Sabtu, 18 Oktober 2014

Dikeluarkan Kampus Malah Jadi Jutawan Kaya


Terjun di bisnis kue kering sejak usianya 21 tahun, tapi gagal di pendidikannya. Namun demikian, kini, ia telah memiliki perusahaan sendiri bernama PT. Bonli Cipta Sejahtera, memegang lima merek kue kering. Dia bernama Jodi Janitra, pemilik lima merek roti kering enak; Ina Cookies, Kersen Cookies, JnC Cookies, La Difa Cookies, dan Valya. Khusus merek La Difa dan Valya membidik segmen premium.

Kedua brand itu juga sudah diekspor ke Malaysia, Hong Kong, dan Kanada. Tak salah lagi dia adalah sosok pengusaha muda penuh dedikasi atas apa yang dicintainya.

Bagi Jodi yang kini berusia 27 tahun bisnis kuliner bukanlah hal baru. Dia yang merintis usahanya sejak 6 tahun silam tepatnya di tahun 2008, kedua orang tuanya sudah mengenalkan bisnis ini. Jodi berkisah, dulu, kedua orang tuanya pernah menjual jahe gajah tapi bangkrut di 1993. Sejak saat itu, kedua orang tuanya memilih bisnis kuliner lain dari gado- gado, molen, dan roti keliling.

Bisnis mereka jalan ditempat terangnya. Ia teringat bagaimana dia harus ikut menghabiskan roti tiap harinya, roti- roti yang tak laku dijual. "Pas saya tamat SMA, saya bertekad untuk membuka usaha yang lebih serius lagi," ujar pria kelahiran 7 Januari 1987 ini.

Tapi keinginan itu sempat tertunda karena kedua orang tuanya "memaksa" Jodi berkuliah. Dia kemudian melanjutkan kuliah di Sekolah Tinggi Pariwisata di Bandung mengambil jurusan Patiseri. Belum genap setahun belajar, Jodi malah dikeluarkan dari kampusnya itu. "Karena saya tidak memiliki minat di bidang itu," ujarnya. Dia tak langsung berbisnis roti setelah keluar dari kampus.

Apa yang dilakukannya? Ia lalu sibuk bekerja membantu mengelola kafe milik keluarga bernama Bober Cafe. Baru pada tahun 2008, Jodi memilih mencoba peruntungan sendiri di bidang kue kering. Kala itu, ia sama sekali tidak bisa membuat kue kering. Untungnya orangtua, tante, dan sepupunya mau membantu Jodi untuk menciptakan resep baru. "Jadi, kami bagi tugas. Mereka yang membuat kue, saya yang urus dan keuangannya," jelasnya.

Sambil berjalan ia pun ikut serta membantu mencari resep sambil tetap belajar mencapur roti. Hasilnya ia sukses membuka satu pabrik pembuatan kue di Bojong Kenong, Bandung, dengan 1.000 karyawan. Kapasitas produksinya dalam sehari bisa mencapai 6 ton kue atau setara dengan 12.000 stoples kue kering. Adapun kue yang habis terjual dalam sebulan 1,5 juta stoples. Omzetnya rata– rata Rp 120 juta. Namun, saat ada momentum seperti Natal, Imlek, dan Lebaran, omzetnya bisa mencapai Rp 200 juta.

Bisnis kue kering


Biasanya bisnis semacam Jodi akan laris atau hanya muncul ketika musim tertentu saja. Semisalnya hari- hari besar seperti lebaran, namun tidak untuk produknya. Roti keringnya bisa dinikmati kapan saja. Sejak awal memang dirinya sudah bertekat untuk menggarap pasar kue yang bukan musiman. Jodi sudah bertekad menjadikan bisnis kue keringnya sebagai bisnis sepanjang tahun. Sekalipun tidak ada momen hari-hari besar, seperti Lebaran atau Natal, kuenya harus tetap laris terjual

Berbekal tekad dan semangat itu pula, bisnis kue keringnya bisa eksis sepanjang masa dengan omzet ratusan juta per bulan. Sebagai pebisnis, Jodi memang memiliki semangat pantang menyerah dalam membesarkan bisnis kue kering. Dia menjalankan bisnis tersebut dari nol, meski minim pengalaman dan tidak punya satu pendidikan khusus di tata boga, ia tetap semangat bermodal cita- cita. Jika ditanya soal pendidikan Jodi menjawab dia sebenarnya tidak begitu berhasil dalam dunia akademis.

Jujur. Jodi telah dua kali gagal di sekolah karena memang tidak punya ketertarikan. "Saya juga sempat kuliah di Universitas Widyatama Bandung, lagi-lagi, saya dikeluarkan," katanya. Jadilah, Jodi hanya belajar dari pengalaman orangtuanya yang sudah puluhan tahun menekuni bisnis kuliner. "Itulah yang menjadi modal utama saya di bisnis ini," katanya. Berbekal tekad kuat ia tak berhenti belajar membuat kue secara otodidak. Sebagai pengusaha dia paham betul perlunya inovasi produk.

Jodi juga pintar membangun relasi. Makanya, saat awal merintis bisnis, banyak temannya yang mau menjadi investor untuk menambah modal usahanya. "Kami saling percaya saja dan serius menjalani usaha," kata dia. Dari modal tersebut digunakannya untuk mengakuisisi dua usaha sejenis. Dia membeli dua usaha rumahan kue di daerah Bojong Koneng, Bandung, tak jauh dari tempat tinggalnya.

Dua industri rumahan itu adalah Ina Cookies dan J&C Cookies. Setelah diakuisisi, kedua industri rumahan itu dilebur dalam satu bendera usaha miliknya, yakni PT Bonli Cipta Sejahtera. Jodi kemudian merekrut mereka yang disekitar lingkungannya yang tak memiliki pekerjaan. Awal mula merintis bisnis, Jodi memutar otak agar kuenya bisa dikenal masyarakat dan bukan hanya dinikmati saat Lebaran saja.

Untuk memperkuat branding, ia lalu aktif mengikuti pameran kue dan roti di daerah- daerah. Jodi juga gencar melakukan promosi lewat internet. "Pembelian bisa dilakukan lewat internet dan dikirim melalui ekspedisi," katanya. Dari segi rasa, ia menjamin kue kering buatannya dibuat tanpa bahan pengawet dan bisa tahan sampai tiga minggu. Segi citarasa juga dijamin enak. Saat ini, ia telah memiliki lima merek kue kering. Sebanyak dua brand khusus membidik segmen premium.

Kendati demikian, bukan berarti kue- kue untuk masyarakat menengah bawah memiliki citarasa kurang enak. "Semua produk rasanya beda-beda," ujarnya. Namun, khusus merek Valya dan La Difa, kemasannya harus dibuat lebih menarik, harus cantik dan kelihatan ‘wah’. "Jadi kalau dijadikan kado juga lebih cantik," kata dia. Info tentang usahanya lebih lanjut silahkan buka situs www.bcs.co.id

Sumber: Suara Pengusaha

Artikel Terbaru Kami