Selasa, 03 Juni 2014

Siapa Rusdi Kirana Calo Tiket Jadi Miliarder


Biografi Rusdi Kirana


Dulu, orang menganggap penerbangan adalah untuk mereka yang berduit. Harga tiket begitu selangi seolah perjalanan singkat itu hanya untuk mereka yang kaya. Jika melihat ke luar jendela, dulu, kita akan selalu berpikir kapan saya akan naik pesawat itu, sebuah pesawat terbang baru saja melintas. Kita mungkin waktu itu masih anak kecil, melambaikan tangan dan berharap bisa menaikinya. 

Sejak tahun 2000 -an, sepertinya mimpi kita berangsur terwujud, kita semua bisa menikmati perjalanan angkasa itu. Di dunia sedang dilanda low- cost flight, penerbangan yang akan membawa anda kapanpun dan dengan biaya termiring. Jika di Malaysia ada maskapai penerbangan Air Asia, di Indonesia nama Lion Air pastilah yang pertama teringat ketika berbicara penerbangan murah.

Mantan calo tiket


Rusdi Kirana kelahiran Cirebon, Jawa Barat, 17 Agustus 1963, dikenal memang dekat dengan dunia bisnis. Orang tuanya dikenal memang dari keluarga pedagang. Jejak bisnis pertama Rusdi masih dibilang abu- abu ada yang menyebutnya memulai dari seorang marketing. Dia diberitakan pernah menjadi sales marketing satu perusahaan asing asal Amerika serta berjualan tepung terigu. Ia menjadi sales untuk mesin ketik bermerek "Brother". Tiap bulannya ia mengaku menghasilkan uang $10 atau Rp.95.000.

Langkah pertama pria yang dikenal dengan kumisnya dalam dunia penerbangan ialah berjualan tiket. Alumni Fakultas Ekonomi Universitas Pancasilan ini mengaku selama menjadi mahasiswa hingga lulus kuliah memang bandara Soekarno- Hatta menjadi tempat tongkrongnya. "Saya mantan calo airport," ucapnya tanpa risih. Semasa menjadi calo tak jarang ia menginap di tempat itu. Bekal yang dibawa hanya sikat gigi, odol, dan handuk.

Selama sewindu menjalani pekerjaan baru itu, tak jarang dampratan atau makian menjadi makanan sehari- hari. Musuh besarnya cuma satu yaitu para satpam penjaga bandara. Pengalaman kejar- kejaran inilah yang menjadi jalan ia membuka sebuah biro perjalanan. Di tahun 1990 ia bersama sang kakak, Kusnan Kirana, mendirikan Lion Tour yang melayani tiket, checkin penumpang, imigrasi, sampai menjemput tamu. Untuk jasa tiket, ia mengaku mengantongi 20 ribu/tiket, sementara untuk checkin dan imigrasi sekitar Rp.75 ribu.

"Itu gue jalani ari pukul 5 pagi sampai 11 siang," ujar Rusdi mengenang. Pengalaman di lapangan ditambah kedekatannya dengan petugas imigrasi membuat perusahaan travel besar, Vaya Tour, setuju mempercayakan pengurusan paspor di bandara kepada Rusdi selama tiga tahun penuh. "Selama saya bekerja dengan Vaya Tour, tak ada satu pun penumpang dari ribuan penumpang yang tertinggal," cerita Rusdi yang sempat menjadi salesman mesin tik dan tepung terigu ke perusahaan-perusahaan roti.

"Saya memanggul tepung terigu seberat 25 kg, lho," katanya.

Rusdi adalah sosok yang pandai dalam mengatur dan mengelola checkin. Ini terlihat dari pengalamannya saat harus men-checkin-kan 300 penumpang dengan tiga pesawat yang berbeda, tapi jamnya bersamaan. "Itu harus saya lakukan sendirian," ujarnya. Dia tak pernah kehabisan akal. Malam sebelum hari keberangkatan, ia sudah melakukan checkin dan membuat pita di tas masing-masing penumpang.

Lantas, ia meminta bantuan porter untuk mencarikan tour leader-nya dan membawakan bagasi rombongan pada tempat yang ditentukan. "Gue bisa checkin semua dan berbarengan bisa berangkat," ceritanya. Tak jarang, ia juga diminta menjemput tamu. Ia mengaku, untuk urusan itu, ia memiliki penciuman yang tajam. "Bukan sombong, asal diberi tahu ciri-cirinya, dengan mudah saya bisa menemui tamu itu. Intuisi gue terlatih di situ," tambahnya.

Dari satu pengalaman itu lah yang membuatnya dikenal masyarakat sekitar bandara Soekarno- Hatta, apalagi kini, ia telah bergelar bos Lion Air, salah satu maskapai terkenal di Indonesia.

Bisnis penerbangan


Rusdi disebut memulai bisnis penerbangan pertamanya pada Oktober 1999. Modal awalnya $10 juta yang prinsipnya harus menciptakan penerbangan low- cost. Gebrakannya itu membuat susah para pengusaha lain. Keduanya menyewa satu satu pesawat  pesawat Boeing 737-200, setelah mendapat izin penerbangan pada Oktober 1999. Pada 30 Juni tahun 2000, Lion Air terbang untuk pertama kali dan dalam waktu sekejap, simsalabim, Lion Air dan Rusdi Kirana menjadi sangat besar.

Strategi Rusdi Kirana bersama PT. Mentari Lion Air bisa dibilang fenomenal. Ia mencoba memastikan agar ada tiket murah meriah bahkan untuk orang bersandal jepit sekelas kuli bangunan pun menikmati indahnya dunia di atas awan. "Saya tidak pernah membayangkan bisa naik pesawat," ujar seorang kakek terharu di penerbangan pertamanya. Sepanjang usianya yang telah merambat 70 tahun, baru sekali ini ia bisa naik pesawat menuju Jakarta dari Medan, karena tarifnya bisa dijangkau isi kantongnya.

Dari satu pesawat yang disewa akhirnya Lion Air punya pesawat sendiri. Di perjalanan, Rusdi pernah juga merasakan rasa gagal dan ingin berhenti, menjual satu pesawat itu. Untunglah sang istri mencegahnya dan mencoba terus memotivasi suaminya untuk melanjutkan mimpi-mimpinya bersama sang kakak. Disinilah awal mula Lion Air diuji. Belum genap satu tahun sudah banyak pakar yang memperkirakan bahwa Rusdi Kirana bakal gagal mempertahankan Lion Air.

Perkiraaan itu agaknya betul ketika ia akan menjual saham Lion Air untuk lebih dari $1 juta. Akan tetapi kala itu pasar saham masih belum kondusif, Rusdi memutuskan untuk membatalkan penjualan. Perlahan tapi pasti ia mencoba menaikan pasar Lion Air lagi. Sejak berdiri memang Lion Air seperti pertunjukan bagaimana seorang Rusdi Kirana menjalankan keputusan bisnis. Mereka yang ada di dalam perusahaan ialah mareka yang dari awal berjuang bersama.

Tindak tanduknya yang secara langsung masuk ke urusan tersepele sekalipun dirasa kurang baik. Rusdi tau dia harus mendelegasikan semua masalah ke setiap post- postnya. "Saya sudah tidak campur tangan lagi, tapi memonitor yang dilakukan anak buah," katanya. Misalny, teknis masalah keuangan, beragam hal tidak akan di monitornya sampai detail teknisnya. "Tapi, saya harus tahu untung dan ruginya," tandasnya.

Banyak cemooh datang menyebut Rusdi itu dibekingi perusahaan penerbangan asing. Dia selalu diragukan karena bagaimana bisa mendapatkan modal pinjaman. Orang cenderung akan menyebut ada sesuatu dibalik namanya. "Dari mana saya punya uang? Ini karena kepercayaan," kata Rusdi Kirana. "Selama ini kami hanya tidak ingin pamer. Tapi Anda bisa berbicara dengan para perbankan, mereka tidak akan membiayai Lion Air jika kondisi keuangan perusahaan tidak bagus."

Memang, sampai saat ini masih banyak kalangan bertanya-tanya, apakah hanya bermodal kepercayaan, perbankan bersedia mengucurkan kredit dalam jumlah yang sangat besar hingga ratusan triliun rupiah. Adakah tokoh lain di belakang Rusdi Kirana. Apalagi, kekayaan Rusdi Kirana dan Kusnan Kirana, menurut majalah Forbes, tahun 2012 hanya US$ 900 juta atau Rp 8,37 triliun. Apapun itu kemampuan Rusdi sudah terlatih sejak menjabat jabatan paling bawah; penjual tiket.

Sayangnya, hingga kini, perusahaan yang kini bernama PT Lion Mentari Airline masih merupakan perusahaan tertutup, tidak pula merilis pendapatannya. Lion Air mulai beroperasi pada 2000 dengan hanya satu pesawat. Maskapai ini lalu berkembang menjadi yang terbesar di Indonesia. Pertumbuhan Lion Air umumnya berasal dari penerbangan dalam negeri berbiaya murah. Lion Air juga melayani penerbangan rute internasional, termasuk Singapura dan Malaysia. Namun, sebanyak 90% kursi tetap diperuntukkan bagi penerbangan domestik.

Di tahun 2012, menurut data dari Direktorat Jenderal Angkutan Udara Kementerian Perhubungan, Lion Air mengangkut 23,93 juta penumpang, disusul Garuda Indonesia Airways (14,07 juta penumpang), Sriwijaya Air (8,1 juta penumpang), Batavia Air sebelum dipailitkan (6,01 juta penumpang), Merpati Nusantara Airlines (2,11 juta penumpang), dan sisanya sekitar 8,96 juta penumpang tersebar di beberapa maskapai penerbangan kecil dengan armada terbatas.

Gebrakan Lion Air


Meski Lion Air sukses memimpin pasar domestik tapi apakah Rusdi menghasilkan lebih. Pertanyaan ini lalu memunculkan spekulasi lain- lain. Akhir- akhir ini gebrakan Rusdi mengejutkan dunia dan juga pemerintah, melalui pembelian pesawat Airbus dan Boing sejumlah 464 buah. Lagi- lagi darimana Lion Air sanggup untuk membeli pesawat tersebut. Ambisi Rusdi memang untuk membuat Lion Air menjadi maskapai penerbangan murah kelas dunia. Meski ini dinilai tidak sejalan dengan pembelian pesawat jenis Boing tersebut.

Perusahaan penerbangan yang awalnya menggunakan pesawat Boeing 737-900ER ini menggebrak pasaran dunia dengan ditandatanganinya surat pembelian pesawat Airbus jenis A320 sebanyak 234 buah di Paris, Prancis pada Senin 18 Maret 2013. 234 pesawat tersebut terdiri dari 109 pesawat A320neo, 65 A321neo, & 60 A320ceo. Dalam tahun tersebut mereka akan mengeluarkan dana sebesar USD 24 miliar (Rp 233 triliun) cuma untuk merefitalisasi kualitas pesawat mereka.

Padahal, tahun 2011 lalu, Lion Air telah mengumumkan pembelian 201 pesawat Boeing yang nilainya USD 22 miliar (Rp 214 triliun). Lion Air memang terkenal sebagai maskapai penerbangan yang paling banyak memakai pesawat Boeing  737-900ER dan sekarang mempelopori penggunaan jenis pesawat airbus yang tentu lebih canggih. Dari tangan dingin itu, ia mampu membuat perjanjian pembelian kelas dunia yang bahkan dihadiri Presiden Francois Hollande, dan menteri dan penjabat tinggi Prancis serta Duta Besar Indonesia untuk Perancis, Monaco, dan Andorra, Rezlan Ishar Jenie.

Pembelian pesawat 234 untuk Airbus memang dianggap tepat ketika kesulitan ekonomi di Eropa, terutama Prancis. Kini seluruh mata mengarah kepada Rusdi, membuatnya jadi bintang penerbangan dunia. Seolah menunggu akan diapakan semua pesawat yang berjumlah 464 buah itu. Kita hanya bisa menunggu gebrakan selanjutnya. Saat ini nampaknya Rusdi tak lagi hanya berbisnis langkah memasuki dunia politik mengejutkan. Mungkin ini gebrakan lain seorang Rusdi Kirana. Atau, nanti di penghujung tahun kita akan dikejutkan hal lain untuk Lion Air bersama maskapai barunya.

Artikel Terbaru Kami