Minggu, 26 Oktober 2014

Prospek Usaha Keripik Tempe Sederhana Untung


Kondisi yang "kepepet" terdesak akan kebutuhan ekonomi membawa berkah tersendiri. 

Memanfaatkan satu ruangan gubuk di pinggiran sawah, yang lebarnya cuma 3x4 meter, Sukini (44) seorang wanita warga Desa Gumiwang, Kecamatan Purwonegoro mengawali bisnis rumahannya. Tepatnya kira- kira enam tahun silam di tahun 2007 -an, usaha rumahan itu dimulai memanfaatkan peralatan sederhana. Bisnisnya ialah mengolah seriping pisang. Lalu bisnis rumahan itu tumbuh dimana bisnis core -nya adalah pengolahan keripik tempe bermerek Suka Nicky.

Bu Sukini menjelaskan proses panjang sejak dari nol bisnisnya dijalankan. Usaha rumahan yang diawali dari desakan. Kira- kira di tahun 1988, usai melepaskan masa lajang, ia tak memiliki pekerjaan tetap. Dia hanya seorang ibu rumah tangga yang menggarap urusan- urusan rumahan.

Titik balik



Hingga akhirnya di tahun  1990 dia dikarunia anak pertama. "Begitu lahir Galih Widodo, anak pertama kami, saya merasa kebutuhan rumah tangga semakin bertambah, sementara suamiku cuma bekerja serabutan. Paling sering kerja proyek. Tidak ada pemasukan yang lain," katanya saat ditemui Derap Serayu di rumahnya, RT 3 RW X, kompleks belakang Pasar Gumiwang, Banjarnegara.

Keinginan itu semakin kuat, keinginan untuk membantu sang suami berusaha. Kian menyadari kebutuhan akan hidup itu semakin mendesak, pengeluaran yang lebih besar dari pendapatan sang suami. Jadilah Sukini bertekat untuk berusaha apalagi anak pertamanya punya kebutuhan sendiri. Meski sang suami, Siswanto (48), telah berusaha apapun untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga. Itu masih lah kurang untuk memenuhi kebutuhan keluarga kecilnya.

Sukini berusaha keras membantu setidaknya mengurangi beban itu sedikit.

"Kondisi terdesak itulah yang menuntun saya untuk berani lebih maju. Seperti umumnya wanita, keahlian yang saya miliki adalah memasak. Karena itu saya mencoba untuk membuat seriping pisang. Waktu itu, karena tidak memiliki ruang cukup, awalnya kami memindah gubuk 3x4 meter dari sawah ke dekat rumah. Pisang dikupas di luar, baru kemudian digoreng di dalam gubuk," kenangnya haru.

Usahanya macam- macam jajanan. Tidak hanya keripik pisang ia juga membuat sale (pisang manis yang dikeringkan) atau juga kacang kulit. Secara umum memang usaha keripik pisang anak bungsu dari delapan bersaudara itu menghasilkan. Meski pemasaran produknya masih tradisional.

"Saya ingat betul, menjalani  marketing secara tradisional sendiri. Dengan berjalan kaki saya memikul seriping pisang buatan istri ke pasar. Sampai akhirnya sedikit demi sedikit keuntungan yang kami dapat ditabung untuk membeli motor. Akhirnya saya pun bisa mengantar barang menggunakan motor ke pasar," kata Siswanto suami Sukini.

Kendala bisnis keripik pisangnya selain marketing adalah bahan baku yang tersendat. Untuk mencari bahan itu memang susah. Diakuinya, ini sangat merepotkan, dan wajar jika usaha yang satu ini akhirnya berhenti di tengah jalan.

"Akhirnya saya memutuskan untuk ganti produksi keripik tempe yang bahan bakunya lebih mudah dan selalu ada di pasar. Padahal, kami ini tidak ada keturunan perajin tempe. Semua dilakukan dengan belajar sendiri," katanya. Sukini mengaku meminta bantuan tetangga untuk mengajari membuat tempe. Pada awalnya ia gagal, bahkan satu kwintal tempe harus terbuang sia- sia dari percobaan pertama. Namun, dengan sabar telaten, Sukini tetap berusaha untuk menghasilkan keripik tempe yang enak.

Pernah membuat tempe 50 kilogram kedelai, tidak jadi. Ya sudah, akhirnya dibuat pakan ikan. Kebetulan saya punya kolam ikan juga," kata Siswanto. Awalnya Sukini mempekerjakan 3 orang untuk membantu dalam usahanya, tapi kini usahanya bisa menyerap tenaga kerja lokal (tetangganya) hingga sebanyak 25 orang. "Bahkan ketika permintaan pasar membludak, seperti pada saat lebaran, pekerja pun saya tambah sampai 30 orang," ungkapnya.

Kini, tiap harinya Sukini mengaku menghasilkan setidaknya 3 kwintal keripik tempe dari  1,5 Kwintal kedelai yang dibeli dan diolahnya sendiri menjadi tempe. Melalui penerapan teknologi pengolahan hasil pertanian yang digunakan seperti Spinner (alat peniris minyak), Sliccer (alat pemotong tempe), Handsealler(alat bantu pengemas), dan lain sebagainya, ia dan seluruh karyawan kebanggaannya mampu menghasilkan produk keripik tempe berkualitas yang digemari masyarakat Banyumas.

"Tadinya tempat produksi kami terbatas, tempat mengolah kedelai menjadi tempe, menggorengnya menjadi keripik dan mengepaknya dalam kemasan di satu lokasi yang sempit. Sekarang sudah ada tempat khusus berukuran 3X10 meter untuk penggorengan bagi kurang lebih 18 orang yang menggoreng keripik tempe dengan jumlah tungku yang sama yaitu 18 tungku," terangnya.

Diyakini Sukini dan Siswanto, bahwa jumlah produksi yang ada sekarang masih bisa bertambah. Padahal untuk pemasaran masih berkisar lokalan saja di eks karsidenan Banyumas. "Kalau kiriman masih sekitar eks karsidenan, ada yang langsung ke took, ada  yang grosir. Dari grosir inilah banyak produk kami yang menembus ke luar kota, sampai ke Cirebon. Meski kadang sudah dengan merk yang berbeda," ujar Sukini.

Menembus pasar


Menjadi prestasi membanggakan ketika produknya diam- diam masuk pasar Purwokerto. Padahal kota ini telah lebih dulu disebut kota keripik. Lantas apa yang membuat usaha Sukini ini berbeda dari yang lain? Apa yang menyebabkan keripik tempenya ini digemari dari keripik buatan lokal.

"Makanan itu biasanya diingat atau dikenang karena bentuk dan kualitas rasa. Selain bentuk tempe yang kami buat unik, yaitu bulat-bulat kecil, sampai detik ini saya masih terjun langsung untuk menjaga kualitas produk dengan melakukan kontrol. Karena hampir semua proses dilakukan di satu lokasi, satu kontrol, dan satu pengawasan, maka usaha kami bisa dikategorikan sebagai produksi tempe keripik terpadu," terangnya.

Tidak adonanan keripik yang mencoba dipaten- patenkan. Semua tersentral pada Sukini bahwa usahanya ini berjalan berdasarkan instruksinya. Sebelum disubkan ke rumah warga atau pegawainya, dialah sendiri yang memastikan adonan dan pencampuran keripik sebelum digoreng. Produk keripik tempe Suka Nicky memang harus selalu fresh. Kedelai sebanyak 1,5 Kwintal setiap harinya langsung diolah menjadi tempe dan dibuat keripik. Atau, secara jalasnya tempe itu dibuat sendiri bukan langsung matang lalu digoreng.

Selanjutnya keripik tempe yang sudah jadi juga langsung di kemas (packing), dan siap untuk dipasarkan. "Sangat jarang kita mempunyai tendon melimpah, pasti armada kami langsung distribusi. Sisa di rumah hanya diperuntukkan untuk pembeli atau pelanggan yang tiba-tiba saja datang ke rumah," ujar Siswanto yang kemudian merangkap peran sebagai koordinator marketing.

Tak pungkiri keduanya kini punya impian- impian untuk usahanya kini. Dia juga mendapatkan bantuan dari mereka pemerintah dinas terkait yang disukurinya. Baik juga bantuan berupa modal atau alat untuk merehab tempat produksinya. Ada pula bantuan pendidikan bagi Sukini terutama menyangkut limbah produksi.

"Terus terang kami masih punya kendala dalam hal limbah pengolahan tempe yang belum bisa diolah dan dimanfaatkan secara optimal. Karena itu kami masih terus membutuhkan pendampingan terkait hal ini. Syukur-syukur jika ada yang berniat membantu kami untuk mengajarkan bagaimana cara pengolahan yang baik dan tepat," pintanya.

Terkait modal, saat ini diakui Sukini ia dan suaminya masih sekedar memutar omset yang ada. Sebenarnya menurutnya potensi pasar sangat terbuka dan masih luas, tapi dia tidak mau gegabah dengan menambah modal lewat hutang.

"Saya sangat bersyukur karena lewat usaha "Suka Nicky" sekarang sudah tiga tahun terakhir suami tidak perlu bekerja lagi dan kedua anak saya bisa melanjutkan sekolah sampai bangku kuliah. Selain itu saya juga bisa turut membantu ibu-ibu di sekitar rumah supaya bisa lebih produktif dan bisa menghasilkan uang sendiri," tuturnya.

Artikel Terbaru Kami