Jumat, 06 Juni 2014

Elang Gumilang Perumahan Rakyat Sehat


Biografi Elang Gumilang


Jika pengusaha lain memilih membangun perumahan mewah, tidak untuk pengusaha satu ini. Elang Gumilang, pemuda kelahiran Bogor, 6 April 1985 ini, melihat orang miskin layak memiliki perumahan murah tapi juga layak. Tidak hanya menyangkut harga murah, melalui Elang Group, fokus pada pembangunan perumahan sederhana sehat (RSH). Berayahkan seorang kontraktor sudah pasti mempengaruhi pilihannya. Dari bisnis biasa lalu berbisnis properti, tampaknya disinilah jalannya mengikuti jejak sang ayah.

Elang adalah anak pertama dari tiga saudara pasangan H. Enceh (55) dan Hj. Prianti (42). Dia terlahir dari keluarga yang lumayan berada, yaitu ayahnya yang seorang kontraktor, sedangkan untuk ibunya, beliau adalah ibu rumah tangga. Sejak kecil Elang kecil diajari bahwa segala sesuatu dapat diperoleh secara gratis, lebih tepatnya mengajarkan bahwa segala sesuatu harus ada perjuangan. Ditambah lagi dengan pemahaman tentang agama bahwa sesungguhnya rejeki datangnya dari Allah SWT, dia diajari untuk yakin akan do'a dan usaha.

Ketika duduk di bangkus sekolah dasar, dia dikenal sebagai anak yang pandai. Di sekolah dasar Pengadilan 4 Bogor, Elang kecil sering mengikuti berbagai perlombaan. Bahkan pernah mengalahkan anak SMP untuk perlombaan cerdas cermat. Karena kepintarannya ia menjadi murid kesayangan guru- gurunya. Di SMP, ia diterima di sekolah terfavorit di Bogor, dan selalu ranking satu. Pemuda kelahiran 6 April 1985 ini mengaku kesuksesan yang didapatnya bukan lah instan.

"Butuh proses dan kesabaran untuk mendapatkan semua ini, tidak ada sesuatu yang bisa dicapai secara instan," tegasnya. Jiwa wirausaha Elang mulai bergelora ketika memasuki kelas 3 SMA. Dia bertekat untuk mandiri, membiayai kuliahnya sendiri dan tak tergantung kepada orang tuanya. Ia memiliki target mendapat uang 10 juta dari usahanya untuk biaya kuliah nanti. Berjualan donat. Akhirnya tanpa sepengetahuan orang tua, ia memulai bisnis kecil- kecilan berjualan donat keliling.

Setiap hari ia mengambil 10 boks donat masing-masing berisi 12 buah dari pabrik donat untuk kemudian dijajakan ke Sekolah Dasar di Bogor. Ternyata lumayan juga hasilnya. Dari hasil jualannya ini, setiap hari Elang bisa meraup keuntungan sekitar Rp.50 ribu. Setelah beberapa bulan, rupanya kegiatan sembunyi-sembunya ini akhirnya tercium juga oleh kedua orang tuanya.

"Karena sudah dekat UAN, orang tua menyuruh saya untuk berhenti berjualan donat. Mereka khawatir kalau kegiatan saya ini mengganggu ujian akhir," jelas pria yang pernah menang lomba bahasa sunda tahun 2000 se- kabupaten Bogor ini.

Dilarang berjualan donat. Elang justru tertantang untuk mencari uang dengan cara lain yang tidak mengganggu sekolahnya. Suatu ketika di tahun 2003, ketika Fakultas Ekonomi dan Manajemen IPB mengadakan lomba Java Economic Competion se-Jawa, Elang mengikuti lomba tersebut dan menang. Begitu pula saat Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia (UI) menyelenggarakan kompetisi Ekonomi, Elang berhasil menjadi juara ke-tiga. Hadiah uang yang diperoleh dari setiap perlombaan ia gunakan sebagai modal kuliah.

Selepas lulus SMA, Elang memutuskan untuk melanjutkan kuliah di Fakultas Ekonomi IPB. Dia masuk tanpa mengikuti tes SPMB sebagaimana calon mahasiswa baru yang akan masuk perguruan tinggi negeri. Ini semua berkat pengalaman mengikuti lomba- lomba tersebut diatas, terutama lomba yang diselenggarakan oleh IPB sendiri. Swaktu awal masuk kuliah, Elang mendapat musibah hingga  Rp.10 jutanya tinggal Rp 1 juta. Namun Elang enggan memberitahu apa musibah yang dialaminya kepada kedua orang tuanya, padahal rencananya itu akan menjadi modal usaha.

Meski sekarang modalnya hanya 1 juta, Elang mengaku tetap semangat untuk berusaha. Uang modal 1 juta tersebut dibelikannya sepatu lalu dijual di Asrama Mahasiswa ITB. Uang Rp.1 juta, dalam tempo satu bulan, telah berubah menjadi Rp.3 jutaan. Tapi setelah berjalan beberapa tahun, orang yang menyuplai sepatunya entah kenapa mulai menguranginya kualitas sepatunya. Satu- per- satu pelanggan pergi, tak mau lagi membeli sepatu Elang. Sejak itu, ia memutuskan untuk tidak lagi berjualan sepatu lagi.

Bisnis Elang


Setelah tidak lagi berbisnis sepatu, dia justru kebingungan mencari bisnis apalagi. Pada awalnya, dengan sisa modal uang bisnis sepatu, rencanaya akan digunakan untuk bisnis ayam potong. Tapi, ketika akan terjun ke bisnis ayam potong, Elang justru melihat peluang bisnis pengadaan lampu di kampusnya. "Peluang bisnis lampu ini berawal ketika saya melihat banyak lampu di IPB yang redup. Saya fikir ini adalah peluang bisnis yang menggiurkan," jelasnya.

Karena tak punya modal berlebih, ia menerapkan strategi Ario Winarsis, atau bisnis tanpa modal. Arti Ario Winarsis sendiri adalah seorang pemuda miskin dari Amerika Latin. Awalanya dia (Ario Winarsis) yang mengetahui ada seorang pengusaha tembakau yang kaya raya di Amerika, setiap hari ketika pengusaha itu keluar rumah, dia selalu melambaikan tangan ke pengusaha itu. Pada awalnya pengusaha itu tidak memperdulikan si Ario ini.

Tapi karena ia selalu melambaikan tangan setiap hari, pengusaha tembakau itu menemuinya dan mengatakan, "Hai pemuda, kenapa kamu selalu melambaikan tangan setiap saya ke luar rumah?". Pemuda miskin itu lalu menjawab, "Saya punya tembakau kualitas bagus. Bapak tidak usah membayar dulu, yang penting saya dapat PO dulu dari Bapak." Pengusaha kaya itu lantas membuatkan tanda tangan dan stempel untuk pemuda itu.

Bermodal cuma satu stempel dan tanda tangan, pemuda tersebut lantas pulang dan mengumpulkan hasil tembakau di kampungnya untuk di jual ke si pengusaha kaya raya itu. Maka, jadilah pemuda itu orang kaya raya tanpa modal uang. Elang Gumilang, bermodal surat dari kampus, mencoba melobi perusahaan lampu Philips pusat untuk menyetok lampu. Dan, "Alhamdulillah proposal saya gol, dan setiap penjualan saya mendapat keuntungan Rp 15 juta,” ucapnya bangga.

Karena bisnis lampu ini bersifat musiman jadilah perputaran uang tidak teratur. Suatu ketika ada celah untuk dibisnis minyak goreng, caranya: setiap pagi sebelum kuliah, Elang akan membersihkan puluhan jerigen, kemudian diisi minyak goreng curah, dan dikirim ke warung-warung Pasar Anyar, serta Cimanggu, Bogor. Setelah selesai mengirim minyak, barulah ia pergi ke kampus. Sepulang kuliah, dia kembali untuk mengambil jerigen-jerigen di warung untuk diisi kembali esoknya.

Namun bisnis ini tidak berjalan baik terutama karena mengganggu kuliahnya. Bisnis minyak goreng yang membutuhkan 80% otot membuatnya kelelahan. Tak mau melanjutkan bisnis semacam ini, ia pun bergegas mencari jalan keluar. Kali ini Elang menggunakan otak mencoba mencari- cari cara dari orang lain. Elang segara berkonsultasi ke beberapa para pengusaha dan dosennya meminta sedikit wejangan. Dari hasil konsultasi, ia mendapat pencerahan bahwa berbisnis tidak harus selalu memakai otot, dan banyak jalan untuk berbisnis dengan otak.

Salah satu bisnis yang disarankan ialah membuka bisnis lembaga bahasa Inggris. Bagi mahasiswa Fakultas Ekonomi tentunya, bisnis lembaga bahasa Inggris sangat lah diperlukan. "Bisnis bahasa Inggris ini sangat prospektif apalagi di kampus, karena ke depan dunia semakin global dan mau tidak mau kita dituntut untuk bisa bahasa Inggris," jelasnya. Adapun modal, Elang memilih untuk berpatungan dengan kawan-kawannya.

Sebenarnya ia bisa membiayai usaha itu sendiri, tapi karena pegalaman saat jualan minyak, ia memutuskan untuk mengajak teman-temannya. Karena lembaga kursusnyanya ditangani secara profesional dengan tenaga pengajar dari lulusan luar negeri, pihak Fakultas Ekonomi mempercayakan lembaganya itu menjadi mitra. Karena di bisnis lembaga bahasa Inggris Elang tidak terlibat langsung dan hanya mengawasi saja, ia manfaatkan waktu luangnya untuk bekerja sebagai marketing perumahan.

"Saya di marketing tidak mendapat gaji bulanan, saya hanya mendapatkan komisi setiap mendapat konsumen," ujarnya.  Setelah berbisnis lembaga asing, Elang masih mencari- cari bisnis apa lagi yang bisa dijalankan dengan otak bukan otot.

Perumahan rakyat


Ada ketidak tenangan dalam langkah seorang Elang Gumilang atas bisnis- bisnisnya. Padahal jika dilihat ia telah berusaha maksimal tapi hasilnya selalu kegagalan demi kegagalan. Sesuatu dirasakan salah hingga hati membawanya kembali kepada Tuhan, Allah SWT. Ia merenung selama ini, disepanjang jalan bisnisnya, tidak ada rasa syukur terucap. Setelah pengalaman itu ia selalu bersyukur jika menemukan kemudahan atas usaha, dan tak lagi berhenti berdoa ketika mencari jalan di saat kesusahan.

Mau bisnis apalagi? Elang mulai shalat istikharah minta ditunjukkan jalan bisnisnya. "Setelah shalat istikharah, dalam tidur saya bermimpi melihat sebuah bangunan yang sangat megah dan indah di Manhattan City, lalu saya bertanya kepada orang, siapa sih yang membuat bangunan megah ini? Lalu orang itu menjawab singkat, "Bukannya kamu yang membuat?" Setelah itu Elang terbangun dan merenungi maksud mimpi tersebut. "Saya pun kemudian memberanikan diri untuk masuk ke dunia properti," ujarnya.

Pengalaman di dunia marketing cukup membantunya terutama menjadi marketing perumahan. Inilah jalannya masuk ke dunia properti. Awal tahun 2005, ia masih menjadi mahasiswa IPB, dibelilah sepetak tanah untuk rumah pertamanya. Modalnya dari patungan bersama teman-teman semasa SMA nya dan kuliahnya. Rumah sederhana berukuran 22 meter persegi dengan luas tanah 60 meter persegi itu langsung laku ketika selesai dibangun.

Terbukti orang hanya perlu rumah murah seharga 25 jutaan, harga yang bagi sebagian kalangan menengah keatas tak akan cukup untuk membeli sebuah tas bermerk namun sangat dibutuhkan oleh kalangan bawah. Dari sini, pola pikir membangun untuk kalangan bawah muncul, bisnis properti tidak lagi tentang membangun rumah mewah. Bisnis ini hanya membutuhkan 7 orang untuk mengurus administrasi hingga pemasaran rumah. Namun lambat laun, bisnisnya ini berakar dan menggeliat hingga tumbuh.

Dari cuma satu unit bertambah hingga tiga unit, bertambah terus hingga mencapai 200 an rumah dibangunnya. Elang pun mulai percaya diri, mengikuti berbagai tender untuk membangun properti. Tender pertama yang sukses ia menangi Rp 162 juta di Jakarta yaitu membangun sebuah Sekolah Dasar di daerah Jakarta Barat. Sukses menangani sekolah membuat Elang percaya diri untuk mengikuti tender-tender yang lebih besar. Ia kemudian mendapatkan tender untuk membangun perumahan.

Prinsip bisnisnya menarik jika kebanyakan kontraktor memilih perumahan mewah , tidak untuk seorang Elang Gumilang. Prinsipnya di Indonesia ada 70 juta rakyat yang masih belum memiliki rumah. Apalagi rumah juga merupakan kebutuhan yang sangat primer. "Banyak orang di Indonesia terutama yang tinggal di kota belum punya rumah, padahal mereka sudah berumur 60 tahun, biasanya kendala mereka karena DP yang kemahalan, cicilan kemahalan, jadi sampai sekarang mereka belum berani untuk memiliki rumah," jelasnya lagi.

Bagi Elang sendiri, kalau mau kenal orang maka kenalilah 10 orang terkaya di Indonesia dan juga kenal 10 orang termiskin di Indonesia. Mengenal keduanya akan membuat anda rela melakukan sesuatu untuk mereka yang miskin. Jadi jika kamu mau mengenal lebih banyak orang miskin yang kemudian kaya; ikutilah blog ini selalu tambahan dari kami. :)

Biodata


Nama : Elang Gumilang
Kelahiran : Bogor, 06 April 1985
Pendidikan : S1  Fakultas Ekonomi dan Manajemen,  IPB.
Jabatan : CEO Elang Group
Website: elanggroup.co.id

Penghargaan :

1. Pemenang I Wirausaha Muda Mandiri (2007)
2. Top Youth Entrepreneur versi Warta Ekonomi ( 2008)
3. Man of the Year 2008 versi Group Jawa Pos
4. Pemuda Pilihan 2008 Versi TV One
5. Juara Lelaki Sejati Pengobar Inpirasi 2009 versi Bentoel
6. Tokoh Pilihan Majalah Tempo (2009)
7 Penghargaan Ernst & Young Indonesian Entrepreneur Of The Year 2010
8. Pemuda Andalan Nusantara (2010)
Kiat Sukses :

1. Memilih usaha yang kita kuasai terlebih dulu.
2. Niat pelayanan. Setelah kita memberikan pelayanan yang baik, profit nantinya akan mengikuti.
3. Berusaha dengan baik.  Usaha yang dilakukan harus benar, baik dari cara strategi pemasarannya, promosi, menjalankan usaha dan sebagainya.
4. Antara niat dan usaha harus jalan beriringan.
Dari bisnis donat  sampai real estate

Jiwa kewirausahaan  sulung  dari tiga bersaudara pasangan H. Misbach dan Hj. Priyanti ini, tidak didapat secara instan tapi  merupakan buah dari pergulatan hidupnya, berikut garis besar perjalanan bisnisnya:

1. Saat bersekolah di SMAN 1 Bogor, setiap hari berkeliling menjual 10 boks donat (satu boks isi 12 donat) ke beberapa SD.  Keuntungannya Rp 50.000./hari
2. Tahun 2003 menang kompetisi ekonomi di IPB dan UI. Sambil  kuliah berjualan sepatu ke asrama-asrama mahasiswa IPB. Omzet Rp 3 juta/bulan. Namun usaha itu tidak berlangsung lama. Kualitas sepatu yang dijualnya menurun, mengakibatkan pesanan merosot.
3. Bermodal  surat dari kampus, mengajukan proposal ke  Philips untuk menyuplai  lampu ke kampusnya. Setiap penjualan lampu, Elang untung Rp 15 juta. Namun karena sifatnya insidental dan perputaran uangnya lambat, ia tidak meneruskan usaha ini.
4. Berikutnya mencoba berjualan minyak goreng. Namun lantaran kecapean setiap pagi  harus mengantar minyak goreng ke warung-warung, kuliahnya terganggu.
5. Merintis usaha kursus bahasa Inggris English Avenue, di kampusnya dengan modal Rp 21 juta hasil patungan bersama teman-temannya. Ia tidak turun langsung, hanya mengawasi saja.
6. Bekerja sebagai sales marketing perumahan dengan sistem  komisi dari setiap rumah yang terjual. Pengalaman sebagai  marketing perumahan inilah yang mengantarnya menjadi pengusaha sukses di bidang properti seperti sekarang ini.

Artikel Terbaru Kami