Kamis, 05 Juni 2014

Bisnis Properti Australia Cerita Iwan Sunito

Profil Pengusaha Iwan Sunito



Sering tidak naik kelas bukan berarti tak mampu. Seorang Iwan Sunito mengakui menjadi orang bodoh itu membosankan. Meski pernah tidak kelas di SMA, kini, ia adalah salah satu pengusaha keturunan Indonesia yang berprestasi. Meski telah menjadi warga negara Australia Iwan masih aktif menjadi pembicara untuk mereka para pengusaha muda Indonesia. Dia dikenal sebagai CEO Crown International Holding Group, perusahaan properti besar di Australia.

Ia menyebut hidupnya "fortunate life", keberuntung sekali. Dari Surabaya, lahir disana kemudian tinggal di Kalimantan, di sebuah rumah kayu sederhana. Pengalaman Indah. Baginya berenang di sungai yang dalam, adem, yang ada buayanya. Pengalaman malam- malam mencari udang bermodal tombak. Pengalaman indah berlari- lari di hutan Kalimantan, baginya semuanya adalah sebuah keberuntungan. Ya, Iwan tentunya kini tak akan merasakan hal itu lagi. Hidupnya tentang bersyukur dulu dan sekarang.

Bisnis berkesan


"Rain forest. Kalimantan Tengah. Pangkalan Bun, it's really beautiful," ujarnya. Menjadi pengusaha ternyata sudah menjadi impian pria yang dikenal sebagai "Raja Properti Sydney". Ibunya hanya seorang pengusaha kecil begitu pula ayahnya. Namun pengalaman melihat mereka, terutama sang ibu, merintis bisnis dari bawah dan bagaimana menawarkan kue- kue tersebut memberikan kesan tersendiri. Hanya bisnis kue kecil- kecilan tapi kesannya mampu membangkitkan semangat Iwan.

Meski sekolah berantakan sejak SD, SMP, sampai SMA, ia mengaku bukan orang bodoh. Mungkin karena lingkungan yang tidak mendukung. Atau, gurunya yang tidak baik ucapnya bercanda disela- sela wawancara dengan Vivanews. Iwan menirukan bagaimana dia dan kawan- kawanya selalu menyalahkan guru. Mereka bukanlah achiever lugasanya, selalu menyalahkan guru atas nilai- nilai jelek mereka. "Wah gurunya sentimen sama saya, kalau saya tidak naik kelas," tirunya.

Tidak pernah lulus dan harus mengulang satu tahun lagi, nilai Iwan semakin baik. Setelah pindah ke Australia ada tekat tersendiri dalam dirinya. Tekat untuk berubah. Buktinya ia sukses bersekolah di Australia dengan segala perbedaan kultur, ijasahnya Australia. Orang tua Iwan sendiri yang mengirim pura- putranya ke Australia untuk bersekolah meski harus bersusah payah. Singkatnya Iwan berangkat sendiri ke Australia menyusul kakaknya, sedangkan orang tuanya ada di Indonesia masih bisnis kecil- kecilan.

Di Australia Iwan memborong dua gelar sekaligus, serjana arsitektur dan master manajemen konstruksi. Dua gelar yang bermanfaat untuk mendukung bisnisnya kelak. Setelah lulus kuliah ia tak langsung memasang tarif, justru rela mengerjakan tanpa upah. Dia pun mau mengerjakan proyek- proyek kecil. Sambil mengambil gelar master manajemen konstruksi ia sibuk mengerjakan beberapa rumah.

"Sambil mendengarkan pengajar, saya tahu bagaimana practical prosess-nya. Kebanyakan student-student lain hanya dengar, tetapi nggak tahu di mana konteksnya. Saya dengar, saya menangkapnya lebih cepat," terangnya.

Iwan bekerja di sebuah perusahaan arsitek selama enam bulan. Bukan perusahaan biasa karena perusahaan itu pernah membangun konstruksi untuk Olympic 2000. "Saya kerjanya menggambar. Setelah enam bulan, saya nggak bisa berdedikasi, saya keluar. Setelah itu, saya mengambil master," jelasnya. Di tahun 1994, barulah dia membuka bisnis sendiri yaitu bisnis arsitektur. Mulai dari satu bisnis itulah bisnis Crown Group berdiri, dari satu usaha bergabung dengan grup usaha lainnya.

(lihat wawancaranya di Vivanews)

Artikel Terbaru Kami