Kamis, 23 Oktober 2014

Angkie Yudistia Penulis Buku Perempuan Tunarungu


Profil Angkie Yudistia

 
Mimpi bukan cuma milik mereka yang sempurna (secara fisik). Kurang berarti bukan pula kurang syukur atas nikmat ilmu yang diberi. Angkie Yudistia, sosok yang diberkahi kekurangan, dilebihkan sisi lain untuk disyukuri. Wanita yang kerap disapa Angkei ini punya mimpi dan terus berkarya, akhirnya menjadi sukses meski dalam keterbatasan. Dia sukses menjadi pengusaha dan juga penulis.

"Saya sangat suka menulis karena saya tunarungu. Tidak bisa mendengar membuat saya sulit berkomunikasi makanya saya suka menulis. Awalnya saya ragu karena nggak tahu sama sekali tentang peneliti tapi saya pikir kenapa tidak dicoba," ujar Angkie.

Meski seorang difable tidak membuatnya terpuruk dalam hidupnya bahkan sejak kecil sekaliupun. Banyak prestasi yang telah berhasil disandangnya, yang terkadang terlihat sangat berat untuk orang kebanyakan.

Wanita 26 tahun itu kehilangan pendengaran sejak usia 10 tahun akibat kesalahan obat antibiotik. Hal ini sempat membuat Angkie dan kedua orangtuanya shock. Meski demikian, putri pasangan Hadi Sanjoto dan Indiarty Kaharman ini tetap menempuh pendidikan formal di sekolah umum. Sang ibu tidak ingin Angkie bersedih dan menerima pendidikan khusus. Menempuh pendidikan umum berarti siap untuk mendapatkan sorotan.

Angkie kecil tak jarang mendapatkan tindakan tidak menyenangkan dari teman- temannya. Namun tindakan itu tak merubah apapun. Angkie justru semakin tegar dan optimis. "Waktu masih kecil zaman SD atau SMA diledekin ya, sampai SMA juga masih tapi aku tahu kalau gak bermaksud seperti itu, aku sedihnya bukan karena ini (tunarungu) tapi pandangan orang lain ke aku," tutur Angkie.

Meskipun sering mendapatkan ledekan dari teman- teman tak membuatnya mudah jatuh. Ia tetap akan selalu berusaha memberikan yang terbaik demi kedua orangtua yang selalu mendukungnya. Tekad dan kerja keras Angkie membuat wanita yang hobi traveling ini sukses seperti sekarang. Bukunya yang berjudul "Perempuan Tunarungu Menembus Batas" menunjukan kisah- kisah keberanian yang bercermin dalam dirinya.

Semangat difable


Wanita kelahiran 5 Juni 1987 itu semakin tegar dan optimis, mendirikan sebuah perusahaan sosial bersama dua sahabatnya yang tidak memiliki keterbatasan. Ia menjabat sebagai Chief Executive Officer(CEO) di perusahaan yang fokus pada program sosial itu, terutama mengenai isu difabel. Perusahaan bergerak di bidang publishing atau penerbitan, pendidikan, serta komunikasi. Angkie mendirikan perusahaan tersebut sejak 2011.

Tak hanya itu, ia juga mengaku telah membangun bisnis retail bersama istri pengusaha Baba Rafi, Nilam Sari. Tapi bukanlah sebagai desainer atau stylist, ia lebih memilih menjadi konseptor. Meski masih dalam proses perencanaan, Angkie tampak bersemangat dan telah memiliki target tiga bulan terlaksana. Wanita cantik yang satu ini memang pandai dalam hal fashion.

Terlihat cantik dengan rambut panjang terurai. Angkie mengenakan dress H- line bernuansa emas ketika dia sedang diwawancarai Wolipop. Ternyata sang workaholic ini juga mampu memanfaatkan kecantikan serta kemampuan komunikasinya untuk berprestasi di bidang entertaiment. Hal itu terbukti dari prestasinya yang pernah masuk dalam deretan finalis None Jakarta Barat dan The Most Fearless Female Cosmopolitan.

Selain itu, ia pernah masuk nominasi Liputan 6 Awards SCTV untuk kategori Pemberdayaan Masyarakat 2012 serta mendapatkan The Most Powerful Women versi majalah Her World. Kemudian ia juga meraih penghargaan Kartini Generation Awards dari Kementerian Komunikasi dan Informatika.

"Dengan pembuktian itu aku bisa menjadi bagian dari mereka. Itu menambah kepercayaan diri aku karena bisa bertemu banyak orang, masing-masing orang punya cerita. Selama ini aku merasa hidupku buruk tapi ternyata nggak seburuk itu. Aku jadi lebih mencintai diri sendiri," tutur wanita lulusan Fakultas Public Relation dari London School Jakarta ini.

Artikel Terbaru Kami