Rabu, 29 Oktober 2014

Amran Sulaiman Sang Pengusaha Racun Tikus


Biografi Menteri Pertanian Baru


Sosoknya terlihat kalem menjadikannya tak sepopuler menteri- menteri lain di Kabinet Kerja, Jokowi- JK. Bukan tanpa prestasi, Amran Sulaiman dalam catatan hidupnya telah mendapatkan banyak penghargaan di bidang pertanian atau agrobisnis. Dia adalah sosok pengusaha sukses. Telah ,emulai usahanya sejak masih dibangku kuliah Sosok petani sukses yang memiliki berbagagi usaha pertanian, lini usahanya meliputi bisnis pabrik gula, kebun kelapa sawit, dan pembangunan industri pestisida.

"Beliau praktisi pemikir dan wirausaha muda, ini sosok petani muda yang berhasil membangun sebuah model wirausaha muda," kata Presiden Jokowi saat mengumumkan Kabinet di Istana Negara.

Pria 42 tahun bergelar adat Andi Amran Sulaiman, telah merampungkan sekolah dari SD, SMP, dan SMA di tanah kelahirannya sendiri. Pada tahun 1988, Amran Sulaiman menempuh kuliah S1 di Fakultas Pertanian Universitas Hasanuddin Makassar dan lulus pada tahun 1993. Dari perguruan tinggi yang sama, ia meraih gelar master dan doktor dalam bidang Ilmu Pertanian.

Merupakan lulusan S1, S2, S3 Pertanian Universitas Hasanuddin dan dilanjutka bekerja sebagai Pegawai PTPN XIV, Dosen Universitas Hasanuddin, Makassar.

Pengusaha dibidang pertanian


Dia adalah Direktur dan Founder Tiran Group. Pengusaha muda kelahiran 27 April 1968, Dr. Ir. H. Andi Amran Sulaiman, MP. masih memiliki darah keturunan Raja Bone, dikenal sangat ulet mendirikan usahanya Tiran Group. Perlu diketahui Tiran Group itu sendiri perusahaan yang bergerak dibidang pembuatan obat- obat pembasmi tikus. Tak lantas langsung sukses begitu saja, produk racun tikus yang kemudian diberi label Tiran ini (Tikus Diracun Amran), telah memiliki kendala diawal pemasarannya. 

Salah satunya berupa keterbatasan modal untuk mengembangkan dan memasarkan produk racun Tiran. Saat pertama kali, ia pernah meminta modal pinjaman di Bank senilai 5 juta, tapi ditolak mentah. Namun, tidak berapa lama, Amran mendapatkan modal tapi terbatas 500 ribu saja. Apakah berhasil? Penelitian racun tikus itu sudah berlangsung lama dan dibiayai sedikit -demi sedikit; dan berhasil.

Bukan racun abal- abal tapi sudah diteliti sejak kurang lebih 2 tahun (1989- 1992) dan terbukti.

"Saya merintis usaha racun tikus sejak 1989. Sampai sekarang, saya sudah meraih untung hingga ratusan miliar rupiah," kata Amran dalam seminar nasional pengusaha muda Indonesia di Universitas Hassanudin (Unhas) Makassar, kisaran September tahun lalu.

Bermodal sedikit hanya ditambah kerpercayaan diri. Amran terus berusaha memasarkan produknya. Masa uji coba produk racun tikus temuannya ini pun terbilang lama sejak 1992 sampai 1998. Keberhasilan itu mulai nampak jelas ketika banyak petani mulai menggunakan produk Tiran guna membasmi tikus di sawah.

Berkat penemuan racun tikus Tiran tersebut, Amran pun diganjar anugerah Satyalancana dari Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) pada tahun 2007. Amran dinilai oleh SBY sukses melakukan pengetasan hama pertanian di 168 kabupaten. Bisnis pun tidak berhenti. Melalui kerja keras, Tiran Group lahir, berekspansi ke berbagai bidang melalui berbagi perusahaan- perusahaan.

PT. Tiran Group juga tercatat bekerja sama dengan perusahaan Timur Tengah yakni guna membuat  dua unit pabrik gula di Kabupaten Konawe Selatan, Sulawesi Tenggara untuk menjawab akan kekurangan kebutuhan gula khususnya di wilayah kawasan Indonesia Timur yang mencapai 240 ribu ton gula per tahun.

Ada 10 perusahaan tercatat dibawah bendera Tiran Group, antara lain: PT Tiran Indonesia (tambang emas), PT Tiran Sulawesi (perkebunan tebu dan sawit), PT Tiran Makassar (distributor Unilever), PT Tiran Bombana (emas, timah hitam), PT Tiran Mineral (tambang nikel), PT Amrul Nadin (SPBU percontohan Maros), CV Empos Tiran (produsen rodentisida), CV Profita Lestari (distributor pestisida), CV Empos (distributor Semen Tonasa), PT Bahteramas (pabrik gula di Konawe Selatan).

Bukan anak orang kaya


Dilansir dari halaman Fajar.co.id, Amran ternyata bukanlah anak dari orang tua yang kaya raya. Perusahaan yang dibangun bukanlah warisan orang tua. Ada modal kedisplinan, keyakinan, kreatifitas, ketekunan dan optimisme sementara modal uang tidak begitu mendukung langkahnya. Amran punya prinsip yang patut kita contoh yaitu bahwa kesuksesan adalah hak semua orang dan bukan monopoli pihak tertentu.

Berbekal pada prinsip tersebut, diapun akhirnya bisa meraih kesuksesannya sendiri. Bemula dari satu buah penelitian panjang berkembanglah usaha memproduksi produk pembasmi hama. Usaha dari temuannya sendiri. Ayah dari empat anak ini memang menekankan makna kejujuran kepada tidak hanya dirinya tapi semua karyawan. Amran bukannya tanpa kegagalan, namun dia selalu dapat mencari jalan. Dia yang memulai semuanya dari sebuah CV bernama Empo Tiran yang dibangun sejak 1996.

Empo Tiran ini memproduksi racun tikus dan berbagai perlengkapan pertanian. Impian tak sesuai kenyataan, sehingga dia perlua merubah arah impiannya. Dulu, Amran sebenarnya memiliki impian menjadi tentara. Dulu pula dia adalah lulusan masuk pendidikan tentara sekaligus Sistem Penerimaan Mahasiswa Baru (Sipenmaru) pada Fakultas Pertanian Unversitas Hasanuddin (Unhas).

Keinginannya menjadi tentara tidak direstui oleh ibunya. Padahal tentara merupakan cita- cita yang sudah disiapkannya selama enam tahun. Impian yang telah dibangunnya selama enam tahun untuk menjadi tentara itu lepaskan demi membahagiakan hati ibunya. Bagi dirinya, tidak ada arti penting jika kebahagiaan tanpa direstui oleh Ibu. Dengan hati yang kuat, dia menetapkan pilihan kuliah di Fakultas Pertanian.

Saat ini dia mendapatkan buah matang dari hasil ketekunan dan kepatuhan selama menjalankan hidup yaitu menjadi peneliti dan pengusaha muda sukses Penemuan racun 58PS dan alat pembasmi tikus Alpostran yang diproduksi lewat jerih payahnya sendiri. Hasil kerja selama dua tahun ternyata sangat bermanfaat bagi petani. Sehingga, dia diberikan Satyalencana dari Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono pada Juli 2009.

Penelitian Tiran 58PS telah menghabiskan waktu kurang lebih dua tahun, dari 1989-1992. Masa uji coba Tiran 58PS juga berlangsung lama, dimulai 1992-1998. Semua yang dilakukannya untuk mendapatkan hasil memuaskan tidak setengah- setengah, dan akhirnya para petani merespon baik produknya.

Produknya sendiri ternyata terdengar lucu ditelinga seperi Tikus Diracun Amran, yang kemudian disingkat menjadi Tiran. Sedangkan Alpostran sendiri merupakan singkatan dari kalimat Alat Empos Tikusnya Amran.  Permintaan akan Tiran dan Alpostran tiap tahun mengalami peningkatan setelah gencar dipasarkan, hingga telah tersebar di seluruh kabupaten se- Indonesia.

Pada akhirnya, suami dari Martati ini menjadi peneliti sekaligus wirausahawan, yang dahulunya sangat suka olahraga demi mendapakan sosok tentara seperti cita- citanya dulu.

Artikel Terbaru Kami