Rabu, 18 Juni 2014

Bisnis Warnet Gue Biografi Salman Aziz Alsfadi


Biografi Salman Aziz Alsfadi

 
Cukup bermodal berusaha dan kreatifitas, bukan uang. Hal itulah yang telah dibuktikan seorang Salman Aziz Alsfadi. Dimulai dari bisnis nasi goreng dan buku foto kopian, bisnis Salman berkembang ke mana- mana. Seolah menemukan feeling" -nya aneka bisnis kemudian dilakoni. Sebut saja bisnis penyewaan komputer, toko foto, laundry, bahkan usaha salon. Modalnya bukan uang, melainkan kejelian dan kemampuan untuk membaca peluang. Tak percaya? Berikut cerita sang pengusaha muda yang kreatif dimanapun.

Bisnis pertama


Begini kisahnya. Suatu hari di tahun 2003, sebagai siswa SMU Insan Cendekia sekolah berasrama (boarding school) di Serpong, Salman dan kawan-kawan tak jarang merasa bosan akan menu makanan di asrama. Mau mencoba makanan lain tidak bisa, tidak ada kantin yang menjual jajanan untuk mereka. Semuanya telah tersedia dan monoton. Keadaan inilah justru menggelitik naluri bisnis Salman.

la menanyakan siapa saja yang ingin membeli makanan di luar asrama, lalu bersama dua rekannya,  ia naik sepeda 3 km mencari tukang nasi goreng yang murah dan enak, dan menjualnya lagi kepada pemesan tadi. Usaha yang tidak membutuhkan modal sama sekali saat itu. Tentu untungnya sedikit tapi tetap dilakukannya. Dia membeli nasi goreng di luar kemudian dijual untuk mereka yang di asrama. Wajah Salman menerawang ketika cerita ini dibuat, namun bibirnya menyungging senyum.

"Saya mengingat peristiwa itu seolah seperti baru kemarin," katanya.

Salman terobsesi menjadi wirausahawan. Itu semua gara- gara buku, ketika masih duduk di bangku SMU, bapaknya membelikan dia buku berjudul Rich Dad Poor Dad, karya fenomenal dari Robert T. Kiyosaki. Ia mengaku menemukan pilihan hidup yang sangat menarik karena buku itu; pilihan untuk menjadi pengusaha. "Sebagai manusia saya tidak ingin untuk mengikuti arah arus yang ditetapkan sejumlah orang. Saya ingin menciptakan arus itu sendiri," ujarnya.

Tamat berasrama, pria kelahiran 11 Februari 1986 ini tak lantas langsung berbisnis, ia memilih berkuliah terlebih dahulu di Fakultas Ilmu Komputer (Fasilkom) UL. Melihat buku- buku di Fasilkom yang be­gitu besar dan tebal, serta jumlah mahasiswanya yang mencapai ratusan, muncul gagasan berjualan foto kopian buku. Untuk berbisnis buku foto kopian ini ia membagikan selem­bar kertas kepada teman-temannya sesama mahsiswa. Isinya, "Bagi yang ingin pesan buku foto kopian silakan tulis di sini." begitu singkat.

Karena jumlah mahasiswa Fasilkom tiap angkatannya cukup besar, jumlah yang memesan buku foto kopian ini cukup ba­nyak. Uang muka pesanan pun menjadi modal Salman untuk membeli buku aslinya, lalu di foto kopi. Mudah kan? Pembayaran kepada tukang foto kopi akan dilaku­kan secara mencicil, seiring dengan pelunasan biaya buku foto kopian oleh teman- temannya. Memang sedikit repot tapi nyatanya hasilnya itu lumayan.

"Sebagai manusia saya tidak ingin mengikuti arah arus yang ditetapkan sejumlah orang. Saya ingin menciptakan arus itu sendiri." kata Salman.

Salman tak pernah berhenti mencari peluang baru. Ia kala itu melihat kesempatan lagi, mahasiswa Fasikom membutuhkan komputer, jadilah ide bisnis baru muncul. Mahasiswa kala itu membutuhkan adanya komputer untuk mengerjakan berbagai tugas kuliah. Kala itu, di tahun 2004, belum ada toko komputer yang menjual komputer murah bermerek. Yang ada hanyalah komputer rakitan, dan itu pun dijual di glodok. Lebih repot lagi karena pembeli harus beli secara tunai dan itu memberatkan mahasiswa.

Di semester 2 itulah bisnis komputernya mulai dijalankan. Dia mulai menjual komputer rakitan murah sendiri yang dibelinya di pasar Glodok. Kemudian dibuatlah selebaran- selebaran foto kopian yang disebar hingga ke kampus UI, halte- halte bis, dan fakultas- fakultas di lingkungan UI yang bunyinya jual komputer murah. "Sebelumnya, hampir setiap Minggu saya berkeliling Glodok mencari toko yang menjual komputer dengan harga paling murah," kenangnya.

Ketika pesanan itu datang ia tinggal menelpon toko lalu menyampaikan spesifikasi yang dibutuhkan agar segera dirakit, lalu diambilnya ke Glodok.

Bisnis warnet


Keunggulan seorang Salman untuk merubah masalah menjadi kesempatan memang benar adanya. Di jaman sekarang internet sangatlah dibutuhkan dan jadilah ini kesempatan baik baginya. Sukses berbisnis komputer Salman tertarik bisnis internet tepatnya warung internet atau warnet. Ia mengajukan permintaan agar satu ruangan di asrama dijadikan warnet, usulan itu pun diterima. Nah, masalahnya kini ada pada permodalan dan modal membuka warnet tidaklah sedikit.

Biayanya sekitar Rp.34 juta, uang tersebut didapat dari pinjaman sebesar 19 juta dan sisanya Salman sendiri yang tanggung sekitar 19 juta lagi.  Salman sendiri, "Tetapi waktu itu saya hanya punya 9 juta dari hasil usaha yang dulu. Yang 10 juta belum tahu harus dari mana," kenangnya lagi. Ia kemudian menyampaikan hal ini pada orang tuanya. Gayung pun bersambut, untunglah orangtua Salman sangat mendukung pola berfikir Salmann yang ingin wirausaha.

Sukses membuka warnet tersebut, dengan melakukan hal ini, ia mendapatkan efek ganda. Apa itu? Pertama, ia mendapatkan uang yang dibutuhkannya untuk modal dan kedua itu akan memotivasinya untuk berusaha secara habis-habisan. Tentu dengan maksud menutup modal yang dipinjam; dia harus sukses begitulah kiranya. "Kalau saya gagal saya akan kelaparan, maka saya tak boleh gagal," tegas Salman. Warnet ini kemudian diberi nama Warnet Gue dengan harapan pelanggan merasa memiliki dan terus mengunjunginya.

Pelanggan warnetnya tentulah mahasiswa sekitar sana. Salman melakukan promosi luar biasa diluar kampus dengan meletakkan berbagai brosur di halte bus dan fakultas-fakultas lain. Tujuannya agar warnet tersebut tidak hanya digunakan mahasiswa sekitar saja. Sukses di asrama di universitas UI, ia melebarkan sayap ke luar wilayah kampus. Dia membuka dua gerai baru Warnet Gue. Pada 2006, Warnet Gue membuka gerai di dua di sekitar stasiun Universitas Pancasila.

Rupanya ini tak disukai pesaingnya, ada usaha terntu untuk menjegal bisnis Salman. Mereka tidak suka ketika Salman menjual servis printing 300 per- lembar sedangkan mereka menjual 400 per lembar. "Saya menolak mengikuti kemauan mereka untuk menaikkan harga," katanya. Ternyata penolakan ini berbuntut panjang. Di malam harinya warnetnya didatangi 10 preman berclurit. Saat itu kebetulan Salman tak ada ditempat. Tapi setelah mendengar hal itu ia langsung bergegas kesana.

Ternyata para preman sudah raib, Salman langsung mengadukan hal ini ke pak RT. Seketika itu pak RT mengumpulkan seluruh pengusaha warnet untuk menyelesaikan masalah. Para pesaingnya menuntut Salman menyamakan harga. Akhirnya, Salman menurut juga, "Saya sekarang percaya orang bisa bunuh-bunuhan gara-gara uang seratus perak," katanya. Warnet cabang kedua ini tak berjalan mulus. Berbagai teror dan percobaan perampokan juga kerap terjadi sana.

Terpaksa ia menutup gerai kedua ini. Namun hal ini tak membuat Salman jera. Ia terus melebarkan sayapnya dengan membuka cabang-cabang lainnya seperti di Serpong, Pamulang, Ciputat dan lainnya yang semuanya masih wilayah Tangerang. Dalam waktu dekat ia pun akan merambah ke desain web, servis computer dan akan membuat pelatihan ilmu teknologi informasi.  Baginya berbisnis itu layaknya berpetualang di laut lepas mencari harta karun. Itu membuat diirnya selalu ingin coba-coba dan bereksperimen kapan saja.

Banyak diantara percobaan itu gagal dan tidak dilanjutkan namun itu tak masalah baginya. Yang terpenting Salman belajar banyak. Namun kini ia telah menemukan bisnis yang jadi inti, yaitu ada di bidang teknologi informasi. Disisinya ada visi dan misi kuat tentang bagaimana selanjutnya itulah ia masih bisa optimis ketika terjadi masalah.

Sumber: wirasmada.blogspot.com

Artikel Terbaru Kami