Minggu, 11 Mei 2014

Tas Gendhis Asli Indonesia untuk Indonesia


Profil Ferry  Yuliana


Tas Gendhis terbuat dari berbagai bahan tanaman. Produknya khas Indonesia dibuat secara anyam. Tidak hanya menghasilkan jutaan rupiah tapi keuntungan bagi para petaninya. Dia lah Drg. Ferry Yuliana atau Ferry Yuliana, atau disapa Lia, berfokus pada bisnis berbasis nasional. Sementara perusahaan- perusahaan tas alam memilih ekspor, dia memilih fokus pada pasar lokal 100%. Dia adalah pelopor beridirinya tas Gendhis, tas yang terbuat dari anyaman tanaman mendhong, rotan atau pun enceng gondok.

Ketika nanti anda berkunjuang di halaman Facebook milik Gendhis Bag, anda akan disuguhi foto beraneka ragam tas. Tidak hanya beraneka warna tapi beraneka bentuk menarik. Dari bentuk, mungkin seperti produk buatan luar negeri, tepi ternyata itu tas rotan yang telah dianyam. Menakjubkan. Lia memiliki mimpi untuk memasarkan produk- produk asli Indonesia. Ini jadi alasan dirinya terjuan di dunia bisnis. Ia memiliki dasar idealis dimana bahan dan warna musti berasal dari bahan lokal dan alami.

Ia juga memberdayakan petani lokal untuk bahan baku rotan. Jika dicermati usaha miliknya yang berbahan baku eceng gondok, rotan, atau mendhong sangatlah membantu. Bahan tersebut dibelinya secara langsung dari para petani. "Dengan sentuhan kreativitas tinggi, kami menyulap tanaman tersebut menjadi tas-tas bernilai jual tinggi. Dampaknya, penghasilan petani pun bertambah," begitu ujarnya. Menjadi satu berkah tersendiri ketika tas Gendhis laris dipasaran.

Tentu semakin banyak pula bahan baku yang harus dibeli Lia guna membuat produknya.

Bisnis otodidak


Lia meyakinkan produk miliknya 70% bahan alami. Keprihatinan dirinya akan petani rotan nampak dari ceritanya. Dia tak tega ketika malihat rotan dihargai rendah. Dari sedikit kratifitas jadilah tas anyaman rotan yang cantik, tak kalah dengan produk luar. "Mereka lebih memilih mencari karet atau emas yang pendapatannya lebih menggiurkan," begitu lanjutnya. Oleh karena itu Lia berusaha untuk membeli bahan baku langsung dari mereka agar mereka bersemangat dalam menanam tanaman anyam terutama rotan.

Seorang dokter gigi yang masih aktif mendapatkan kemampuannya secara otodidak. Lia tak pernah belajar khusus untuk bisnisnya ini. Ketika kecil ia sering membuat prakarya. Ini pula menjadi landasan kreatifitas seorang Drg. Ferry Yuliana. Selain sibuk berbisnis, ia sibuk mengajarkan para ibu- ibu PKK. Kebetulan bahwa memang produk buatannya menggunakan bahan yang mudah dibudiayakan. Jadi anda bisa membuat tas anyaman dimana dan kapan saja.

"Tujuan pertama kami adalah Kalimantan, karena bahan rotan berasal dari sana. Kami mengajarkan tentang pola anyam, cara mewarnai dengan bahan alami, cara mendesain dan mengemas, sampai cara membuat display produk," Begitu katanya.

Lia mulai melatih para petani untuk menganyam sehingga mereka bisa menganyam rotan yang dihasilkan menjadi bahan setengah jadi, dan ia bersedia membelinya. Tentu harganya akan berbeda ini juga menambah produknya cepat diproduksi. Produksi Lia sudah menembus manca negara bahkan ia sudah membranding produknya dengan nama "Tas Gendhis". Selain tas, Lia juga memproduksi bagasi serta dompet.

Karena jasanya melestarikan alam Indonesia, ia dianugrahi penghargaan oleh President Indonesia Susilo Bambang Yudhoyono. Penghargaan yang didapat karena ikut melestarikan rotan. Usahanya untuk manyasar produk berbasis tradisional memang bisa diacungi jempol, tapi selalu ada saja masalah. Kini Lia masih terus berjuang disisi lain berhadapat dengan produk palsu yang menggunakan mereknya.

Gendhis palsu


Adanya produk palsu dengan mereknya di pasaran justru membuat Lia semakin berkreasi. Lia membuat produk- produk limited editions. Selain produk palsu ada pula perusahaan sejenis tumbuh. Mereka, sekitar 7 perusahaan, dua perusahaan bersekala besar dan sisanya sedang. Yang beda dari Gandhis, mereka justru berbondong- bondong memenuhi ekspor, tapi tidak untuk Lia. Bagi dirinya yang terpenting konsep yang sejak awal diusung usahanya membantu para petani.

"Yang membuat saya tergerak adalah tas natural dipandang sebelah mata oleh masyarakat kita sendiri. Saya jadi paham mengapa para perajin tas memilih bermain di pasar ekspor. Konsumen luar negeri lebih menghargai dan menyukai tas natural," kata Ferry, yang baru menggarap pasar ekspor pada tahun kedua, itu pun hanya 20%.

Memilih pasar lokal membuat tas Gendhi punya masalahnya sendiri. Disini justru produknya disepelekan dan butuh edukasi untuk pasar di setiap marketingnya. Bahkan ada orang yang menyebut tasnya hanya tas pasar atau tas anyaman. Ini betul membuatnya ingin menangis. Dengan sabar ditambah kreatifitas, ia kemudian mencoba menjelaskan produknya dari segi desain dan jenisnya. "Apalagi, saya mengerjakannya dengan hati, karena memang sangat menyukai tas natural," kata Lia, yang gemar mengutak-atik aksesori.

Ketika pertama kali diluncurkan, Gendhis Natural Bag dijual seharga Rp75.000 – Rp125.000. Padahal, harga tas di pasar hanya seperempatnya. "Bisa dibayangkan respons yang kami terima. ‘Wah... kok, mahal sekali? Di pasar hanya Rp20.000. Bahannya sama, ya. Ini lebih bagus sedikit, tapi harganya sampai 5 kali lipat.’ Karena itulah, saya harus menjelaskan kepada calon konsumen, satu per satu," ungkapnya. Ia pun langsung menjelaskan lagi seperti apa produknya.

Akhirnya justru banyak konsumen yang tak hanya menjadi pelanggan setia, bahkan seolah menjadi bagian dari bisnis Gendhis. Kalau ada pemain baru yang meniru produk Gendhis, merekalah yang justru berdiri di garda depan, tak segan-segan melabrak. Namun, angin kencang belum berhenti bertiup. Masa-masa yang berat dilalui Lia, usahanya kehilangan 90% karyawannya pergi, hijrah ke perusahaan kompetitor. Yang tersisa hanya Ferry dan suami, serta 3 pegawai.

"Padahal, kami sedang mendapat banyak pesanan  dari Jepang. Antara panik dan shocked, saya mencari pegawai pengganti. Untunglah, dalam waktu satu minggu, pos-pos yang kosong itu terisi. Kejadian ini memberi saya pelajaran berharga: kami harus introspeksi diri," tutur Ferry, yang mengungkapkan bahwa setahun setelah kejadian itu, penjualannya justru meroket 3 kali lipat.

Artikel Terbaru Kami