Sabtu, 27 September 2014

Biografi Billy Boen Motivator Young On Top


Motivasi Billy Boen


Sukses di usia muda, siapa sih yang tidak berpikir seperti itu kini. Ada nilai tersendiri jika di usia muda kita sudah berhasil mendaya gunakan diri kita secara optimal. Billy Boen menjawab setiap pertanyaan "apakah kita bisa sukses di usia muda?" Dia menjawab, berpikir besar, bekerja besar itulah seorang pemuda yang dikenal dengan konsep Young On Top -nya. Ia mengaku suka pesta, bergaul, dan bersenang- senang. Tapi ia masih memiliki kerja kerasnya.

Pendeknya, ia menjalani pola work hard, play hard.

Perjalanan karir Billy Boen


Lahir di Jakarta, 13 Agustus 1978, dia adalah merupakan putra dari ayahnya yang bernama Henry Boen. Ia yang kini telah menjadi seorang pengusaha sukses tentunya tidak terlepas dari peran ke kedua orang tuanya, terutama sang ayahanda. Dari sang ayah Billy menjadi sosok yang siap untuk menjadi seorang pengusaha sukses. Ayahnya mengajarkan nilai nilai positif tentang bagaimana menjadi pemimpin besar kelak, menghargai waktu, ber-attitude baik dan masih banyak lagi.

Hal tersebut nampaknya yang ia tetap bawa hingga saat ini. Tahun 1999, ia melanjutkan pendidikan di Utah State University (USU), Amerika Serikat untuk mengambil S-1 jurusan manajemen. Lalu dilanjutkan ke S-2 setelah cukup dua tahun saja ia menyelesaikan program sarjananya. Dia melanjutkan S-2 di State University of West Georgia. Ia sukses mendapatkan title Mba dari almamaternya tersebut hanya dalam waktu 1 tahun saja, dan yang lebih membanggakan ia juga lulus dengan predikat cumlaude.

Itulah modal berharga yang ia bawa pulang ke tanah air untuk mulai menapaki jenjang karir, di usianya yang masih muda 22 tahun. Sepulang dari menempuh pendidikan Billy langsung tancap gas. Ia mulai mencari pekerjaan sesuai passion -nya. Pada sekitar tahun 2000 -an, dia mulai menapaki masa karirnya di dunia kerja. Dengan pencapaian prestasi akademis yang membanggakan, tentunya ia tidak perlu kesulitan mencari spot pekerjaan pada waktu itu.

Hingga pilihan jatuh pada salah satu perusahaan besar yang bergerak dalam bidang peralatan sport PT Berca Sportindo. Dia masuk di perusahaan besar pembuat merek "Nike". Kerjanya pun strategis sebagai asisten manajer membawahi divisi footwear. Dengan hasil kerja yang memuaskan, ia diangkat menjadi manajer sendiri di divisi lain perusahaan. Hanya dalam waktu satu tahun, ia mendapatkan promosi menjadi manajer all divisions manager, membawahi setiap divisi yang ada meliputi bagian footwear, apparel, aksesoris, dan perlengkapan.

Puncak karir Billy di perusahaan tersebut Berca Sportindo dicapai saat ia akhirnya ditunjuk sebagai Manajer Penjualan & Pemasaran Nike. Tanggung jawabnya pada waktu itu tidak sembarangan, ia memegang masuknya merk Umbro ke Indonesia dan juga merek footware (sepatu) League yang saat itu masih mulai dikembangkan. Tahun 2005, ia memutuskan untuk masuk ke perusahaan lain yaitu Oakley Indonesia. Masuk ke pekerjaan baru membawanya ke tantangan baru yang tidak selalu mudah.

Namun integritas dan dedikasi yang tinggi berhasil membawanya menjadi General Manager di perusahaan Oakley Indonesia dalam waktu satu tahun sejak pertama kali bergabung. Pencapaian tersebut juga telah mengokohkan dirinya sebagai GM perusahaan Oakley termuda yang ada di dunia. Merupakan Pencapaian yang luar biasa tentunya.

Sukses lain, pada 2006, bersama rekan Rudy Buntaram, ia mendirikan Jakarta International Management (JIM) yaitu sebuah perusahaan multi usaha yang bergerak di bidang seperti fashion hingga consultan. Tidak berhenti berekspansi, pada tahun 2008 jejak karirnya tertaut pada salah satu perusahaan, Grup MRA (Mugi Rekso Abadi). Di perusahaan tersebut ia menjabat sebagai kepala divisi F&B yang membawahi beberapa café kenamaan seperti Rock Cafe Jakarta, Hard Rock Cafe Bali dan Haagen-Dazs.

Saat ini Billy tercatat aktif sebagai CEO dari PT. YOT Nusantara.

Young On Top


Pada awalnya, YOT  adalah sebuah mereka yang dulunya merupakan judul buku yang ia tulis "Young On Top". Buku tersebut merupakan buah pikirnya yang berisi langkah meraih kesuksesan dalam usia muda. Tentu semuanya berdasarkan pengalamannya sendiri. Buku yang telah menginspirasi banyak anak muda di Indonesia tersebut nampak nya  merupakan salah satu pencapaian tertinggi dari seorang Billy Boen. Karena potensinya membantu menyemangati pemuda Indonesia makan dijadikanlah proyek lain.

Billy memutuskan untuk mengembangkan merek Young On Top di dalam satu perusahaan, yaitu PT. YOT Nusantara.

"Ketika saya mampu memberikan kontribusi positif terhadap diri sendiri dan orang-orang di sekeliling saya. Dengan buku Young On Top yang saya tulis, saya tidak hanya memberikan pengaruh positif terhadap orang-orang yang saya kenal, tapi kepada orang-orang yang membeli buku saya meski saya tidak mengenal mereka. Sungguh perasaan senang yang belum pernah saya rasakan sebelumnya." -Billy Boen

Yoris Sebastian, Chief Creative Officer OMG Creative Consulting, amat terkesan pada sosok pria 30 tahun ini. Lelaki yang pernah menjadi GM termuda di Hard Rock Cafe se-Asia Pasifik ini menilai Billy sebagai sosok yang unik, berbeda dari kebanyakan anak muda Indonesia yang baru tamat kuliah dari luar negeri. "Billy selalu memilih pekerjaan yang dia suka dan punya peluang bagus, meskipun gajinya bukan yang top," ujar Yoris.

Sebagai anak gaul masih bisa menulis kata- kata "I'm so far from that, I'm a party person" dalam bukunya. Ini merujuk bahwa meski sukses usia muda bukan berarti anda kehilangan masa muda. "Saya waktu itu jadi GM Oakley yang termuda di seluruh dunia," ujarnya bangga. Hanya dalam tiga tahun, Billy yang saat itu masih berumur 26 tahun, telah berhasil menaikkan penjualan Oakley hingga tiga kali lipat. Karyawan pun bertambah dari 80 menjadi 240 orang. "Itulah yang saat itu menjadikan penjualan Oakley Indonesia bisa lebih bagus daripada Ray Ban."

Pada 2008, saat berusia 29 tahun, ia digaet Grup MRA, dengan jabatan Kadiv. F&B. "Waktu itu saya membawahkan tiga entitas bisnis – Hard Rock Cafe Jakarta, Hard Rock Cafe Bali, dan Haagen-Dazs – dengan total 500 karyawan," kata Billy bangga. Namun, ia hanya bertahan kurang dari dua tahun. Rupanya setelah itu ada tawaran lain yang lebih menggoda, yaitu menjadi Direktur Rolling Stone Indonesia. "Saya sempat merasakan comfort zone di MRA Group," katanya mengakui.

Tentang JIM, perusahaan yang didirikan Desember 2009, perusahaan yang mendukung industri fasion. JIM memiliki beberapa divisi, yakni: agensi model (JIM Models), manajemen artis, event organizer, fotografi, fashion consulting dan JIM FTV performing academy (bekerja sama dengan FashionTV Indonesia). Ia mengklaim JIM Models kini sudah menjadi agensi model terkemuka di Indonesia. Adapun manajemen artis, JIM Artist Management telah menangani sejumlah artis top seperti Aline Adita dan Fedy Nuril.

Ia menyebut gaya kepemimpinannya seperti seorang pelatih (coach). Sebelum bertanding dia lah pemberi arahan kepada para pemain. Tapi jika di lapangan, ia berdiri di samping mengamati jalannya tugas sambil  menentukan berbagai strategi, tapi tetap siapa yang menjalankan dan berimprovisasi adalah bawahannya atau pemainnya. "Dia memang tipikal pekerja yang practical," ujar Yoris menilai Billy. Itulah sebabnya, ia melihat Billy memiliki lebih banyak waktu untuk hang out.

Toh, menurut Yoris, Billy sosok yang punya tujuan jelas. "Dia memiliki management by objective yang jelas, dan dia bisa capai." Pada April 2009, Billy menulis buku berjudul Young on Top yang diterbitkan oleh GagasMedia. Hingga kini buku itu sudah lima kali cetak ulang loh. "Ternyata sampai saat ini di semua cabang Gramedia, buku saya masih di jajaran buku laris," ujarnya bangga. Ke- depan, suami Chatpalee Kiangsiri Boen dan ayah James Chatphimuk Boen ini ingin lebih banyak lagi berbagi lagi.

"Saya ingin menulis lebih banyak buku lagi," ujar Billy yang punya program siaran rutin dengan mengundang wirausaha sukses untuk berbagi kisah sukses lewat udara.

Ketika ditanya rahasia keberhasilannya, ia hanya menjawab dengan satu kata yaitu: network (jaringan). Ia meyakini orang tuanyalah yang paling berpengaruh dalam hidupnya sebagai landasan. Sejak kecil, diceritakan Billy, Henry Boen (ayah) dan Liana Boen (ibu) mengarahkan anaknya dengan cara yang baik, tanpa paksaan sama sekali. Bahkan hal ini terjadi ketika ayahnya ingin menyekolahkannya ke AS, tetapi ia lebih memilih sekolah di Indonesia.

Ia ingat saat itu ayahnya memintanya mengunjungi kakaknya, Berry Boen, yang sedang belajar di AS. Ia diajak kakaknya berkeliling kampus dan berbagai tempat menarik lainnya. Kembali dari liburan, ia mengaku tertarik ingin kuliah di AS.

"Hingga sekarang, saya masih terkesan dengan cara mendidik orang tua saya," kata Billy.

Artikel Terbaru Kami