Selasa, 08 Juli 2014

Manfaatkan Kotoran Sapi Menjadi Bisnis Jutaan Rupiah

 
Ternyata kotoran sapi bisa sangat berharga seharga emas. Syammahfuz Chazali, sang pesulap yang merubah kotoran yang menjinjikan menjadi kuningnya emas. Kotoran sapi itu sumber rupiah. Syam begitu dia akrab dipanggil, di benaknya, ada secercah harapan tentang fakta ilmiah kotoran sapi. Dari bentuknya yang aneh, baunya yang tidak enak, ternyata kandungan ilmiahnya baik untuk gerabah dan keramik. Dia terus berusaha megangkat harkat martabat limbah yang mengganggu lingkungan itu.

Hasil riset Syam mengaggumkan. Dia berhasil membuktikan bahwa dengan tlethong (kotoran sapi/ bahasa Jawa) gerabah bisa kuat. Sebagai bahan campuran tlethong bisa membuat gerabah kuat, warnya cemerlang, dan beratnya bisa lebih ringan hingga dua kilogram. Dia menyebut idenya datan ketika ia buang hajat. Tiba- tiba saja ia terbersit untuk mencampur isi perut itu dalam usaha keramiknya.

Pria kelahiran Medan, 5 November 1984 ini, teringat kenyataan bahwa tanah yang kering dan tandus bisa menjadi bagus setelah dicampur dengan kotoran sapi.  Logika yang sedikit nyeleneh tapi tetap dicobanya. 'Renungan kloset' itu terus menggugah rasa ingin tahunya sehingga ia terus mencari referensi. Tentang per- tlethong -an melalui berbagai buku- buku, teman- temannya dan juga internet, dari situ dibuatlah penelitian sederhananya.

Syam juga menyimpulkan selain bertekstur lembut dan berserat, kotoran sapi juga mengandung Silikat (semacam bahan perekat) hingga hampir 10%. Dari sisnilah Syam mengemukakan gagasannya menjadikan tlethong sapi sebagai bahan campuran pembuatan gerabah.

Penelitian bisnis


Sebulan setelah riset pribadinya, Syam menggandeng teman kuliahnya sejumlah empat orang untuk meneliti lebih lanjut hipotesanya. Syam kemudian menamai tim kecilnya ini dengan FAERUMNESIA. Nama yang berasal dari istilah peternakan yang berarti kotoran dari lambung sapi. Maklumlah Syam memang seorang mahasiswa Sosial Ekonomi Pertanian, Fakultas Pertanian UGM, sehingga tertarik dengan hal ini.

Secara bisnis, tim yang selanjutnya berkembang menjadi kelompok bisnis ini melihat kotoran sapi belum sepenuhnya dimanfaatkan dengan baik. Menurut perkiraan mereka, dalam setahun peternakan di Indonesia bisa menghasilkan kotoran sapi sekitar 6 juta ton dan hampir semuanya terbuang sia-sia. Diajukanlah proposal itu untuk mengikuti pekan kreatifitas mahasiswa, tim ini mengebut menyelesaikan proposal penelitiannya.

Dengan lugunya tim tersebut malah tanpa pikir panjang memasang judul Kotoran Sapi begitu saja. Proposal itupun ditolak. Mereka belajar bahwa pentingnya kemasan yang baik untuk ide- ide mereka. Tanpa putus asa mereka kemudian memperbaiki proposal itu dan mengikutkan proposalnya di lomba yang lain. Hasilnya pun tak mengecewakan, mereka berhasil meraih juara satu dan yang menggembirakan lagi proposalnya disetujui oleh DUE-Like Batch IV UGM.

Mereka sukses mendapat kucuran dana sebesar 3,5 juta untuk dana eksperimen lebih lanjut. Girangnya bukan main Syam dan kawan-kawan, akhirnya hasil penelitiannya mendapat apresiasi juga setelah sekian lama. Dibantu oleh para pengrajin gerabah setempat yaitu Purwanto, mereka melakukan uji coba. Mereka coba menentukan komposisi yang pas antara kotoran sapi dan tanah liat agar hasilnya optimal.  Tlethong- tlethong tersebut sebelumnya sudah dicampur dengan bioactivator agar tidak gatal dan hilang bau busuknya.

Dengan bioactivator tersebut, tlethong akan berubah menjadi humat yang memerlukan waktu satu bulan. Hasilnya sangat mengejutkan. Bahan baku yang terdiri dari tanah liat kuning dan tlethong yang dibuat gerabah menjadikan bobot gerabahnya lebih ringan 2 kilo jika dibandingkan dengan menggunakan campuran tanah liat dan pasir. Selain itu gerabah juga warnanya lebih cerah dan tidak mudah pecah saat di bakar hingga 90 derajat celcius.

Efek positif lain bahwa campurannya mampu membantu ekosistem. Maksudnya pengerukan tanah liat jadi lebih sedikit karena telah dicampur- campuran lain. Jika tanah liat terus menerus dikeruk maka dikhawatirkan akan merusak lapisan subur tanah. Tim Ferumnesia memang patut berbangga hati. Pasalnya mereka tak perlu menunggu lulus kuliah untuk menghasilkan uang. Beberapa tawaran bisnis pun bermunculan baik dari dalam negeri ataupun luar negeri.

Bisnis kotoran


Di dalam negeri ada pemesanan sekitar 1000 dekomposter rumah tangga Universitas Tri Sakti. Dan yang dari luar negeri seperti pesanan humat dari Brunei Darussalam sebesar 60 ton per- hari untuk membuat bahan baku bangunan seperti batako. Karya Syam dan kawan- kawan memberi dua manfaat besar bagi masyarakat. Pertama masalah limbah teratasi dan kedua meningkatkan kualitas gerabah sekarang. Dia mematok harga sekitar 1000 rupiah per kilogram untuk humat bahan baku gerabah.

Harga ini jauh lebih murah jika dibanding harga tanah liat bercampur pasir. Syam juga mengembangkan bisnis ini untuk membuat genteng dan batako yang lebih kuat. Dari sinilah bisnis tim Ferumnesia terus berkembang selain menjual bahan baku. Pundi- pundi emas itu pun berhasil ia cetak dari sebuah kotoran sapi yang menjadi bahan baku gerabah. Tentu saja setelah gerabah hasil produksinya itu dijual dan di-uang-kan setelah itu dirupakan emas batangan. Bukan mencetak emas dari kotoran sapi he he he.

Yang perlu digaris bawahi, gerabah yang dihasilkan tidak boleh gerabah yang digunakan untuk menaruh makanan seperti membuat piring, gelas, kendi, dan lain-lain karena bahan dasarnya yang dari kotoran sapi. Takutnya akan menjadikan tak higienis ucapnya menjelaskan. Gerabah yang bisa dibuat dari kotoran sapi hany untuk produk seperti genting, batako, dekomposter dan yang non- makanan pokoknya. Syam langsung saja mematenkan hasil temuannya ini.

Namun, ia mempersilahkan pihak lain yang mau memanfaatkan temuan ilmiahnya ini asal minta izin terlebih dahulu agar tak menjadi masalah dikemudian hari.

Artikel Terbaru Kami