dari DP untuk pembelian bahan dan pembayaran pekerja. Memulai bisnis seperti ini pastilah ada suka dan duka. 

Dhilla yang masih berstatus mahasiswi IESP Unpar ini menjelaskan bahwa dalam bisnis costume- made ini sangat memerlukan konsentrasi pada detil untuk membuat konsumen puas. Konsentrasi penuh pada detil adalah kunci sukses Bonella Shoes dalam membuat pelanggannya akan datang kembali. "Sukanya kalau konsumen puas dengan hasil karya kita, terus dukanya kalau ada konsumen yang gak sabaran," jelas cewek kelahiran 3 Oktober 1990 ini.

Bonella Shoes saat ini hanya melayani pemesanan melalui online saja, karena hingga saat ini Dhilla belum mendapatkan tempat yang cocok untuk dijadikan offline store. Bonnela Shoes melayani pemesanan berbagai model sepatu, mulai dari Wedges, High Heels, Boots dan lainnya Untuk menghubungi ataupun melihat hasil karyanya dapat mengakses Twitter @BonnellaShoes dan Facebook.com/bonnelashop. Selain itu buat yang aktif di instagram, bisa dilihat di akunnya yaitu @BonnelaShoes.

"Kedepannya insyallah kepingin banget punya offline store untuk men-display portofolio sepatu hasil pesanan konsumen," lanjutnya.

Pemesan costume- made Dhella ternyata tak hanya dari dalam negeri, namun juga negara tetangga seperti dari Malaysia. Jangkauan pasar produk buatannya cukup luas lantaran Dhilla gencar melakukan pemasaran lewat media sosial seperti Instagram, Facebook, maupun Twitter.

Wanda Dwi Utari, pengusaha sepatu custom-made lain yang mengusung merek Women and Needs asal kota Bogor ini juga mengandalkan media sosial untuk mempromosikan berbagai produknya. "Banyak pelanggan saya membeli lewat akun Instagram," ujar wanita yang memulai usaha sejak 2013 ini. Wanda fokus pada pembuatan sepatu wanita dan anak-anak dengan model beragam seperti flat shoes, wedges, dan high heels. Jika berbicara jenis sepatu maka ia menjawab di tempatnya adalah flat shoes yang banyak diminati.

Wenda fokus pada kain semi kulit dan suede. Untuk teknis pemesanannya sendiri, biasanya konsumen akan mengirimkan gambar sepatu yang diinginkan kepada Wanda. Setelah itu dia akan membuatkan sesuai dengan warna maupun jenis bahan baku yang diminta. Dia mematok harga jual mulai dari Rp 100.000−300.000 per pasang. Pelanggan yang membeli sepatu buatan Wanda berasal dari kawasan Jabodetabek, Bandung hingga Papua. Dalam sebulan wanda bisa menjual sekitar 40 pasang sepatu.

"Omzet penjualan sekitar Rp 5 juta−6 juta per bulan," kata dia. Saat ini mereka baru bisa memasarkan lewat toko online. Ke depannya, mereka bermimpi untuk juga bisa memiliki gerai biasa.

Artikel Terbaru Kami