Senin, 16 Juni 2014

Genesis Konsultan Arsitektur Terbaik Yohan Tirtawijaya


Profil Yohan Tirtawijaya


Yohan Tirtawijaya telah dilatih oleh kedua orang tuanya untuk melanjutkan bisnis keluarga. Tapi jangan salah, dia bukanlah sosok yang menyepelekan tanggung jawab ini. Dalam dirinya ada sifat mandiri tak mau sekedar melanjutkan bisnis keluarga. Pembelajaran etos kerja dan pantang menyerah tertanam sejak kecil oleh kedua orang tuanya. Ia sering ikut mengelola toko grosir milik ayahnya. Dari membantu itulah Yohan kecil mengenal bagaimana cara bekerja seorang wirausahawan.

Uniknya pengalaman kecilnya itu menuai ideologi baru tentang konsep menjual, "Saya berketetapan tidak suka jualan karena hanya melakukan rutinitas yang membosankan dan kurang menantang." Mungkin karena itulah Yohan yang sekarang dikenal sebagai konsultan arsitektur, lebih dekat kreatifitas tidak monoton seperti bisnis grosir. Sejak masa SMA ia telah mempalajari berbagai hal baru. Waktu itu ketika ia melihat sebuah film yang diperankan Richard Gare, menginspirasinya.

Richard Gare sukses memerankan seorang arsitek yang mempersentasikan sebuah maket. Terinspirasi, ia memilih untuk menjadi seorang arsitektur. Film itulah yang membawanya kedunia arsitektur. Yohan memastikan langkahnya ke ITB, mengambil jurusan arsitektur. Bayangan tentang arsitektur lebih menantang daripada berjualan grosir. Dia harus berfikir hal yang selalu baru untuk tiap proyeknya. Pada 1998 terjadilah krisis ekonomi membuat bisnis perumahan seret yang juga berimbas pada hidupnya.

Tenaga arsitek terkena imbas karena sepi proyek. Bahkan temannya yang baru lulus rela bekerja apapun asal bisa bekerja. Beruntung ketika itu ia memiliki kesempatan bekerja di perusahaan asing. Dia ditugasi oleh perusahaan menggarap proyek Hotel Chedi. Selama setahun dirinya terlibat dalam design development hotel tersebut di Hang Zhou, Cina, baginya ini menjadi pengalaman sangat berharga. Bekerja dalam satu tim dan dikepalai oleh arsitek senior asal Yugoslavia dan Perancis.

Pengalaman yang membuatnya mengenal proses produksi sebuah kantor konsultan arsitek; merasa telah cukup pengalaman, ia memutuskan membangun usaha sendiri.

Momentum bisnis


Yohan memberanikan diri membuka biro konsultan arsitek sendiri. Sayembara gereja GKI Anugrah di Jalan Protokol Bandung menjadi proyek pertama yang bisa dijadikan momentum bagi usahanya yang masih sangat awal. Bermodalkan hasil dari proyek ini, ditambah sisa gaji bulan terakhir jadilah modal usaha. "Uangnya tak lebih dari sejuta, tapi saya bertekad bulat mengakuisisi garasi orangtua sebagai kantor kerja saya," katanya. Itulah asal- muasal berdirinya biro konsultan arsitek, Genesis Architechs.

Ternyata tekat saja tidak cukup. Dalam setahun ternyata perusahaan kecil ini hanya menyelesaikan beberapa proyek desain rumah tinggal. Angkanya pun bisa dihitung dengan jari. Memang saat itu Yohan belum punya marketing plan, finansial maupun pengembangan usaha secara serius. "Dalam bayangan saya, proyek akan datang dengan sendirinya, wah ternyata itu hanya mimpi di siang bolong," katanya.

Kondisi yang tidak maju-maju, hampir putus asa, ia tergiur dengan cerita teman-temannya yang bekerja di Singapura. Mereka pulang membawa dolar segebok yang saat itu nilainya semakin berharga ketimbang nilai rupiah. Jadilah Yohan bersemangat hijrah ke Singapura, bermodal seadanya tanpa gambaran mau kerja apa.  Di Singapura dia mulai melamar door to door dari satu perusahaan ke perusahaan lain. Akhirnya ia diterima bekerja di sebuah konsultan lokal ACI Architech.

Kata mampan kini disandang seorang Yohan Tirtawijaya setelah bekerja lama menjadi arsitektur. Tapi usut punya usut usahanya masih bejalan yaitu usaha jasa konsultasi arsitektur.

Peluang bisnis di Indonesia


Pengalaman satu tahun membuka matanya bahwa Indonesia memiliki potensi lebih. Hanya berbekal hobi dan keterampilan mendesain saja ternyata tidak cukup untuk bisa membuka bisnis konsultan arsitek, namun juga harus dibekali kecerdas menjaring klien. Oleh sebab itu godaan terus saja datang di awal membangun usaha. Yohan sering hanya menerima uang pas-pasan karena ia lebih memprioritaskan untuk mmebayar karyawan. Melihat teman- teman sudah mapan, berpikir menjadi karyawan terkadang membuat Yohan berpikir ulang berbisnis.

Apakah jalan yang ditempuhnya sebagai wirausahawan sudah benar. Namun ia kemudian terus menguatkan tekad bahwa brand Genesis yang sudah dikibarkannya harus terus maju. Dimulailah pengembangan usaha dengan membuat sendiri produksi mebel serta konstruksi bangunan Ada sekitar tiga divisi usaha yang telah dikembangkan yaitu arsitek, interior, konstruksi, dan semuanya dipegang oleh orang yang kompeten. Dia bukan sekedar bicara saja tapi berkreasi.

Seperti usaha sang ayah yang jatuh bangun. Yohan tau betul rasanya itu. Ia pernah sekali menerima pesanan furnitur rumah dengan total nilai ratusan juta rupiah. Karena belum berpengalaman, proyek tersebut akhirnya selesai dalam waktu setahun yang ketika itu harga barang sudah naik semua. Kesempatan berkembang justru kala itu berubah jadi kekecewaan karena konsumen tak puas akan lamanya pengerjaan ditambah pula kualitas pengiriman. Ia pun sadar dirinya harus menuntut ilmu lagi.

Yohan melanjutkan studi S2 di Prasetya Mulya Bussiness School setiap malam. Targetnya adalah melengkapi ilmu dasar arsiteknya dengan kemampuan manajemen bisnis yang memadai. Dari benih yang ditabur, dia pun memanen hasil. Dari berbisnis dengan ilmu seadanya lalu ia terus sempurnakan, Genesis akhirnya berhasil untuk melebarkan sayap ke luar Bandung. Proyek yang dikerjakan pun meluas ke Palembang, Jabodetabek, Medan, Batam hingga Balikpapan, bahkan HongKong dan Malaysia.

Walau semakin maju usahanya namun Yohan tak lantas berpuas diri atas segala apa yang didapatkan. Dia menilai kesuksesan adalah seperti anak tangga. Jika sudah berhasil menaiki satu maka jangan lupa masih ada anak tangga lainnya yang juga harus dinaiki.

Sumber: Jawaban.com

Artikel Terbaru Kami