Kamis, 16 Oktober 2014

Potensi Bisnis Gula Merah di Sumatra Menjanjikan


Profil Heri Susanto


Ternyata bisnis gula merah bisa semanis rasanya. Pria asal Lampung Timur ini sukses menjadi produsen sekaligus distributor yang memasok kebutuhan gula merah di Provinsi Lampung dan Palembang, Sumatra Selatan. Heri Susanto memiliki lebih dari 250 orang petani penderes gula merah dan 25 agen gula merah, Heri mampu memasarkan sekitar 20 ton gula merah per minggunya.Berapa yang dia dapat? Total omzet usahanya dalam sebulan mencapai Rp 500 juta–Rp 600 juta, dengan laba bersih sekitar 30%.

Tapi, sukses tersebut bukanlah hal mudah di awalnya. 

Pria asal Banyuwangi, Jawa Timur ini harus merantau dan bekerja keras berbisnis dari nol. Sebelum menjadi pengepul gula merah, ia pernah mengerjakan tempe. Bisnis yang ditekuni hingga memiliki istri dan anak di 1998. Suatu hari, ketika Heri berjalan keliling pasar di Lampung Timur, ia melihat seorang agen gula merah yang mendistribusikan barang dagangannya di pasar. Kebetulan, permintaan gula merah di Lampung dan daerah sekitarnya cukup besar.

Prospeknya cukup bagus pikirnya. Dia melihat bisnis ini menarik dan masih sedikit pengepul gula merah. Jadi ia tertarik berkecimpung dalam bisnis ini, dan memilih meninggalkan bisnis yang dia jalani. Pada tahun 2000, Heri mulai keliling Lampung Timur untuk mengumpulkan gula merah dari petani alias para penderes.  "Saat itu saya bisa mengumpulkan hingga 70  kilogram per hari," ujarnya. Perlu diketahui, harga gula merah saat itu masih sekitar Rp 2.000 per kg.

Maka dalam sehari, ia bisa mengumpulkan omzet Rp 100.000–Rp 140.000. Adapun laba yang diperoleh hanya Rp 200–Rp 300 per kg. Dia pun terus terpacu untuk meningkatkan skala usahanya, ekspansi bahasa kerennya. Ia mulai dengan segera meningkatkan kualitas barang. Dia tak segan menggadaikan sepeda motor. Maklum, jika ia ingin mengumpulkan lebih banyak gula, maka modalnya juga harus semakin banyak.  Agar para penderes barunya itu tidak lari ke pengepul lain, ia kadang membayar di muka.

Dengan sistem itu, ia berhasil menggaet lima orang penderes yang rutin memasok gula merah kepadanya. Setiap minggu, para penderes memasok 3 ton–4 ton gula merah.

Seiring meningkatnya jumlah gula merah yang ia jual, Heri pun mulai memiliki agen gula merah, sehingga tak perlu bersusah payah mengumpulkan gula merah sendiri. Untuk bertahan dari bisnis ini, Heri tak mau hanya setengah- setengah, dia harus menjadi pengepul besar. Dia harus menjaring lebih banyak agen dan penderes gula merah. Namun, itu butuh modal yang lebih besar untuk bekerjasama dengan lebih banyak agen. Sampai akhirnya, ia diajak temannya mengajukan pinjaman ke PT Sarana Ventura Lampung (SLV).

Membesarkan usaha 


Salah satu kendala utama adalah keterbatasan modal. Ternyata semakin besar bisnis semakin besar modal yang dibutuhkan. Modal ini digunakan untuk merangkul lebih banyak agen dan penderes gula merah yang ikut bekerja sama. Permasalahannya, mencari modal tambahan itu bisa sangat sulit. "Bisnis saya saat itu tidak terlihat menarik di mata perbankan," katanya. Untunglah ada seorang teman yang membantunya menghimpun pinjaman. permohonan kreditnya dikabulkan. Pencairan pinjaman dilakukan secara bertahap.

Mula-mula Heri mendapat dana Rp 300 juta pada 2007, hingga secara bertahap naik menjadi Rp 500 juta di tahun 2013. Adapun bunga pinjaman berkisar mulai 12% sampai 13% per tahun. Suntikan modal itu lah pemacu semangat Heri untuk membesarkan bisnis gula merahnya lagi. Uang pinjaman itu langsung ia salurkan lagi sebagai modal bagi  para agen dan penderes gula merah. Kendati telah memiliki modal cukup tetap ada penderes lain yang memilih menjual kepada pengepul lain.

"Modalnya digunakan untuk kebutuhan biaya hidup penderes, ada pula yang saya belikan mobil agar para agen dan penderes bisa loyal," ujarnya.

Pria 43 tahun ini tetap tenang memilih mengedepankan proses kekeluargaan. Ia tetap merangku mereka dan memilih mencoba mengetahui kendala yang mereka lalui. "Jika masih sulit dan nakal, mau tidak mau saya putus hubungan kerja," ujarnya. Hingga saat ini, Heri telah memiliki sekitar 25 agen gula merah, yang tersebar di Lampung Timur. Antara lain di daerah Taman Sari, Simpang Agung, Way Jepara, Wono Sari, Braja Sakti, Braja Selebah, dan Sidomulyo.

Setiap agen rata-rata memiliki 10 penderes gula merah. Dalam satu minggu, ia berhasil mengumpulkan 20 ton gula merah. Total omzet yang ia peroleh dalam sebulan mencapai Rp 500 juta hingga Rp 600 juta, dengan laba bersih 30%. Hampir seluruh pasar induk di Lampung Timur dan juga sebagian wilayah di Palembang menampung gula merah dagangan Heri. Ia juga memasok gula merah untuk salah satu pabrik kecap nasional. Sekarang Heri Susanto benar- benar menjadi juragan gula merah dari Lampung.

Bisnis lebih dari satu


Saat ini, Heri memang baru memasarkan gula merah di wilayah Lampung Timur dan juga sebagian wilayah Sumatra Selatan. Heri sengaja tidak membidik Pulau Jawa karena produk gula merah asal Lampung masih kalah kualitas ketimbang gula merah jawa. "Saya pernah mencoba ke pasar Jawa. Tapi kualitas gula lampung masih di bawah gula jawa, sehingga kalah bersaing," katanya. Heri beruja potensi  pasar Sumatra memang masih sangat luas, dan memang masih ditopang oleh Lampung sebagai sumbernya.

Untuk menjangkau luas di penjuru Sumatra, tentu butuh pasokan gula merah lebih besar dari apa yang telah diusahakan. Kini, Heri memasarkan sekitar 20 ton gula merah per minggunya. Gula merah itu diperoleh dari 25 agen gula merah hasil binaannya. Setiap agen membawahi rata-rata 10 penderes gula merah di Lampung Timur. 20 ton gula merah itu kemudian dipasok ke pasar induk di Lampung Timur hingga sebagian daerah Sumatra Selatan, seperti Prabumulih, Baturaja, Ogan Ilir, dan Ogan Komering Ulu.

"Saya sangat bergantung pada agen dan penderes," ungkapnya. Menurutnya ada saja masalah yang tak bisa dihindari. Misalnya, saat agen atau penderes sedang sakit, kondisi itu akan membuat pasokan gula merah menjadi berkurang. Ada juga para penderes nakal yang menjual gula merah ke pengepul lain. Memang kini perasaingan antar pengepul gula merah sangatlah ketat. "Jika mereka nakal, saya coba menasihati dan tetap berkomunikasi," ujarnya. Menurut Heri, penting menjaga hubungan baik dengan agen dan penderes.

Di samping mendistribusikan gula merah ke pasar-pasar, Heri juga memenuhi pasokan gula untuk produsen kecap mereka ABC. "Sekitar 50% untuk pasar, dan 50% lagi untuk pabrik kecap," ujarnya. Namun, langkah memasok gula ke pabrik kecap ini sebenarnya hanya untuk cadangan bila permintaan gula merah di pasar sedang turun. Selain bisnis gula merah, Heri juga mulai merambah distribusi kerupuk emping melinjo sejak 2013 lalu. "Omzet dan profitnya lebih tinggi dari gula merah," sebutnya.

Harga 1 kilogram (kg) emping bisa mencapai Rp 32.000. Dalam seminggu, ia bisa memasok 200 kg dengan profit Rp 2.000–Rp 3.000 per kg. Menurutnya, pasokan emping melinjo belum tinggi karena bahan baku melinjo masih terbatas. Saat ini, ia menggandeng lima perajin emping melinjo di Panjang, Bandar Lampung. Setiap perajin dapat memasok 30 kg–40 kg per tiga hari. Emping melinjo ini distribusikan ke Palembang.

Artikel Terbaru Kami