Rabu, 18 Februari 2015

Robert Pera Pemilik Perusahaan Wifi Ubiquiti


Biografi Robert J. Pera


You know what they say, everybody gotta have a dream atau kamu tau apa yang mereka katakan, setiap orang seharusnya mempunyai sebuah impian, inilah kutipan di profil twitter miliki Robert Pera. Berawal dari sebuah impian, pria kelahiran 10 Maret 1978 berhasil mewujudkan impiannya untuk membangun perusahaan yang bergerak di teknologi komunikasi, yaitu Ubiquiti Networks Inc. Perjalanan karirnya dibilang sangat bagus tapi memilih menjadi seorang entrepreneur, wirausahawan. 

Apa yang membuatnya begitu berani?

Apa yang membuat seorang Robert J. Pera, mantan pegawai Apple memilih keluar dari pekerjaan. Sebuah keinginan untuk sukses lebih dari pekerjaannya dulu. Dia adalah teknisi wireless disana dari Januari 2003- Februari 2005, mengejar kesuksesan lebih besar. Seperti yang dikutip olehnya, "Apple adalah perusahaan hebat, tetapi saya sadar saya menginginkan untuk menjadi sukses lebih cepat". Setelah enam tahun, di umur 34 tahun, Pera menjadi miliarder setelah Ubiquiti Networks Inc. go public.

Keluar dari kantor


Robert Pera lahir dan dibesarkan di San Carlos, yang tidak jauh dari Silicon Valley (bagian selatan dari San Francisco Bay Area). Ayahnya bekerja sebagai konsultan bisnis dan ibunya sebagai pegawai humas. Dari tahun- tahun remaja, sejak awal, Pera telah bergairah tentang internet dan teknologi komputer. Dia harus melewatkan masa SMA karena penyakit langka infeksi katup- hati; Namun, ia akhirnya sukses mendapatkan pengakuan di UC San Diego untuk gelar sarjana di bidang teknik listrik dan Jepang.

Ia mengikuti jejak sang saudara perempuan tertuanya untuk kuliah di University of California, San Diego pada 1997. Pria yang masih betah melajang ini mendapatkan dua gelar di jurusan teknik listrik dan bahasa Jepang. Ia pun meneruskan magisternya di universitas sama dengan spealisasi desain sirkuit. Setelah lulus kuliah pada 2002, Robert pun berhasil mendapatkan pekerjaan di perusahaan besar di Amerika Serikat. Ia bekerja di Apple.

"Saya ingin membangun produk. Saya mengidolakan Steve Jobs," ungkap Pera.

Robert Pera sejak kecil memang dikenal menyukai teknologi dan internet. Sejak kecil dia sudah menyukai berbegai video games, membeli versi Jepangnya jika belum keluar versi Amerikannya. Dia juga dikenal sebagai penggemar olah raga basket. Saat bekerja di Apple, ia ditugaskan untuk menguji router Wi-Fi perusahaan untuk memastikan mereka memenuhi standar Federal Communications Commission untuk emisi elektromagnetik.

Menurutnya, pekerjaan itu sangat membosankan. Akan tetapi Robert bekerja keras dengan datang lebih awal dan pulang paling akhir.

Ia ingin melakukan yang terbaik. Ia ingin bekerja di bagian design, dan membagi ambisi ini untuk siapa yang mendengarkannya.

Ketika masa evaluasi masa kerjanya, atasannya yang telah bekerja puluhan tahun mengatakan kepadanya untuk memikirkan ulang karirnya. Robert mendapatkan rating kinerja dua dari rating lima. Gajinya pun tinggal US$ 65 ribu per tahun. Dalam masa evaluasi kerjanya itu, Pera beruntung menemukan satu cara mudah untuk meningkatkan router Apple. Sumber daya yang mereka gunakan untuk melemparkan sinyal berada jauh di bawah batas FCC.

Robert yang berniat menyampaikan ide untuk membantu meningkatkan jangkauannya, tetapi sayang, sang bos Apple mengabaikan idenya. Kejadian itu membuat Robert memutuskan untuk membangun sendiri modul Wi-Fi. Dengan mencari online, ia menemukan, orang-orang di daerah terpencil sudah siap dengan rigging Wi-Fi routers dengan amplifier eksternal untuk mengirim sinyal melalui puluhan kilometer Itu adalah cara murah untuk mendapatkan akses internet dengan perusahaan kabel dan telepon tidak mencapainya.

"Ini adalah pasar yang besar baru dimulai, tapi tidak ada yang tahu tentang itu," ujar Robert.

Robert pun mengurangi waktunya di tempat kerja. Ia bekerja keras menghabiskan malam dan akhir pekan untuk menyelesaian pengujian prototipe di apartemennya. Pada awal 2005, ia pun sudah siap untuk memulai bisnis sendiri. Tepat sebelum meninggalkan Apple, ia mendapatkan kenaikan gaji dan mendapatkan rating empat dari lima pada review tahunan. Meski begitu ia telah bulat memutuskan untuk keluar di Februari 2005.

"Apple perusahaan besar, tetapi saya ingin sukses lebih cepat lagi," kata Pera yang tidak pernah melakukan checking di airport ini.

Ia menyadari bahwa ia ingin mencari kesukses lebih dan uang. Dan akhirnya, Pera memutuskan berhenti dari Apple untuk mengejar impiannya sendiri dengan apa yang dia temukan. Dalam satu wawancara dengan majalah Forbes, ia mengungkapkan, bahwa dirinya ingin mencoba membangun sesuatu yang besar dan seefisien mungkin, dan menjualnya dengan harga yang memotivasi pembeli serta memastikan keuntungan. Pera memang dikenal sebagai orang pekerja keras, hemat dan pengambil risiko.

Sifat- sifatnya tersebut nampak ketika ia mulai membangun perusahaannya setelah keluar dari Apple pada 2005. Ia mulai membangun Ubiquiti Networks, perusahaan teknologi komunikasi wireless.

Ia pun menuliskan pengalamannya itu pada 11 Juni 2012 di blognya:

"Ketika saya meninggalkan pekerjaan saya pada 2005, saya mendedikasikan pekerjaan saya untuk Ubiquiti. Dalam pikiran saya, jika ini tidak berhasil maka saya akan kacau," tutur Robert.

Ia menambahkan, saat itu bulan Maret 2005, dan uang sewa apartemen sekitar US$ 600 per bulan untuk apartemen. Pada tahun selanjutnya, Robert memindahkan kasur, dan lab-nya ke sebuah kantor dengan uang sewa US$ 650 per bulan. Kantornya dikelilingi oleh toko-toko di seberang jalan San Jose. Dia akhirnya sukses mengumpulkan tabungan dan uang tunai kartu kredit sehingga terkumpul dana US$ 30 ribu yang digunakan untuk investasi di Ubiquiti Network.

Semangat kewirausahaan Robert pun terbayar. Dengan menjaga biaya rendah, Ubiquiti mampu bersaing dengan Motorola dengan menjaga keuntungan margin yang kuat. Adapun berbagai produk Ubiquiti termasuk sistem amplikasi Wi-Fi yang dapat memberikan akses internet untuk sedikitnya 10 orang dan lebih dari 10 ribu pelanggan dalam radius 36 mil. Di Juni 2005, Pera meluncurkan seri produk pertamanya "Super Range" mini-PCI radio cards SR2 dan SR5.

Kartu- kartu ini menjadi terkenal seketika dan diminati oleh beberapa penyedia layanan Internet Wireless skala kecil dan menengah di seluruh dunia. "Super Range" modul akan beroperasi di 2,4 dan 5,8 GHz band dan akan menggunakan chipset Atheros. Saat ini, perusahaan sukses menjual empat produk utama yaitu Airmax (MIMO Sistem protokol TDMA); airFiber, airVision (generasi H.264 IP Camera Sistem Manajemen) dan Unifi (sistem WiFi revolusioner). Kesemuanya adalah perangka WiFi yang menyangkup semua golongan.

Kesukaan Robert terhadap basket pun mempengaruhinya untuk membeli sebuah klub basket. Pada tanggal 11 Juni 2012, sebuah sumber mengatakan kepada ESPN.com, Michael Heisley telah memiliki kesepakatan prinsipal untuk menjual Memphis Grizzlies kepada miliarder teknologi, Robert Pera, yang pada umurnya ke 34 tahun telah memiliki tempat dalam daftar Forbes 'dari 10 billionaries termuda di dunia. Penjualan resmi Grizzlies ke Pera telah disetujui pada tanggal 25 Oktober 2012.

Harga beli ada di kisaran $ 350 juta kata sumber.

Setelah sukses


Layanan pertama dilakukan pada musim panas 2005 dengan menjual 4.000 radio card bertenaga tinggi untuk beberapa penyedia layanan internet nirkabel Amerika Serikat. Ia menggunakan produsen manufaktur Taiwan. Ubiquiti dapat membuat kartu untuk US4 30 dan menjualnya seharga US$ 80.

Ubiquiti melakukan penawaran perdana saham pada tanggal 13 Oktober 2011. Mereka menawarkan 7,04 juta saham. Harga per- saham sekitar US$ 15. UBS bertindak sebagai penjamin emisi efek dalam penawaran perdana saham itu. Perseroan meraih dana sekitar US$ 105,6 juta dari penawaran perdana saham itu. Nilai perusahaan itu mencapai US$ 1,45 miliar, dan kepemilikan saham Robert sekitar 64% dengan nilai US$ 1 miliar.

Robert pun bercita- cita ingin mendorong perusahaannya menjadi lebih besar dan mendapatkan reputasi Cisco. Kesuksesan adalah masalah mengidentifikasi peluang dan menempatkan dalam upaya yang jelas dan ringkas ke arah yang benar. Pria yang tidak menyukai politik dan ketidakefisienan ini cukup mahir bermain  basket. Ia dikabarkan suka latihan basket sekitar empat hingga lima kali dalam seminggu. Kesukaannya terhadap basket juga membuatnya membeli klub basket Memphis Grizzlies.

"Saya rasa dia dapat menjadi pemilik yang baik. Ia muda, di usia 30 tahunan, dan saya pikir dia suka basket, dan keuangannya juga baik. Ia akan menjadi pemilik luar biasa, " tutur Michael Heisley, yang sebelumnya pemegang saham utama Memphis Grizzlies.

Robert pun menyambut kesempatan ini sebagai alat untuk mengembangkan apa yang telah dibangun Memphis Grizzlies dalam kompetisi tinggi di tim NBA. "Saya bergerak maju untuk mengetahui komunitas Memphis dan melanjutkan tim sukses di Memphis," ujar Pera. Pria jomblo kaya satu ini kelihatan cukup eksis di dunia maya seperti twitter dan blog. Dia dikenal suka berbagi pengalaman dan ilmu dengan orang lain.

Dia juga punya blog pribadi yang dibuat pada 1 Juni 2012. Robert mengatakan, blog ini dibuat untuk mendiskusikan berbagai topik mulai dari teknologi masa depan dan untuk menemukan hal yang keren. Salah satu fokus dari situs ini juga akan didedikasikan untuk berbagi beberapa wawasan dari pengalaman karirnya dalam upaya mendukung generasi berikutnya dari pengusaha untuk bersaing di pasar global. Blog Robert ini bernama www.rjpblog.com, tulisan terbaru Robert ditulis pada 17 Juni 2013.

Artikel Terbaru Kami